Inti belas kasih adalah kesediaan untuk membuka diri pada kesengsaraan orang lain dan membebaskan kehidupan manusia dari mata rantai kesengsaraan.
24 Apr 2025 06:00 WIB · Opini
Di tengah persaingan dunia yang penuh konflik dan kemanusiaan yang compang-camping, Paus Fransiskus mewariskan prinsip belas kasih sebagai kompas moral kita dalam menata kembali dunia dan Indonesia yang lebih baik.
Paus Fransiskus dicintai karena belas kasihnya yang tulus pada persaudaraan kemanusiaan yang universal. Ia tak sekadar fasih dalam mengajarkan belas kasih yang bersemayam dalam ajaran Yesus, komunitas Kristen awal, dan doktrin sosial Gereja. ”Pesan Yesus adalah belas kasih. Bagi saya dan saya katakan ini dengan rendah hati, belas kasih adalah pesan Tuhan yang paling kuat,” kata Paus dalam The Name of God is Mercy (2016).
Paus pun menghadirkan ajaran belas kasih Yesus dalam penghormatan pada kemuliaan martabat manusia. Penghayatan Paus tentang Tuhan yang Maha Belas Kasih, menurut Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo (2024), mengalami transformasi pribadi dengan penghormatannya pada martabat manusia yang mulia.
Sebagai pesan Tuhan yang paling kuat, belas kasih juga disampaikan Paus dalam surat pribadinya kepada Kardinal Suharyo, 1 September 2019. Paus menegaskan bahwa ”dengan diangkat menjadi kardinal tidak berarti saya diangkat ke jenjang yang lebih tinggi. Dari seorang kardinal dituntut kepatuhan dan kesetiaan usque ad effusionem sanguinis—artinya, kepatuhan dan kesetiaan sampai menumpahkan darah—yang dilambangkan oleh sabuk merah seorang kardinal”.
Kita pun seyogianya meneladankan dan membumikan ajaran belas kasih Paus dalam konteks kebutuhan bangsa ini untuk memperbarui etos agama dan politik demi kejayaan Indonesia Raya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/85909e60-901b-4624-a91e-694bca3a7233_jpg.jpg)
Pada alinea terakhir surat itu, Paus Fransiskus menitipkan pesan belas kasih kepada Kardinal Suharyo: ”Ketika saya memikirkan Anda semua, terlintas satu kata dalam hati saya, compassion. Semoga pada tahap hidup Anda yang baru ini, Anda bertumbuh dalam kemampuan untuk berbelarasa dan membuat Anda mampu mengikuti Yesus lebih dekat (Matius 9:36; 14:14; Lukas 7:13).”
Paus dan Kardinal Suharyo mengikuti keteladanan Yesus sebagai Allah yang berbelas kasih, tanpa batas. Belas kasih Tuhan, kata Kardinal Suharyo, menjangkau setiap orang dan seluruh alam semesta.
Dalam menyambut kehadiran Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024, Kardinal Suharyo melukiskan penghayatan Paus tentang belas kasih Yesus: ”Allah yang kerahiman-Nya tanpa batas itu adalah juga Allah yang berbelarasa dan menghendaki agar orang-orang yang percaya kepada-Nya bertumbuh dalam belarasa. Dinamika ini amat jelas dalam Injil: ke mana pun Yesus pergi dan berjumpa dengan berbagai penderitaan manusia, hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan (berbelarasa, Lukas 7:13). Yesus yang hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan (berbelarasa) menyatakan wajah Allah yang hati-Nya juga tergerak oleh belas kasihan (berbelarasa).”
Kita pun seyogianya meneladankan dan membumikan ajaran belas kasih Paus dalam konteks kebutuhan bangsa ini untuk memperbarui etos agama dan politik demi kejayaan Indonesia Raya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/23/c37fd5b8-0358-463f-a153-b0339f7acbee_png.png)
Keteladanan Paus dalam menghadirkan belas kasih dalam kehidupan keagamaan mestinya menyadarkan para pemimpin kita bahwa Indonesia didirikan sebagai negara ketuhanan yang kekal dan abadi berdasarkan Pancasila—sesuai pesan Bung Karno—dan bahwa prinsip ketuhanan yang penuh belas kasih harus menyinari etika penyelenggaraan kehidupan berbangsa, sesuai pesan Bung Hatta.
Pesan dua proklamator itu seperti diingatkan kembali melalui keteladanan Paus dalam mengamalkan apa yang ia ajarkan tentang belas kasih. Pengamalan ketuhanan yang benar harus diwujudkan dalam etika penyelenggaraan kehidupan berbangsa yang bersih, terbebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme di satu sisi dan etika kehidupan keagamaan yang penuh belas kasih pada sesama manusia di sisi lain.
Namun, kita harus mengakui kenyataan pahit bahwa para pemimpin bangsa belum sepenuhnya menegakkan etika kehidupan berbangsa. Dalam Twelve Steps to a Compassionate Life (2010), Karen Armstrong mengakui juga kegagalan sebagian pemimpin agama yang berperilaku seperti politisi sekuler: ”We acknowledge that we have failed to live compassionately and that some have even increased the sum of human misery in the name of religion.”
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/04/c1179981-cb27-41ee-b102-6ef4cc490ada_jpg.jpg)
Keteladanan belas kasih Paus Fransiskus seyogianya mengetuk kesadaran nurani para pemimpin bangsa untuk merasakan penderitaan rakyat sebagai bagian dari penderitaan mereka. Sebab, inti belas kasih adalah kesediaan untuk membuka diri pada kesengsaraan orang lain dan membebaskan kehidupan manusia dari mata rantai kesengsaraan.
Di Republik Indonesia yang timpang dengan akumulasi kekayaan hanya dikuasai oleh sekitar segelintir elite pemimpin dan kaum kapital, Paus menghadirkan belas kasih sebagai kompas moral bagi para pemimpin untuk memprioritaskan kesejahteraan rakyat daripada kepentingan diri sendiri. ”Apakah Anda dalam posisi memegang kekuasaan? Jadilah suci dengan bekerja demi terwujudnya kebaikan dan kesejahteraan bersama dan tidak untuk keuntungan diri sendiri,” demikian pesan Paus Fransiskus yang disampaikan Kardinal Suharyo (2024).
Pesan Paus Fransiskus ini menjadi pengingat kebaikan bersama bahwa para pemimpin bangsa harus memulai jalan politik baru dalam pelayanan publik di pemerintahan, dengan bekerja sepenuhnya untuk keselamatan negara dan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri.
Penulis:
SukidiEditor:
Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar