Paus Fransiskus dikenal memilih untuk hidup sederhana ketimbang kemewahan. Ia terbuka terhadap perbedaan dan terus mendorong perdamaian di Gaza.
22 Apr 2025 06:54 WIB · Internasional
Paus Fransiskus mengembuskan napas terakhir pada Senin, 21 April 2025, di Vatikan, pukul 07.35 waktu setempat. Pengumuman kepergiannya disampaikan resmi oleh Kardinal Kevin Farrell, Prelatus atau Camerlengo Gereja Katolik Roma, melalui saluran TV Vatikan. Dalam prosesi yang mengikuti tradisi, cincin dan segel kepausan Paus Fransiskus dicopot serta dipotong untuk memastikan keduanya tidak dapat digunakan kembali, lalu kamar paus disegel dari luar sebagai bagian dari persiapan masa berkabung.
Di Indonesia, sejumlah tokoh nasional mengungkapkan dukacita yang mendalam. Mereka, antara lain, adalah Presiden Prabowo Subianto, yang melalui unggahan di media sosial pada Senin petang, menyatakan ”dengan rasa duka yang mendalam, saya menerima kabar mangkatnya Paus Fransiskus.” Prabowo mengenang kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta pada September 2024 sebagai momen yang penuh inspirasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/aaefc3ef85dbf02e347af402c8876b91-WhatsApp_Image_2025_04_21_at_21.34.51.jpeg)
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka lewat akun Instagram @gibran_rakabuming menyebut Paus Fransiskus sebagai ”pemimpin spiritual yang lembut, penuh kasih, dan teguh dalam menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan”.
Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, dalam surat resmi kepada Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia, Piero Pioppo, menyampaikan ”dukacita yang mendalam atas wafatnya Paus Fransiskus” dan mengenang pertemuan pribadi pada Februari 2025 ketika membahas nilai-nilai Pancasila dengan Paus.
Paus Fransiskus lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina, pada 17 Desember 1936. Ia berasal dari keluarga Katolik sederhana. Ayahnya adalah pegawai jawatan kereta api asal Italia, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Saat berusia 17 tahun, Bergoglio merasakan dorongan spiritual yang mendalam. Ia menghentikan rencana perayaan Hari Musim Semi untuk berziarah ke gereja San Jose de Flores, mengaku dosa, dan merasakan ”kehadiran Tuhan yang penuh kasih”.
Ia ditahbiskan sebagai imam pada 13 Desember 1969 oleh Uskup Agung Cordoba, Argentina. Bergoglio lantas melanjutkan studi di Universitas Alcalá de Henares, Spanyol (1970-1971), lalu pada 22 April 1973 mengikrarkan kaul kekal bersama Serikat Yesus. Bergoglio menjabat Provinsial Jesuit Argentina (1973-1979), mengajar di bidang sastra, psikologi, filsafat, dan teologi, serta menjadi Rektor Colegio Máximo di San Miguel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/5f6abe14-25da-4af0-892b-1472bc9c91d2_jpg.jpg)
Pada 20 Mei 1992, ia diangkat sebagai Uskup Auksilier Buenos Aires dan mengambil moto Miserando atque Eligendo (”Karena belas kasih‑Nya, Dia memanggilnya”), terinspirasi oleh kisah pertobatan Matius. Ia diangkat menjadi Uskup Agung Buenos Aires pada 28 Februari 1998, lalu Kardinal pada 21 Februari 2001 atas perintah Paus Yohanes Paulus II.
Setelah Paus Emeritus Benediktus XVI mengundurkan diri, 13 Maret 2013 menjadi tanggal bersejarah. Jorge Mario Bergoglio terpilih sebagai Paus ke-266, mengambil nama Fransiskus, menjadi paus pertama dari Benua Amerika dan ordo Jesuit pertama yang memegang jabatan tertinggi dalam Gereja Katolik Roma.
Paus Fransiskus dikenal luas berkat empat karakteristik utama. Ia menolak kemegahan kepausan, memilih hidup sederhana, bahkan memutuskan dalam aturan pemakaman untuk hanya menggunakan satu peti dari seng dan kayu—menolak tradisi tiga lapis peti demi menegaskan perannya sebagai ”gembala dan murid Kristus, bukan orang yang berkuasa di dunia”.
Misi pastoralnya menitikberatkan pada merawat kaum marjinal, mengingatkan dunia akan tanggung jawab moral bersama, serta menekankan pesan-pesan perdamaian dan keadilan sosial.
Ia secara konsisten mengundang perwakilan berbagai agama—Kristen, Yahudi, Islam—untuk datang ke Vatikan guna memperkuat dialog dan persaudaraan. Contohnya, pertemuan pada Juni 2024 dan pada awal 2025 dengan Duta Besar Palestina serta Israel dan perwakilan umat Yahudi dan Muslim Italia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/15/d433a8f77995a75714a3236c8cbe04a9-000_427W9KE.jpg)
Sejak Oktober 2023, Gaza menjadi salah satu fokus utama keprihatinannya. Ia menggambarkan serangan yang menewaskan anak-anak pada Desember 2024 sebagai ”kekejaman, bukan perang”. Ia menyuarakan gencatan senjata, pembebasan sandera, dan bantuan kemanusiaan—melalui berkat Urbi et Orbi pada Paskah 20 April 2025 menegaskan ”kedekatan dengan penderitaan rakyat Gaza, khususnya umat Kristiani”. Ia menegaskan pula bahwa apa yang terjadi di Gaza memiliki ”karakteristik genosida”, menyerukan penyelidikan independen atas operasi militer Israel yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil.
Pada 3-6 September 2024, Paus Fransiskus melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia—kunjungan paus pertama setelah 1989. Presiden Joko Widodo menyambutnya secara resmi di Istana Merdeka, Jakarta, dengan upacara militer serta pengenalan para menteri pendamping.
Ketika itu, Paus bertemu secara khusus dengan presiden terpilih Prabowo Subianto dan wakil presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka. Prabowo mengenang pesan kesederhanaan, pluralisme, dan keberpihakan kepada yang papa yang dibawa oleh Paus.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/05/b9580b83-cccd-4d16-b06f-142b42f3822b_jpg.jpg)
Paus mengadakan misa, bertemu para uskup dan imam Indonesia, hingga mengajak masyarakat lintas agama untuk berdoa bersama demi persaudaraan dan kesejahteraan rakyat.
Kunjungan ini mencetak kesan mendalam bagi umat Katolik di Indonesia dan masyarakat luas, mengokohkan peran Indonesia sebagai negara majemuk yang menjunjung tinggi toleransi.
Setelah kepergian Paus, Vatikan memasuki masa sede vacante (”kursi kosong”). Tahapan berikut dijalankan, antara lain konfirmasi dan ritual Camerlengo. Kardinal Kevin Farrell, sebagai Camerlengo, memastikan wafatnya dengan ritual tradisional—mengucapkan ”Dormisne?”, memotong cincin dan segel kepausan, serta menyegel kamar Paus. Setelah itu, ada Masa berkabung dan persemayaman jenazah. Dalam periode ini, jenazah disemayamkan di Basilika Santo Petrus. Masa berkabung resmi berlangsung sembilan hari. Camerlengo bersama tiga asistennya juga mengambil alih urusan sehari-hari, menjaga kelancaran administrasi tanpa mengambil keputusan penting.
Pada 15-20 hari setelah wafat, para kardinal elektor (maksimal usia 80 tahun) berkumpul di Kapel Sistina. Dari 135 kardinal elektor yang ada—termasuk Uskup Agung Jakarta—mereka memilih satu di antara mereka untuk menjadi paus baru. Proses pemungutan suara dilakukan berulang dengan asap putih menandakan terpilihnya pengganti. Setelah itu, Kardinal Diakon mengumumkan Habemus Papam dari balkon Basilika Santo Petrus.
Catatan: Ringkasan dibuat berdasarkan sejumlah artikel di Kompas.id dengan bantuan mesin kecerdasan buatan (AI) generatif serta tetap melalui pemeriksaan dan pengeditan oleh editor Kompas.
Berikut adalah artikel yang dijadikan bahan untuk membuat artikel ringkasan:
Penulis:
RedaksiEditor:
Antonius Tomy TrinugrohoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .