Paus Leo XIV Ingatkan Pembelaan untuk Kaum Papa dan Tersisih

Kunjungi RSJ, Paus Leo XIV berpesan orang yang dianggap hina justru paling dekat di hati Tuhan. Paus memuji kebersamaan warga Kristiani dan Muslim Lebanon.

02 Des 2025 18:47 WIB · Internasional

AFP/Jewel SAMAD

Oleh Iwan Santosa

BEIRUT, SELASA — Pada hari terakhir lawatan apostolik Paus Leo XIV di Lebanon, Selasa (12/2/2025), Paus memberikan pesan agar tidak meninggalkan mereka yang paling hina dan lemah. Pesan itu disampaikan Paus dalam kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa De La Croix di Jal El Dib.

RSJ De La Croix adalah fasilitas perawatan kejiwaan terbesar di Timur Tengah. Rumah sakit itu mampu menampung 1.000 pasien. Saat ini ada 800 pasien dirawat di RSJ tersebut.

RS De La Croix dikelola para biarawati dari ordo Santo Fransiskus (Sisters of The Cross). Semula kompleks tersebut didirikan Romo Jacques Haddad atau Abouna Yacoub (Bapa Yakub) di tahun 1919 sebagai RS umum. Kemudian rumah sakit itu diubah menjadi pusat perawatan kesehatan jiwa di tahun 1937 dan menjadi RS keterbelakangan mental di tahun 1951.

Paus secara khusus menyampaikan terima kasih kepada para biarawati dan staf RSJ atas pengabdian mereka dengan penuh kasih pada para pasien. Paus mengingatkan, karya kemanusiaan dengan melayani yang paling rentan dan diabaikan di masyarakat adalah perbuatan yang sangat mulia. ”Ini panggilan Kabar Baik untuk kita semua,” kata Paus.

Paus mengingatkan, orang-orang yang lemah itu sejatinya dekat di hati Tuhan. Dengan melayani yang paling lemah, berarti kita juga mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

Suster Mary Youssef dari Sisters of the Cross menyampaikan sukacita atas kunjungan Paus. ”Rumah sakit ini seperti kampung kecil. Paus mengunjungi paviliun Santo Dominikus yang merawat anak-anak dengan keterbelakangan mental. Paus mendatangi mereka karena anak-anak tersebut tidak dapat beraktivitas normal,” kata Suster Youssef.

”Setiap tetes air mata kami untuk para pasien sangatlah berarti. Demikian pula kunjungan Bapa Suci ke RSJ ini sungguh luar biasa,” kata Suster Youssef.

Lebanon Mideast Pope

Selanjutnya, Paus Leo mengunjungi Pelabuhan Beirut yang hancur akibat ledakan di tahun 2020. Di lokasi ledakan yang menewaskan 220 orang itu, dalam hening Paus memanjatkan doa. Rombongan dengan khidmat mengikuti kunjungan dan doa tersebut.

Dalam kesempatan itu, Paus menyapa keluarga para korban dan penyintas ledakan dahsyat itu.

Ledakan yang terjadi pada 4 Agustus 2020 itu adalah salah satu ledakan non-nuklir yang terbesar di dunia. Ledakan itu menghancurkan pelabuhan dan sebagian kota Beirut di tengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda.

Kunjungan apostolik Paus akan diakhiri dengan misa suci sore ini. Lebih dari 120.000 orang diperkirakan menghadiri misa suci yang dipimpin Paus Leo XIV di Beirut. Seusai memimpin misa, Paus terbang kembali menuju Roma.

Vatican Media mengedarkan foto Paus Leo XIV memberkati sanak keluarga korban ledakan Pelabuhan Beirut, Agustus 2020, yang menewaskan 220 orang, Selasa (12/2/2025).

Semangat toleransi

Selain pesan untuk tidak melupakan yang tersisih, miskin, dan lemah, dalam tiga hari kunjungannya ke Lebanon Paus menegaskan kembali semangat toleransi. Senin lalu, Paus mengawali perjalanan dengan berziarah ke makam Santo Charbel Makhlouf seorang suci yang menjadi pelindung bagi masyarakat Kristiani Lebanon yang juga dihormati warga Muslim.

Tradisi kuno Islam dan Kristiani di Timur Tengah dan Balkan mengajarkan umat menghormati tempat-tempat suci Islam dan Kristiani sebagai warisan bersama. Setiap tahun, warga Kristiani dan Muslim berziarah ke Annaya, Lebanon, untuk berdoa di makam Santo Charbel.

Dari lima juta warga Lebanon, sepertiga adalah umat Kristiani yang merupakan jumlah terbesar di negara Timur Tengah. Paus disambut oleh pemimpin Biara Santo Maroun dan pemimpin Gereja Maronit Lebanon juga Presiden Joseph Aoun dan Ibu Negara Nehmat Aoun.

Uskup Antoine-Charbel Tarabay mendampingi rombongan 60 umat dari diaspora Lebanon Australia ikut dalam perayaan itu. ”Kami tinggal jauh di Australia, kami tetap harus mendukung saudara dan keluarga kami di Lebanon. Sedih jika semakin banyak orang meninggalkan Lebanon,” kata Tarabay.

Selanjutnya, Paus mengujungi biara Bunda Maria di Harissa. Paus mengingatkan pentingnya menjaga koeksistensi, pendidikan, dan dukungan untuk para migran. Paus merujuknya pada praktik dan teladan kerukunan warga Kristiani dan Muslim di Debbabiye, Lebanon. Warga setempat dan pengungsi asal Suriah saling membantu meski hidup dalam keterbatasan.

Pada Senin petang, Paus kemudian melanjutkan lawatannya dengan menemui para tokoh lintas agama di Alun-alun Syuhada Kota Beirut.

Imam Al-Mahdi scouts hold portraits of Pope Leo XIV as they wait for his arrival in Beirut's southern suburbs, a packed residential area known as Dahiyeh, which is also a Hezbollah bastion, on November 30, 2025. Pope Leo XIV arrived in Lebanon with a message of peace for the crisis-hit nation, still reeling from a war between Israel and Hezbollah and the conflict's lingering aftereffects. (Photo by Giuseppe CACACE / AFP)

Paus berbicara di hadapan Patriak Kristen, pemimpin Muslim Sunni, pemimpin Syiah, hingga pemimpin Druze. Mereka berkumpul di bawah satu tenda. Setelah mendengarkan himne rohani, diperdengarkan bacaan Alkitab dan Al Quran, Paus pun memuji tradisi toleransi Lebanon sebagai simbol anugerah damai di Timur Tengah.

Paus mendoakan perdamaian terus menyertai para pemimpin Kristiani dan Muslim hingga Druze yang menjadi inti masyarakat Lebanon. Para pemimpin lintas agama dan komunitas diingatkan bahwa tugas utama mereka adalah melawan ekstremisme dan kekerasan yang merusak dunia.

”Di masa koeksistensi dianggap mustahil terjadi, rakyat Lebanon yang menganut berbagai agama, berdiri, bersatu sebagai bukti, ketakutan, curiga, dan prasangka bukanlah jawaban. Lebanon membuktikan persatuan, rekonsiliasi, dan perdamaian bisa diwujudkan,” ujar Paus.

Leo menggarisbawahi betapa penting Lebanon dan masyarakat Kristianinya bagi Gereja Katolik. Santo Yohanes Paulus II mengatakan, Lebanon bukan sekadar negara, melainkan juga wujud teladan kemerdekaan bagi dunia.

Di akhir acara, Paus Leo menanam pokok zaitun sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan. ”Kami orang Lebanon membutuhkan kunjungan ini setelah perang melanda dan banyak warga putus asa. Kunjungan Paus memberi harapan agar Lebanon bangkit,” kata Romo Youssef Nasr, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Sekolah Katolik Lebanon.

Mufti Besar Lebanon, Abdul-Latif Derian menyambut baik kunjungan Paus Leo dan mengingatkan hubungan baiknya dengan Paus Fransiskus. Di tahun 2019, telah disampaikan pesan kemanusiaan Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Sheikh Ahmad al-Tayeb yang merupakan rujukan bagi komunitas Muslim. ”Lebanon adalah wujud dari pesan tersebut,” kata Derian.

Imam Syiah Lebanon, Ali al-Khatib, Wakil Ketua Dewan Islam Syiah Lebanon mendesak Paus agar mendorong Israel mengakhiri serangan tersebut. ”Kami serahkan Lebanon ke tangan Anda agar dunia membantu kami,” kata al-Khatib.

Lebanon kerap dipuji sebagai contoh koeksistensi beragama. Namun, Lebanon pernah mengalami masa kelam dalam perang saudara tahun 1975-1990 yang membelah warga dalam kelompok sektarian.

Seusai bertemu pada tokoh agama di Lebanon, pada malam Paus menemui sekitar 15.000 muda-mudi Kristiani di Gereja Maronit di Bkerke. Sebagaimana diberitakan Vatican News, Paus mengajak kaum muda untuk membentuk masa depan yang lebih baik. Mereka diajak untuk memimpikan hal besar, membuat rencana, dan terus berbuat kebajikan.

Disambut hangat

Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Lebanon pada Minggu (30/11/2025), Paus Leo XIV mendapat sambutan hangat warga negeri itu. Selain aneka spanduk dan baliho berisi ucapan selamat datang, puluhan ribu warga Lebanon berjajar di tepi jalan menyambutnya. Meski diguyur hujan, mereka rela menanti konvoi kendaraan yang ditumpangi Paus Leo XIV melintas.

Jelang konvoi lewat, warga menebarkan bunga dan beras ke jalan yang dilintasi Paus. Tindakan tersebut merupakan tanda sambutan saat menerima tamu kehormatan.

Bagi warga Lebanon, lawatan Paus Leo XIV membuka harapan besar bagi lahirnya perdamaian di negeri itu. Selama ini, mereka selalu dibayangi kekhawatiran perang dan serangan berlarut oleh Israel.

A handout photograph released by the Lebanese Presidency's press office shows Pope Leo XIV (L) shaking hands with Lebanon's President Joseph Aoun during a meeting at the presidential palace in Baabda, east of the capital Beirut, on November 30, 2025. Pope Leo XIV on November 30 called on the Lebanese people to embrace reconciliation and to remain in their divided, crisis-hit country, which has seen waves of emigration. (Photo by Lebanese Presidency / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / LEBANESE PRESIDENCY" - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Yasmine Chidiac yang menunggu di pinggir jalan saat kedatangan Paus mengatakan, kunjungan Bapa Suci mengembalikan senyum ke wajah umat Katolik di Lebanon.

Sejarah mencatat, Paus pertama dari Amerika Serikat itu mengadakan perjalanan kepausan perdana ke jantung kekristenan di Turki untuk memperingati Konsili Nikea. Ia lalu ke Lebanon untuk mendukung masyarakat Kristiani perdana yang hidup di tengah toleransi dunia Arab.

Paus langsung menghadiri kunjungan kehormatan ke Istana Presiden Lebanon menemui Presiden Joseph Aoun dan para pejabat Lebanon. Selanjutnya Paus menemui Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam dan diakhiri dengan pertemuan bersama para diplomat dan aktivis masyarakat sipil Lebanon.  (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul