Dalam pidatonya, Paus Leo XIV mengingatkan para elit politik untuk mengesampingkan perbedaan dan mengutamakan kepentingan rakyat.
01 Des 2025 09:43 WIB · Internasional
AFP/LEBANESE PRESIDENCY
BEIRUT, SENIN — Paus Leo XIV membawa pesan penuh harapan di Lebanon beserta Timur Tengah yang menghadapi berbagai krisis. Peran para pemimpin politik untuk mewujudkan perdamaian mendapat sorotan khusus.
Setelah melakukan kunjungan apostolik di Turki, Paus Leo XIV tiba Beirut, Lebanon, Minggu (30/11/2025). Presiden Lebanon Joseph Aoun, Ketua Parlemen Nabih Berri, dan Perdana Menteri Nawaf Salam menyambut Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma itu di Istana Presiden, Baabda.
Paus Leo XIV datang dengan pesan yang menabahkan rakyat Lebanon, negara dengan komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah. Lebanon sedang bergelut dengan krisis ekonomi, perpecahan politik, dan kekhawatiran akan perang baru dengan Israel. Negara itu juga belum mengalami proses rekonsiliasi nyata setelah perang saudara tahun 1975-1990.
”Rakyat telah sangat menderita akibat ekonomi yang mematikan, ketidakstabilan global yang berdampak buruk juga di kawasan Levant, serta radikalisasi identitas dan konflik. Tetapi, kalian selalu ingin, dan tahu caranya, untuk memulai kembali,” kata Paus Leo XIV dalam pidatonya.
Seperti di Turki, pesan Paus Leo XIV juga sarat pesan perdamaian. Pidatonya menggunakan kata ”perdamaian” lebih dari 20 kali tanpa menyebutkan konflik tertentu, termasuk perang antara Hizbullah dan Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/01/d61d1de2-9dae-4778-af90-751ede976474_jpg.jpg)
Secara khusus, Paus Leo XIV menantang para pemimpin politik untuk menjadi pembawa damai sejati dengan mengesampingkan perbedaan. Sistem politik Lebanon berdasarkan pada pembagian kekuasaan sektarian. Akibatnya, kebuntuan atau kekosongan kekuasaan terkait isu-isu sensitif rentan terjadi, termasuk investigasi ledakan mematikan di pelabuhan Beirut tahun 2020.
Lebanon juga terpecah belah terkait wacana Hizbullah melucuti senjata. Kelompok itu bersekutu dengan beberapa kelompok politik Kristen, termasuk Gerakan Patriotik Bebas dan Gerakan Marada. Akan tetapi, Pasukan Lebanon yang merupakan partai Kristen dengan blok parlemen terbesar merupakan penentang Hizbullah.
Menurut Paus Leo XIV, para pemimpin Lebanon perlu terlibat dalam proses rekonsiliasi dengan ”mereka yang telah menderita kesalahan dan ketidakadilan”. ”Budaya rekonsiliasi harus datang dari atas, dengan para pemimpin bersedia mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengakui kepentingan umum lebih penting,” tuturnya.
Presiden Aoun mengatakan, menjaga Lebanon, sebuah model koeksistensi unik di antara berbagai komunitas agama, merupakan kewajiban umat manusia. ”Jika model ini lenyap, tidak ada tempat lain yang dapat menggantikannya,” kata satu-satunya kepala negara Kristen di dunia Arab itu.
Puncak kunjungan Paus Leo XIV ke Lebanon terjadi pada hari terakhir, Selasa (2/12/2025). Dia akan meluangkan waktu dalam doa hening di lokasi ledakan pelabuhan pada 4 Agustus 2020. Ledakan itu menewaskan lebih dari 200 orang dan menimbulkan kerugian miliaran dollar AS.
Kunjungan Paus Leo XIV sekaligus memenuhi janji mendiang Paus Fransiskus untuk pergi ke negara itu. Rencana pendahulunya tertunda akibat berbagai krisis dan kesehatan yang memburuk. Paus terakhir yang datang adalah Paus Benediktus XVI tahun 2012.
Namun, kunjungan itu terjadi hanya seminggu setelah serangan Israel di Beirut yang menewaskan lima orang. Walau Hizbullah-Israel telah melakukan gencatan senjata dengan bantuan Amerika Serikat pada 2024, Israel terus melancarkan serangan udara guna melemahkan Hizbullah. Perang antara keduanya telah menewaskan lebih dari 4.000 orang di Lebanon.
Sebelum kedatangan Paus Leo XIV, Hizbullah mendesaknya untuk menyatakan ”penolakan terhadap ketidakadilan dan agresi” Israel. Kelompok tersebut juga mengimbau para pendukungnya untuk berbaris di sepanjang rute konvoi kepausan sembari mengibarkan bendera Lebanon dan Vatikan.
”Paus datang untuk memberkati kita dan demi perdamaian. Kami berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah kepergiannya,” kata Farah Saadeh, warga Beirut.
Karena situasi yang tak pasti, Lebanon memberikan perlindungan ketat untuk Paus Leo XIV. Kedatangan pesawatnya mendapat pengawalan dua jet militer Lebanon.
Setelah tiba, Paus Leo XIV menyusuri jalan-jalan ibu kota negara itu dengan mobil paus tertutup (popemobile), sedikit berbeda dari kebiasaan Paus Fransiskus yang menyukai mobil terbuka. Juru Bicara Vatikan Matteo Bruni menolak membahas jenis kendaraan untuk Paus Leo XIV di Lebanon atau apakah kendaraan tersebut antipeluru.
Sementara itu, pasukan keamanan Lebanon bersiaga di jalanan. Sebuah helikopter terbang mengawasi.
Bagi kebanyakan warga, kedatangan tokoh agama itu memberi pesan penting. ”Ini menunjukkan bahwa Lebanon tidak dilupakan,” ujar Uskup George, pemimpin Keuskupan Agung Melkite Katolik Yunani di Beirut.
Sebagai negara mayoritas Muslim, sepertiga penduduk Lebanon beragama Kristen. Bagi Vatikan, Lebanon selalu menjadi prioritas sebagai benteng bagi umat Kristen di seluruh kawasan. Konflik berkepanjangan membuat jumlah umat menyusut karena banyak keluarga pindah ke luar negeri demi kehidupan yang lebih baik.
Dalam pidatonya di Istana, Paus Leo juga memanggil para diaspora pulang. ”Adakalanya lebih mudah untuk melarikan diri atau lebih nyaman untuk pindah ke tempat lain. Butuh keberanian dan visi yang nyata untuk tetap tinggal atau kembali ke negara asal,” ucapnya.
Sebelum mendarat di Lebanon, Paus Leo XIV menegaskan ulang dukungan terhadap solusi dua negara bagi Palestina dan Israel. Hal itu ia sampaikan saat berada di pesawat kepada wartawan, sesuai tradisi para paus sebelumnya.
”Takhta Suci telah secara terbuka mendukung usulan solusi dua negara selama beberapa tahun. Kita semua tahu bahwa Israel masih belum menerimanya, tetapi kami menganggapnya sebagai satu-satunya solusi yang mungkin untuk menyelesaikan konflik saat ini,” ujar Paus Leo XIV.
Menurut Paus Leo XIV, topik itu mengemuka ketika ia bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara, Turki, Kamis (27/11/2025). ”Turki memiliki peran penting dalam proses ini,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/01/20952a52-ed3e-4222-957a-8c03f74a28a3_jpg.jpg)
Vatikan telah mengakui negara Palestina sejak tahun 2015. Sejak terpilih pada Mei 2025, Paus Leo XIV telah menyatakan solidaritasnya dengan Jalur Gaza. Ia juga mengecam pemindahan paksa warga Palestina dari kawasan tersebut.
Namun, pernyataannya di pesawat merupakan seruannya yang paling tajam sejauh ini untuk pembentukan negara Palestina dalam konteks perang di Gaza. "Kami juga berteman dengan Israel, dan kami berusaha menjadi mediator bagi kedua belah pihak yang dapat membantu mereka lebih dekat ke solusi yang adil bagi semua,” lanjut Paus.
Oktober lalu, Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Takhta Suci, mengatakan Israel sedang melakukan "pembantaian" di Gaza sebagai pembalasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kardinal Parolin menggambarkan serangan tersebut sebagai "pembantaian yang tidak manusiawi."
Setelah pemerintah Israel keberatan dengan komentar Kardinal Parolin, Paus Leo mengatakan bahwa kardinal tersebut "menyampaikan pendapat Takhta Suci dalam masalah ini dengan sangat baik. Israel tidak suka dengan tanggapan tersebut.
”Paus bukan hanya untuk umat Kristen, tetapi juga untuk Muslim. Kami sangat mencintainya. Kami ingin beliau memberkati tanah kami,” kata Zahra Nahleh (19) dari Lebanon selatan yang dilanda perang. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti