Tepat sehari sebelum Paus Leo XIV tiba, Lebanon tetap diserang Israel. Sejak November 2024, Israel telah 1.038 kali menyerang Lebanon.
30 Nov 2025 14:00 WIB · Internasional
AFP
BEIRUT, MINGGU — Lebanon bersiap menyambut Paus Leo XIV yang dijadwalkan mendarat di Beirut pada Minggu (30/11/2025) sore waktu setempat. Persiapan kedatangan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma itu tidak merintangi serangan lanjutan Israel ke Lebanon.
Paus masih di Istanbul pada Minggu pagi. Pada Minggu siang waktu Istanbul atau Minggu malam WIB, Paus akan terbang ke Lebanon dan tiba sore waktu Beirut.
Selama di Lebanon, Paus tidak akan menyambangi Lebanon selatan yang masih terus diserang Israel. Dalam lawatan pada 30 November-2 Desember, Paus fokus di Beirut dan sekitarnya.
Kantor berita Lebanon, NNA, melaporkan, Israel menyerang Wadi Alma al-Shaab pada Sabtu (29/11/2025) sore. Media Lebanon lainnya, Al Manar, menyebut, serangan dilancarkan ke beberapa lokasi di Lebanon selatan.
Pada Jumat, Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut Israel telah melancarkan 1.038 serangan ke Lebanon sejak 28 November 2024. Jika dirata-rata, Israel nyaris tiga kali sehari menyerang Lebanon.
Israel tetap menyerang Lebanon meski menyepakati gencatan senjata dengan Hizbullah. Seperti di Gaza dan Suriah, Israel menolak menarik pasukan dari Lebanon, apalagi menghentikan serangan.
Sebelum serangan Sabtu ke Lebanon selatan, Israel juga menyerang Beirut pada akhir pekan lalu. Rencana kedatangan Paus Leo XIV ke Lebanon diharapkan bisa meredakan serangan Israel. Faktanya, Israel tak peduli.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/29/f6023834-b8be-4047-883c-aa8136ad8eab.jpg)
Dalam pernyataan pada Sabtu, Hizbullah berharap Paus Leo XIV menolak ketidakadilan dan agresi Israel pada Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah menekankan tidak akan berhenti melawan agresi itu.
Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan, Hizbullah menyambut lawatan Paus ke Lebanon. ”Kami menyambut kunjungan di saat penting ini. Kami berdoa Bapa Suci berkontribusi menyebarkan kedamaian di Lebanon, membebaskannya, dan mengakhiri agresi, serta menolak itu,” ujarnya.
Ia menekankan, Hizbullah berusaha keras mematuhi gencatan senjata November 2024. Walakin, Hizbullah dan rakyat Lebanon tak bisa terus diam saja atas rangkaian agresi Israel yang tak berhenti.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Lebanon menyerahkan protes resmi ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pokok protes adalah Israel membuat pagar di wilayah Lebanon. Pagar itu sebagian dari pelanggaran tak henti Israel terhadap kedaulatan Lebanon.
Pagar dibangun di Yaroun. Israel secara sepihak menetapkan kota di Lebanon itu ada di bawah kendalinya. Pembangunan pagar itu, menurut Beirut, melanggar resolusi DK PBB ataupun kesepakatan gencatan senjata.
Beirut meminta DK PBB tidak diam saja atas pelanggaran itu. PBB, yang menempatkan pasukan perdamaian di Lebanon selatan, harus menegakkan resolusinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/30/3332ecbab597bf6ccf90e3b315d02a82-LEBANON_VATICAN_RELIGION_POPE_134393452.jpg)
Menlu Lebanon Youssef Raji mengatakan, Beirut tidak akan mencapai kemajuan signifikan jika Israel tak berhenti melanggar gencatan senjata. Lebih dari 1.000 serangan Israel ke Lebanon ditambah perluasan basis dalam wilayah Lebanon adalah gambaran pelanggaran besar dan serius Israel terhadap gencatan senjata dan resolusi PBB.
Beirut, kata Raja, berkomitmen menjadikan militer sebagai satu-satunya pengendali senjata di Lebanon. Untuk mewujudkan itu, Beirut membutuhkan sokongan semua pihak.
Oleh karena itu, ia mendesak komunitas internasional menekan Israel agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata. Kalau Israel terus menyerang Lebanon, rakyat Lebanon tak mungkin diam saja.
Sementara dalam hari terakhir lawatan di Turki, Paus Leo XIV menunjukkan simbol persatuan yang kuat. Paus ikut liturgi ilahi atau misa di Katedral Armenia dan Gereja Santo Gregorius di Istanbul.
Katedral Armenia dibawahkan Gereja Ortodoks Armenia. Sementara Gereja Santo Gregorius dibawahkan Gereja Ortodoks Timur. Gereja Armenia berpisah dengan gereja lain pada abad 5 masehi. Sementara Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur berpisah pada abad 11 masehi.
Pemimpin Gereja Ortodoks Timur saat ini, Patriark Bartholomew, dan para Paus Gereja Katolik Roma terus berusaha mendekatkan lagi kedua gereja. Kehadiran Paus Leo dalam liturgi ilahi yang dipimpin Patriark Bartholomew pada Minggu di Istanbul bagian dari upaya persatuan itu.
Selain acara publik, Paus juga bertemu secara tertutup dengan Andrea Minguzzi dan keluarganya. Anak Minguzzi tewas ditusuk di pasar Istanbul pada Februari lalu.
Waktu mendengar Paus akan ke Turki, Minguzzi menulis surat ke Vatikan. Ia berharap Paus berkenan menemui dan memberkati keluarganya yang berduka. ”Hari ini saya menangis bahagia,” kata dia seraya menyatakan salah satu mimpi terbesarnya telah terwujud. (AP/AFP)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto