Paus Leo XIV tak henti-hentinya menyerukan agar perang di Iran segera diakhiri. Paskah menjadi momentum mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.
01 Apr 2026 15:00 WIB · Internasional
AFP/Tiziana FABI
VATIKAN, RABU – Paus Leo XIV menyerukan agar perang di Iran yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel dapat diakhiri sebelum Paskah, Minggu (5/4/2026). Seruan ini disampaikan setelah Paus mengetahui informasi rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang dimulai sejak 28 Februari lalu itu.
Paus Leo berulang kali menyerukan perdamaian di Timur Tengah dan mendesak gencatan senjata. Perang yang memasuki pekan kelima itu telah merenggut ribuan korban jiwa dan memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi.
”Saya diberi tahu bahwa Presiden Trump baru-baru ini menyatakan ia ingin mengakhiri perang. Saya berharap dia mencari jalan keluar,” ujarnya di Castel Gandolfo, sebagaimana diberitakan Associated Press, Rabu (1/4/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/31/c15187d1-2006-4d0e-8d18-6ac07aa85772.jpg)
Sebelumnya, Trump menyatakan, AS bisa mengakhiri perang di Iran dalam 2-3 pekan. Ia pun berencana menarik pasukan AS dari Timur Tengah. Namun, saat ini AS masih terus menambah kekuatan militernya di kawasan itu.
”Semoga dia (Trump) mencari cara untuk mengurangi kekerasan, pengeboman, yang akan menjadi kontribusi signifikan untuk menghilangkan kebencian yang sedang diciptakan, yang terus meningkat di Timur Tengah dan tempat lain,” ujar Paus.
Paus Leo menyerukan kepada semua pemimpin dunia untuk kembali berdialog dan mencari cara mengurangi kekerasan. Dengan begitu, perdamaian, terutama pada momen Paskah, dapat berkuasa di hati semua umat manusia.
Menurut Paus, seharusnya Paskah menjadi waktu tersuci dalam setahun. Momen yang tepat untuk mewujudkan perdamaian dan merefleksikannya. Namun, ia prihatin karena di sejumlah tempat begitu banyak penderitaan dan kematian, bahkan anak-anak yang tidak bersalah.
Kita terus-menerus menyerukan perdamaian, tetapi sayangnya banyak orang ingin mempromosikan kebencian, kekerasan, dan perang.
”Kita terus-menerus menyerukan perdamaian, tetapi sayangnya banyak orang ingin mempromosikan kebencian, kekerasan, dan perang,” ucapnya.
Sebelumnya, dalam misa Minggu Palma, Paus mengatakan, Tuhan tidak mendengarkan doa orang-orang yang mengobarkan perang. Agama tidak boleh digunakan oleh siapa pun untuk membenarkan kekerasan dalam perang. Ia menyebutkan, Yesus terus mewartakan damai meski kekerasan mengintai.
Selama Pekan Suci, Paus Leo akan melaksanakan tradisi pembasuhan kaki pada misa Kamis Putih di Basilika Santo Yohanes Lateran. Sehari kemudian, Paus dijadwalkan memimpin prosesi Jumat Agung di Koloseum Roma untuk memperingati sengsara serta penyaliban Yesus dan akan memikul salib sendiri.
Hari Sabtu akan ada Vigili Paskah pada larut malam; Paus diagendakan membaptis umat Katolik baru. Setelah itu, Paus akan merayakan misa Minggu Paskah di Lapangan Santo Petrus dan kemudian menyampaikan berkat Paskah dari balkon loggia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/ad5063ce-421c-446e-b97f-111dcf625224.jpeg)
Paus meminta semua orang, terutama umat Kristen, untuk menjalani Pekan Suci dengan merefleksikan penyaliban Yesus. Menurut dia, Yesus masih menderita dalam diri orang-orang yang tidak bersalah, terutama mereka yang menderita akibat kekerasan, kebencian, dan perang.
”Marilah kita berdoa untuk mereka, untuk para korban perang. Marilah kita berdoa agar benar-benar ada perdamaian baru yang diperbarui yang dapat memberikan kehidupan baru bagi semua orang,” ujarnya.
Uskup Agung Teheran-Isfahan Kardinal Dominique Joseph Mathieu juga mendesak agar konflik di Teluk segera diakhiri. Ia menyerukan perdamaian untuk semua wilayah yang dilanda perang, terutama di Timur Tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
”Jangan pernah lagi perang, sebuah petualangan tanpa jalan kembali. Jangan pernah lagi perang, sebuah spiral duka dan kekerasan,” katanya, dilansir dari Vatican News.
Hal itu ia sampaikan di Basilika Santa Croce di Roma, Senin (30/3/2026). Kardinal Mathieu terpaksa meninggalkan Teheran, ibu kota Iran, sejak 8 Maret lalu karena perang yang berkecamuk di wilayah itu.
”Hentikan logika pembalasan dan balas dendam. Melalui Roh-Mu (Tuhan), tunjukkan solusi baru, tindakan yang murah hati dan terhormat, ruang untuk dialog dan penantian yang sabar, yang lebih bermanfaat daripada tenggat perang yang terburu-buru,” ujarnya.
Terkait insiden pelarangan misa Minggu Palma di Gereja Makam Kudus oleh kepolisian Israel beberapa hari lalu, Duta Besar Israel untuk Takhta Suci Vatikan Yaron Sideman telah menemui Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin. Sideman menyampaikan klarifikasi dan penyesalannya atas insiden tersebut. (AP/REUTERS)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul