MINGGU PALMA

Paus Leo XIV: Yesus Menolak Doa Pengobar Perang

Yesus adalah Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang.

29 Mar 2026 18:34 WIB · Internasional

AP

Oleh Kris Mada

VATIKAN, MINGGU — Paus Leo XIV kembali menggemakan penolakan pada perang. Kali ini, Paus memanfaatkan Misa Minggu Palma untuk menggemakan penolakan itu.

Paus memimpin misa Minggu Palma di Vatikan pada Minggu (29/3/2026). Minggu Palma adalah hari Minggu terakhir dalam Masa Prapaskah yang menandai dimulainya Pekan Suci. Perayaan ini mengenang peristiwa masuknya Yesus ke Jerusalem sebagai Raja Damai.

”Yesus adalah Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang. Ia tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya,” ujar Paus.

Paus Leo XIV menyebutkan, Yesus terus mewartakan damai meski kekerasan mengintai. ”Ia tetap teguh dalam kelembutan, sementara yang lain membangkitkan kekerasan. Ia menawarkan Diri-Nya untuk merangkul umat manusia, bahkan ketika yang lain mengangkat pedang dan pentungan,” ujar Paus seperti disiarkan Vatican News.

Dalam khotbahnya, Paus berulang kali mengucapkan ”Raja Damai”. ”Ia mengungkapkan wajah lembut Allah, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri-Nya sendiri, Ia membiarkan diri-Nya dipaku di kayu salib, merangkul setiap salib yang dipikul di setiap waktu dan tempat sepanjang sejarah manusia,” lanjut Paus.

Pope Leo XIV looks at a child as he leaves after presiding over Mass in St. Peter's Square at the Vatican on the Catholic feast of Palm Sunday, commemorating Jesus' arrival in Jerusalem, Sunday, March 29, 2026. (AP Photo/Andrew Medichini)

Kobaran perang

Khotbah itu disampaikan di tengah perang di berbagai benua. Sebagian pemimpin memakai agama sebagai alasan memerangi pihak lain.

Di dua negara besar, Amerika Serikat dan Rusia, fenomena itu terlihat amat jelas. Para politisi secara terbuka mengklaim sedang mengobarkan perang suci untuk membela agama.

Di Afrika dan Asia, kekerasan yang mengaku demi agama juga terus berkobar. Warga tak bersalah menjadi korban.

Dalam berkat khusus di akhir misa, Leo mengatakan bahwa ia berdoa terutama untuk umat Kristen di Timur Tengah yang ”menderita akibat dari konflik yang mengerikan. Dalam banyak kasus, mereka tidak dapat sepenuhnya menghayati ritus hari-hari suci ini.”

Tahun ini, untuk pertama kali dalam ratusan tahun, umat Kristiani tak bisa merayakan rangkaian Paskah di Gereja Makam Kudus akibat larangan Israel. Sejak 28 Februari 2026, Israel menutup kompleks suci di Kota Tua Jerusalem.

Larangan itu membuat Gereja Makam Suci hingga Masjidil Aqsa tak bisa diakses umat di saat penting. Muslim tak bisa masuk Al Aqsa selama Ramadhan. Kini, giliran kristiani tak bisa mengakses Gereja Makam Suci selama Pekan Suci sampai Paskah. Melewati Jalan Salib Suci di Kota Tua Jerusalem dianggap bagian penting perayaan Paskah.

Pope Leo XIV presides over Mass in St. Peter's Square at the Vatican on the Catholic feast of Palm Sunday, commemorating Jesus' arrival in Jerusalem, Sunday, March 29, 2026. (AP Photo/Alessandra Tarantino)

Akses ke Gereja Makam Suci memang pernah ditutup beberapa kali atas kesepakatan para imam Katolik dan Kristen. Pada 2018, untuk memprotes kebijakan pajak Israel, para imam sepakat menutup gereja itu.

Pada 1990, akses ke gereja ditutup para imam untuk memprotes pemukim ilegal Yahudi. Walakin, penutupan pada 1990 dan 2018 tak membatasi akses menjelang dan saat Paskah.

Di Minggu Palma, aparat Israel melarang rombongan imam yang menuju Gereja Makam Suci. Para imam itu adalah Patriarkat Latin Jerusalem Kardinal Pierbattista Pizzaballa dan Wali Tanah Suci Francesco Ielpo.

Mereka dipaksa berbalik. ”Akibatnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, Kepala Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci,” demikian isi pernyataan bersama mereka.

Insiden itu disebut merupakan preseden yang serius. Insiden itu mengabaikan kepekaan miliaran orang di seluruh dunia yang, selama minggu ini, menantikan Jerusalem.

”Para pemimpin Gereja telah bertindak dengan penuh tanggung jawab dan, sejak awal perang, telah mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan: pertemuan publik dibatalkan, kehadiran dilarang, dan pengaturan dilakukan untuk menyiarkan perayaan tersebut kepada ratusan juta umat beriman di seluruh dunia, yang, selama hari-hari Paskah ini, mengarahkan pandangan mereka ke Jerusalem dan ke Gereja Makam Suci,” lanjut pernyataan itu.

Cardinal Pierbattista Pizzaballa, Latin Patriarch of Jerusalem, leads a Christmas Mass at the Holy Family Parish during his visit to Gaza City on December 21, 2025. Pizzaballa arrived in Gaza on December 19 for Christmas Mass at the Holy Family Parish in Gaza City, which hosts the Palestinian territory's only Roman Catholic church. The Latin Patriarchate says 135 Catholics live in Gaza. They sought shelter inside the compound of the Holy Family Church in the first days of the war between Israel and Hamas. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

”Mencegah masuknya Kardinal dan Wali yang memikul tanggung jawab gerejawi tertinggi untuk Gereja Katolik dan Tempat-Tempat Suci, merupakan tindakan yang jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional,” demikian pernyataan itu.

Keputusan yang tergesa-gesa dan pada dasarnya cacat ini, yang diwarnai oleh pertimbangan yang tidak tepat, merupakan penyimpangan ekstrem dari prinsip-prinsip dasar kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo. ”Patriarkat Latin Jerusalem dan Wali Tanah Suci menyampaikan dukacita yang mendalam kepada umat Kristen di Tanah Suci dan di seluruh dunia karena doa pada salah satu hari paling suci dalam kalender Kristen telah dicegah,” lanjut pernyataan itu. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase