Dua orang Amerika paling berpengaruh, Paus Leo XIV dan Donald Trump, berseteru. Paus mendukung perdamaian dan toleransi. Trump perintahkan perang dan usir imigran.
13 Apr 2026 20:00 WIB · Internasional
AFP/POOL/ALBERTO PIZZOLI
ALJIR, SENIN —Dua orang Amerika Serikat paling berpengaruh saat ini, Paus Leo XIV dan Presiden Donald Trump, terlibat silang pendapat terbuka. Semua dipicu sikap Amerika Serikat pada Vatikan dan dunia.
”Saya tidak akan mundur dari mewartakan pesan Injil dan mengundang semua orang untuk mencari jalan membangun jembatan damai dan rekonsiliasi, serta mencari jalan untuk menghindari perang kapan pun itu mungkin,” kata Paus kelahiran Chicago, AS, itu dalam penerbangan menuju Aljazair, Senin (13/4/2026).
Berbicara kepada wartawan lain, Leo menambahkan, ”Saya tidak takut pada pemerintahan Trump.”
Amat jarang Paus berselisih terbuka dengan pemimpin negara lain. Walakin, perbedaan kebijakan Vatikan dan sejumlah negara kerap terjadi.
Dengan AS dan Eropa selama bertahun-tahun Vatikan berbeda pandangan soal imigrasi. Vatikan, baik di era Paus Fransiskus maupun Paus Leo XIV, mendorong imigran disambut.
Bahkan, alih-alih mengunjungi negara asalnya, Paus Leo XIV malah dijadwalkan ke Pulau Lampedusa pada 4 Juli 2026. Pada hari peringatan 250 tahun kemerdekaan AS itu, Paus Leo XIV mendatangi pulau yang menjadi penampungan imigran dari Afrika ke Eropa. Mendiang Paus Fransiskus juga mendatangi pulau itu kala gelombang penolakan terhadap imigran meluas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/6e6249ce6673a87a6fc87c8d81ae0956-TOPSHOT_ITALY_VATICAN_DIPLOMACY_ALGERIA_137493648.jpg)
Di era Trump, Vatikan antara lain berselisih dengan AS soal perang. Hampir dalam setiap homili, pidato, atau pernyataan lain, Paus Leo XIV terus membahas pentingnya mengakhiri perang dan mendorong perdamaian.
Ia menegaskan, seruan itu tidak untuk menyerang Trump atau orang lain. Pada Minggu Palma 2026, ia menyebut, Yesus tak menerima doa orang yang mengobarkan perang.
Sebelum memulai perjalanan ke Afrika, Paus Leo XIV juga mengutip ayat Perjanjian Lama dari Kitab Yesaya. ”Sekalipun kamu memperbanyak doa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,” ujarnya.
Sementara dalam perjalanan ke Afrika, tanpa menuding sosok tertentu, Paus Leo menyiratkan, saat ini pesan Injil sedang disalahgunakan untuk membenarkan perang. ”Saya akan terus berbicara lantang melawan perang, dengan berupaya memajukan perdamaian, mendorong dialog dan hubungan multilateral di antara negara-negara untuk mencari solusi yang adil atas masalah-masalah,” katanya.
Meski tak menyebut nama, pernyataan Paus Leo XIV mengingatkan banyak orang atas fenomena di AS. Sejumlah pejabat dan tokoh AS menyebut serangan ke Iran sebagai perang suci. Serangan itu dinyatakan kehendak Tuhan dan Trump dipilih Tuhan untuk menjalankan kehendak itu.
Paus Leo XIV mengingatkan, kini terlalu banyak orang menderita di dunia. ”Terlalu banyak orang tak berdosa sedang dibunuh. Dan, saya pikir, seseorang harus berdiri dan mengatakan ada jalan yang lebih baik,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/2c4a9343f56214e0a73e16e294d0e986-ITALY_VATICAN_DIPLOMACY_ALGERIA_137493467.jpg)
Ia juga menyatakan tak akan terseret dalam perdebatan. ”Saya bukan seorang politikus. Saya tidak berniat berdebat dengan Trump,” ucapnya.
Menurut Paus Leo, menyamakan pesannya dengan langkah yang diambil presiden berarti tidak memahami makna pesan Injil. Meski menyesalkan hal itu, ia menegaskan akan tetap menjalankan apa yang diyakininya sebagai misi Gereja di dunia saat ini.
”Pesan Gereja, pesan saya, pesan Injil, ’Berbahagialah para pembawa damai’. Saya tidak memandang peran saya sebagai sesuatu yang politik, sebagai seorang politikus,” kata pemimpin sekitar 1,4 miliar umat Katolik itu.
Sebelum Paus Leo XIV berkomentar, Trump secara terbuka mencerca Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma itu. Di media sosial, Trump menyebut Paus Leo XIV lemah pada kejahatan dan buruk soal kebijakan luar negeri.
Trump juga menuding Paus Leo XIV untuk hal yang tak pernah dilakukannya. ”Saya tak mau Paus yang berpikir OK Iran memiliki senjata nuklir,” tulis Trump di media sosial tentang hal yang tak pernah disampaikan Paus Leo XIV itu.
Ia melanjutkan, satu-satunya alasan Paus Leo XIV terpilih hanyalah karena berstatus warga AS. Ia menyebut, pemilihan Paus Leo XIV karena Vatikan berpikir itu cara terbaik berhubungan dengan AS di era Trump.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/e12794adf4b8423f551f0059e9b1c777-1000012956.jpg)
Beberapa saat kemudian, Trump juga mengunggah gambar yang menyiratkan dirinya memiliki kuasa mirip Yesus. Sosoknya dikelilingi serdadu, perawat, perempuan yang sedang berdoa, dan pria berjanggut dengan topi bisbol yang memandangnya dengan kagum.
Saat ditanya apakah ia percaya bahwa Tuhan menyetujui perang dengan Iran, Trump meyakininya begitu. ”Saya percaya begitu karena Tuhan itu baik. Karena Tuhan itu baik dan Tuhan ingin melihat orang-orang dirawat,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/11/0658560fdf2adf3364d25dca5e1a60c6-cropped_image.jpg)
Serangan Trump terhadap Paus Leo meluas. Bukan hanya terhadap konflik Iran, tetapi juga terhadap kebijakan imigrasi garis keras Gedung Putih hingga Venezuela. ”Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir mengerikan bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan narkoba dalam jumlah sangat besar ke AS,” tulisnya di Truth Social.
Pernyataan itu merujuk pada penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pemerintahan Trump pada Januari 2026.
Ketua Konferensi Wali Gereja Katolik AS Uskup Agung Paul S Coakley mengatakan sedih oleh komentar Trump. ”Paus Leo bukan rivalnya dan Paus bukan seorang politikus. Ia adalah Vikaris Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil dan demi pemeliharaan jiwa-jiwa,” ucap Coakley.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/c0283bc2abf5e21d2e70c92fbdbd3935-Algeria_Africa_Pope.jpeg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/55e8848bbdf9e072c968e5f79291d28e-wires_photo_3_.jpg)
Menurut perhitungan AP VoteCast, dalam pemilu 2024, Trump meraih 55 persen suara pemilih Katolik. Namun, pemerintahan Trump juga memiliki hubungan dekat dengan para pemimpin Protestan Evangelikal konservatif dan mengklaim mendapat dukungan surgawi untuk perang melawan Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, misalnya, mengajak warga AS berdoa demi kemenangan dalam nama Yesus. Tahun ini, untuk pertama kali Departemen Pertahanan AS tak menggelar misa Paskah untuk umat Katolik. Misa hanya digelar denominasi Protestan yang diikuti Hegseth. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul