HARI RAYA

Paus Leo XIV Ajak Umat Perjuangkan Perdamaian dan Tumbuhkan Harmoni

Pada malam Paskah, Paus Leo mengatakan, masih ada ”batu penutup kubur” di dunia. Ia menyerukan agar umat Katolik peduli dan terus bekerja untuk perdamaian.

05 Apr 2026 11:36 WIB · Internasional

AFP / ANDREAS SOLARO

Oleh Helena Fransisca Nababan

VATICAN CITY, MINGGU — Paus Leo XIV meminta umat Katolik sedunia untuk mengikuti teladan para santo yang berjuang untuk keadilan. Dengan demikian, karunia Paskah berupa harmoni dan perdamaian dapat tumbuh dan berkembang di dunia yang kini tengah dilanda perang.

Paus Leo XIV mengajak umat untuk merefleksikan kembali makna kebajikan, kejahatan, dan kelahiran kembali saat memimpin misa malam Paskah, Sabtu (4/4/2026), di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Misa itu merupakan misa malam Paskah pertama Paus Leo XIV. Menurut Paus, inti dari perayaan Paskah adalah kebangkitan Yesus dari kematian.

”Akan tetapi, misteri suci malam ini meluas melintasi berabad-abad,” kata Paus Leo XIV, seperti dikutip Vatican News.

Leo lantas mengajak umat untuk melihat beberapa tahapan dari ”jalan rekonsiliasi dan rahmat” melalui sembilan bagian kitab suci yang dibaca selama liturgi. Bacaan-bacaan itu mengisahkan kembali penciptaan dunia oleh Tuhan, pelarian bangsa Israel dari Mesir, hingga pelayanan Santo Paulus.

Pemersatu dari semua momen sejarah keselamatan tersebut, menurut Paus Leo, adalah bahwa Tuhan menanggapi kekerasan dosa, yang memecah belah dan membunuh, dengan kekuatan kasih yang mempersatukan dan memulihkan kehidupan.

Dosa, menurut Leo, merupakan penghalang berat yang memisahkan manusia dari Tuhan. Dosa juga membunuh firman yang ada dalam diri manusia.

Leo menyamakan dosa manusia itu dengan batu penutup makam Yesus. ”Batu itu mewakili dosa-dosa yang harus digulingkan. (Wujud) Batu itu di antaranya adalah ketidakpercayaan, ketakutan, keegoisan, kebencian, perang, ketidakadilan, dan isolasi bangsa-bangsa dan negara-negara,” katanya.

Para kardinal dan uskup berdiri saat Paus Leo XIV memimpin Misa Malam Paskah di dalam Basilika Santo Petrus di Vatikan, Sabtu (4/4/2026).

Beberapa (batu) itu begitu berat dan dijaga begitu ketat sehingga tampaknya tidak dapat digerakkan. ”Jangan biarkan diri kita lumpuh!” seru Paus Leo, paus pertama dari Amerika Serikat itu.

Sepanjang khotbah, Leo tidak menyebut secara spesifik konflik apa pun. Di akhir khotbahnya, Paus mendesak umat Katolik untuk peduli dan terus bekerja untuk perdamaian.

”Sebaliknya, kita harus mengikuti teladan para santo yang berjuang untuk keadilan sehingga karunia Paskah berupa harmoni dan perdamaian dapat tumbuh dan berkembang di mana-mana,” ujar Paus Leo.

Perayaan malam Paskah di Basilika Santo Petrus pada Sabtu malam diawali dengan masuknya Paus Leo XIV sambil membawa lilin Paskah yang menyala ke dalam Basilika Santo Petrus yang gelap dan sunyi. Lilin itu melambangkan Kristus Sang Terang Dunia.

Para pembawa lilin lain kemudian berhenti untuk menyalakan lilin umat saat mereka berjalan menyusuri lorong tengah. Nyala lilin menyebarkan cahaya kelap-kelip di basilika yang gelap sebelum lampu menyala saat Paus Leo tiba di altar utama, diikuti para kardinal yang mengenakan jubah putih.

Paus Leo XIV membaptis seorang anak laki-laki pada Misa Malam Paskah di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu (4/4/2026).

Pesan Paus Leo pada malam Paskah seolah terkait dengan pesan yang ia nyatakan pada hari Minggu Palma, atau minggu yang mengawali pekan suci Paskah. Dengan perang Iran melawan AS-Israel yang memasuki bulan kedua dan perang Rusia-Ukraina, Paus Leo berulang kali menyerukan penghentian permusuhan. Pada Minggu Palma, ia mengatakan bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa-doa mereka yang berperang atau mengutip Tuhan untuk membenarkan kekerasan mereka.

Adapun perayaan malam Paskah itu merupakan bagian dari rangkaian pekan suci Paskah. Pada Kamis Putih, Paus Leo membasuh kaki 12 imam dalam ritual tradisional.

Pembasuhan para imam ini memulihkan tradisi yang dirombak pendahulunya, Paus Fransiskus. Di era Paus Fransiskus, ia memasukkan umat awam dan non-Kristen dalam ritual pembasuhan.

Saat prosesi Jalan Salib pada Jumat Agung, Paus Leo memikul salib. Ini menjadi yang pertama kalinya seorang Paus melakukannya selama beberapa dekade.

Pada Minggu pagi, Paus Leo akan merayakan misa di ruang terbuka di Lapangan Santo Petrus. Ia kemudian akan menyampaikan pesan Paskah dan berkat “Urbi et Orbi” atau berkat kepausan “kepada kota (Roma) dan dunia.” (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti