PERANG TIMUR TENGAH

Paus Leo XIV Bersedih Rakyat Tak Bersalah Tewas di Timur Tengah

Perang di Iran kini meluas ke kawasan, termasuk antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Tel Aviv berencana membuat kampanye perang lebih lama di Lebanon.

10 Mar 2026 19:00 WIB · Internasional

AFP/TIZIANA FABI

Oleh Elsa Emiria Leba

VATIKAN, SELASA — Paus Leo XIV bersedih atas kematian rakyat tidak bersalah di Timur Tengah. Situasi semakin mengkhawatirkan karena perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran meluas di kawasan, termasuk Lebanon.

Juru Bicara Vatikan Matteo Bruni mengatakan, Paus Leo mengikuti perkembangan peristiwa di kawasan tersebut dengan penuh keprihatinan. Paus berdoa agar permusuhan segera berakhir.

”Paus Leo XIV menyampaikan dukacita mendalam atas semua korban pengeboman yang tidak bersalah di Timur Tengah beberapa hari terakhir ini, termasuk anak-anak dan Pastor Pierre al-Rai, di Al-Qlayaa,” bunyi pernyataan Kantor Pers Takhta Suci, dikutip kantor berita AFP, Selasa (10/3/2026).

Pastor Rai (50) merupakan pemimpin di Gereja Katolik Maronit, Lebanon selatan. Menurut Pastor Toufic Bou Merhi dari Custody of Holy Land, Rai meninggal akibat luka setelah terkena tembakan tank Israel yang menghantam sebuah rumah. Dia hendak membantu seorang umat paroki yang terluka dalam serangan sebelumnya.

Sejak perang AS-Israel versus Iran pecah pada 28 Februari 2026, Lebanon terseret. Kelompok Hizbullah di Lebanon menyerang Israel dengan roket untuk membalas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Israel membalas dengan serangan udara sehingga memicu gelombang pengungsi di Lebanon.

Asap mengepul setelah serangan udara Israel menghantam desa Taybeh di Lebanon selatan, terlihat dari Marjayoun, Selasa (10/3/2026). Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah pekan lalu setelah kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran menyerang Israel sebagai respons atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat–Israel pada 28 Februari 2026.
Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon, Senin (9/3/2026). Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak pecahnya pertempuran pekan lalu meningkat menjadi 486 orang, dengan 1.313 lainnya terluka.

Merhi mengatakan, di ibu kota Beirut saja, terdapat hampir 500.000 pengungsi. Biara Fransiskan di Kota Tyre menampung sekitar 200 pengungsi. ”Kami menerima mereka. Di mana lagi mereka yang membutuhkan dapat menemukan tempat berlindung dalam situasi ini?” ujarnya kepada EWTN News.

Pekan lalu, seorang diplomat Vatikan memperingatkan, serangan AS-Israel merusak hukum internasional karena negara-negara tidak berhak melancarkan serangan preventif. Peringatan itu kritik keras terhadap AS-Israel.

Paus Leo XIV selalu menyerukan perdamaian di Timur Tengah tanpa menyebut pihak yang terlibat. ”Di samping episode kekerasan dan kehancuran serta iklim kebencian dan ketakutan yang meluas, ada kekhawatiran konflik dapat menyebar dan negara-negara lain di kawasan, termasuk Lebanon, dapat terjerumus lagi ke dalam ketidakstabilan,” kata Paus Leo XIV dalam doa Angelus di Lapangan Santo Petrus, Minggu (8/3/2026).

Paus Leo XIV menaruh perhatian khusus kepada Lebanon. Tahun lalu, ia mengadakan kunjungan apostolik ke Turki dan Lebanon. Lebanon merupakan salah satu negara dengan komunitas Kristen terbesar di Timur Tengah, tetapi sering bergejolak karena berbagai krisis.

Lebih lama

Israel memperkirakan serangan terhadap Lebanon akan berlangsung lebih lama daripada konfliknya dengan Iran. Pekan lalu, pejabat Israel memperkirakan, perang AS-Israel dengan Iran berlangsung selama berminggu-minggu karena dua negara itu ingin menghancurkan program nuklir, rudal balistik, dan pilar keamanan milik Iran.

Terkait Lebanon, menurut sejumlah sumber kepada Financial Times, Selasa, pasukan Pertahanan Israel (IDF) sedang mempersiapkan operasi militer panjang melawan Hizbullah. Bentrok antara mereka bahkan dapat berlanjut setelah Israel-Iran gencatan senjata.

”Operasi tersebut akan membutuhkan kesabaran. Ini akan memakan waktu yang cukup lama, Anda harus siap untuk itu. Dan, berapa pun lamanya, itu akan terjadi,” ujar Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Eyal Zamir kepada para komandan, Minggu.

Seorang sumber mengatakan, Israel ingin memastikan Hizbullah terpukul cukup parah. ”Tujuannya tidak lagi harus mengevakuasi penduduk di bagian utara,” katanya merujuk pada komunitas Israel yang dievakuasi dalam putaran pertempuran sebelumnya dengan Hizbullah.

Menurut seorang sumber, para pejabat Israel sebetulnya telah membahas serangan baru terhadap Hizbullah sebelum peluncuran serangan AS-Israel terhadap Iran. Israel dan Hizbullah sudah beberapa kali bentrok sejak Perang Hamas-Israel pecah di Jalur Gaza pada 2023, termasuk ketika Israel menyerang Lebanon pada Oktober 2024.

Asap membumbung dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan desa Jarmaq di Lebanon selatan pada Kamis (27/11/2025). Militer Israel mengatakan telah melakukan serangkaian serangan terhadap Hizbullah di Lebanon selatan meskipun ada gencatan senjata selama satu tahun dengan kelompok militan.

Konflik antara Israel dan Hizbullah kini kembali memanas karena Iran. Sejak serangan terbaru Hizbullah, pasukan Israel menyerang lebih dari 600 lokasi di seluruh Lebanon, terutama di wilayah selatan dan pinggiran selatan Beirut tempat Hizbullah berkuasa. Hal ini memicu evakuasi warga sipil Lebanon terbesar sejak berakhirnya perang 2024.

Seorang diplomat Arab mengatakan, Israel sudah menyampaikan pesan tentang rentang waktu perang yang lebih lama dengan Hizbullah itu kepada negara-negara di kawasan. Beberapa negara sedang mengupayakan diplomasi agar operasi Israel tidak meluas.

Perancis kabarnya menawarkan untuk membantu melucuti senjata Hizbullah. Sejauh ini, para pejabat Lebanon terbuka untuk pembicaraan langsung dengan Israel.

Tentara Lebanon telah mundur dari semua posisi di Garis Biru, Lebanon selatan. Para penduduk dari tiga desa melihat konvoi personel militer meninggalkan pos yang berada dekat posisi IDF di dalam Lebanon. Sementara itu, pasukan IDF dilaporkan sedang melakukan pekerjaan teknik di beberapa posisi setidaknya 1 kilometer ke wilayah Lebanon.

Pelanggaran Israel

Di tengah persiapan menuju perang panjang, organisasi Human Rights Watch (HRW) menemukan bukti bahwa Israel melanggar hukum humaniter internasional. Tel Aviv menggunakan fosfor putih di daerah permukiman di Lebanon selatan, awal bulan ini.

Dalam laporannya pada Senin, HRW yang berbasis di New York, AS, telah mengonfirmasi keaslian tujuh foto yang menunjukkan amunisi fosfor putih ditembakkan di atas permukiman di Yohmor, Lebanon selatan, serta dalam kebakaran di dua rumah. Penggunaan fosfor sebagai senjata kimia tidak sah karena berdampak buruk bagi warga sipil.

”Efek pembakaran fosfor putih dapat menyebabkan kematian atau cedera parah yang mengakibatkan penderitaan seumur hidup,” kata Ramzi Kaiss, peneliti HRW di Lebanon, kepada Al Jazeera.

Seorang pria berjalan melewati tenda-tenda pengungsi di perkemahan darurat di tepi pantai Beirut, Lebanon, Selasa (10/3/2026). Warga yang mengungsi dari pinggiran selatan kota itu masih bertahan di tempat penampungan sementara akibat serangan udara Israel. Otoritas Lebanon menyebutkan, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 486 orang dan melukai 1.313 lainnya, dengan lebih dari 660.000 orang tercatat mengungsi. Hizbullah di Lebanon dan Israel kembali berseteru karena serangan militer Amerika Serikat-Israel di Iran.
Seorang anak tidur di samping barang-barang keluarga di perkemahan darurat di tepi pantai Beirut, Lebanon Selasa (10/3/2026). Otoritas Lebanon menyebutkan, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan sedikitnya 486 orang dan melukai 1.313 lainnya, dengan lebih dari 660.000 orang tercatat mengungsi. Hizbullah di Lebanon dan Israel kembali berseteru karena serangan militer Amerika Serikat-Israel di Iran.

Fosfor putih menyala ketika terpapar oksigen sehingga dapat membakar rumah, lahan pertanian, dan obyek sipil lainnya.

Ini bukan kali pertama Israel menggunakan fosfor putih di Lebanon. Tel Aviv memakai bahan kimia itu antara Oktober 2023 dan Mei 2024 di desa-desa perbatasan di Lebanon selatan.

”Israel harus segera menghentikan praktik tersebut dan negara-negara yang memasok senjata ke Israel, termasuk amunisi fosfor putih, harus segera menangguhkan bantuan militer dan penjualan senjata serta mendorong Israel untuk berhenti menembakkan amunisi tersebut di daerah permukiman,” kata Kaiss melanjutkan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, hampir 700.000 warga, termasuk 200.000 anak-anak, mengungsi di Lebanon setelah memasuki hari ke-10 perang di Timur Tengah. Jumlah korban akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret 2026 telah meningkat menjadi 486 orang tewas dan 1.313 lainnya terluka, menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, Senin. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra