Paus Leo XIV bersama para pemimpin agama Kristen akan merayakan 1.700 tahun Konsili Nikea Pertama. Konsili itu menghasilkan kredo penyatu umat Kristen.
28 Nov 2025 18:15 WIB · Internasional
AFP/ANDREAS SOLARO
ISTANBUL, JUMAT — Selain perdamaian, kunjungan apolistik perdana Paus Leo XIV mengembuskan semangat persatuan di antara seluruh umat Kristen. Persatuan sangat penting ketika dunia terbelah karena berhadapan dengan berbagai tantangan.
Saat berada di Katedral Roh Kudus, Istanbul, Turki, Jumat (28/11/2025), Paus Leo XIV membahas Kredo Nikea. Kredo ini menjadi inti dari kepercayaan yang menyatukan 2,6 miliar umat Kristen, seperti Katolik, Ortodoks Timur, dan Anglikan di seluruh dunia, yaitu dengan berisi pengakuan bahwa Yesus setara dengan Allah Bapa.
”Kredo itu bukan sekadar rumusan doktrinal, melainkan inti hakiki iman Kristiani. Oleh karena itu, perkembangannya bersifat organik, seperti sebuah realitas hidup, yang secara bertahap menyingkapkan dan mengungkapkan inti iman yang esensial secara lebih utuh,” kata Paus.
Paus Leo XIV sedang mengadakan perjalanan apostolik perdananya. Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma itu melawat ke Turki dan Lebanon selama 27 November-2 Desember 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/28/4a75a0ef-7c45-4947-9689-1e5c0a4b6f89_jpg.jpg)
Pernyataan itu disampaikan Paus Leo XIV menjelang kunjungannya ke kota Iznik. Di Iznik, ia akan memperingati Konsili Nikea Pertama yang ke-1.700 tahun bersama tokoh agama Kristen dari Turki, Mesir, dan Israel. Paus mendapat undangan dari Patriark Ekumenis Gereja Ortodoks Bartholomeus I.
”Ketika dunia terpecah belah oleh konflik dan antagonisme, pertemuan dengan Paus Leo XIV sangatlah penting. Pertemuan ini mengingatkan umat beriman bahwa kita lebih kuat ketika bersatu dalam kesaksian dan respons terhadap tantangan dunia kontemporer,” ujar Patriark Bartholomeus I, pemimpin umat Kristen Ortodoks sedunia.
Kota Iznik, dulu bernama Nicaea, adalah tempat Konsili Nikea Pertama berlangsung ketika gereja-gereja Timur dan Barat masih bersatu. Konsili ini melahirkan Kredo Nikea.
Paus dan para pemimpin agama lain akan berdoa di reruntuhan Basilika Santo Neophytos yang terendam Danau Iznik. Reruntuhan itu diyakini sebagai lokasi Konsili Nikea berlangsung pada tahun 325 Masehi. Basilika itu dibangun sekitar 50 tahun setelah konsili.
Selain misa, Paus Leo XIV dan rekan-rekannya akan menandatangani sebuah deklarasi bersama. Deklarasi itu menjadi wujud persatuan umat Kristen.
Setelah Konsili Nikea, umat Kristen Katolik dan Kristen Ortodoks terpecah akibat perbedaan teologi, liturgi, dan politik melalui peristiwa Skisma Timur–Barat tahun 1054. Selama beberapa dekade terakhir, para pemimpin gereja berupaya memperbaiki hubungan kedua denominasi.
Pertemuan antara Paus Leo XIV dan Patriark Bartholomeus I memberi sinyal yang baik bagi hubungan kedua gereja. Minas Vasiliadis, pengelola surat kabar berbahasa Yunani di Istanbul, Apoyevmatini, mengatakan, pertemuan ini menjadi simbolisme yang luar biasa bagi kekristenan.
”Pertemuan tersebut tidak akan menyelesaikan perbedaan yang telah lama mencuat di antara umat. Setidaknya, persahabatan yang lebih erat dapat membantu kekristenan untuk menerima perbedaan dan bergerak bersama untuk memecahkan masalah-masalah sekarang,” tutur Vasiliadis kepada The New York Times.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/28/da6d33e1-6e5a-44d1-82a7-f172f6279065_jpg.jpg)
Kunjungan Paus Leo XIV terjadi ketika Gereja Kristen Ortodoks sedang mengalami tantangan. Sementara umat Katolik mengakui Paus sebagai kepala Gereja, umat Ortodoks terpecah-pecah ke gereja yang memilih pemimpin dan memiliki pemerintahan sendiri.
Bartholomeus I tetap memegang posisi kehormatan Primus Inter Pares yang berarti yang pertama di antara yang setara. Namun, jumlah umat terus menyusut selama seabad terakhir, khususnya di Turki. Penyebabnya, kekerasan agama dan diskriminasi pemerintah terhadap etnis Yunani dan lembaga-lembaga mereka.
Banyak gereja kosong atau tutup. Pemerintah Turki telah mengubah beberapa gereja menjadi masjid. Salah satunya, Hagia Sofia yang pernah menjadi gereja dan museum kini menjadi masjid. Banyak umat Kristen kecewa atas keputusan tersebut.
Di sisi lain, Gereja Kristen Ortodoks semakin terpecah-pecah. Perang Ukraina–Rusia mempertajam perbedaan pandangan antara Moskwa, Rusia, dengan Konstantinopel, Turki. Pada 2018, Konstantinopel setuju memberi Gereja Ortodoks Ukraina kemandirian penuh.
Sebelumnya, Gereja Ortodoks Ukraina berada di bawah otoritas Moskwa. Moskwa lantas memutus hubungan dengan Konstantinopel.
Bagi Paus Leo XIV, kunjungan perdana ini akan menjadi perjalanan yang padat. Pada hari pertama, Kamis (27/11/2025), Paus Leo XIV telah bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Setelah Ankara dan Iznik, ia akan mengunjungi Masjid Biru Istanbul pada Sabtu (29/11/2025) memimpin misa di Arena Volkswagen, Istanbul.
Dari Turki, Paus Leo XIV bertolak ke Lebanon, Minggu (30/11/2025). Lebanon menjadi negara dengan jumlah umat Kristen terbesar di Timur Tengah.
”Ini adalah perjalanan di mana Leo akan mempromosikan salah satu tema sentral kepausannya, perdamaian, dan ia akan menghadapi dua audiens yang berbeda,” kata Christopher White, pakar Vatikan dan penulis buku Pope Leo XIV: Inside the Conclave and the Dawn of a New Papacy (2025), menurut The Guardian.
White menjelaskan, audiens pertama Paus adalah pemimpin dunia. Turki dan Lebanon merupakan lokasi strategis untuk menggandakan upaya perdamaian di Ukraina dan Timur Tengah. Audiens kedua adalah para pemimpin Kristen karena Leo berupaya menyatukan gereja-gereja yang telah lama terpecah belah di kawasan itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/28/f22134a0-f35e-4d20-a2b7-91248868d4ba_jpg.jpg)
Perdamaian diperkirakan akan menjadi tema utama kunjungannya ke Lebanon. Saat ini, negara ini terguncang oleh dampak perang Hamas-Israel di Jalur Gaza. Perang itu memicu konflik baru antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Buntutnya, Israel menyerang Lebanon.
Lebanon turut menampung 1 juta pengungsi Suriah dan Palestina. Beirut pun tengah berjuang untuk pulih dari krisis ekonomi. Kunjungan Paus dapat menarik perhatian global ke negara tersebut.
”Kunjungan Paus ke Lebanon penting karena Vatikan secara historis menjadi pelindung utama persatuan nasional dan integritas wilayah Lebanon. Vatikan adalah salah satu otoritas moral terakhir di dunia yang berusaha sungguh mempromosikan perdamaian dan keadilan tanpa agenda tersembunyi,” tutur Karim Emile Bitar, profesor hubungan internasional di Universitas Saint Joseph Beirut.
Perjalanan luar negeri telah menjadi ciri utama kepausan modern. Melalui kunjungan apostolik, para paus melakukan kegiatan keagamaan, menyampaikan pidato kebijakan luar negeri, dan menjalankan diplomasi internasional. Kunjungan semacam itu menarik perhatian internasional dan umat, terkadang mencapai jutaan orang. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji