Paus Leo XIV mengungkapkan harapan bahwa terpilihnya dia bisa membantu Gereja Katolik membawa cahaya bagi ”malam-malam yang gelap di dunia”.
09 Mei 2025 17:49 WIB · Internasional
VATIKAN, JUMAT — Paus Leo XIV merayakan misa perdana sebagai Paus, Jumat (9/5/2025), di Kapel Sistina bersama para kardinal yang memilihnya. Mengenakan jubah putih, Paus Leo masuk ke kapel, memberikan berkat kepada para kardinal dan altar berlatar lukisan Michaelangelo, ”Penghakiman Terakhir”.
Di tempat itulah, pada Kamis (8/5/2025), para kardinal memilih Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus ke-267, menggantikan Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2025. Ia merupakan paus kelahiran Amerika Serikat pertama.
Setelah asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina menandakan terpilihnya paus baru, Paus Leo XIV (69) muncul di balkon Basilika Santo Petrus untuk menyapa umat, memberikan berkat, dan menyampaikan pidato pertama. Ia mengajak gereja menjadi jembatan bagi dialog dan perdamaian.
Pada misa perdana, Paus Leo XIV mengungkapkan harapan bahwa terpilihnya dia bisa membantu Gereja Katolik membawa cahaya bagi ”malam-malam yang gelap di dunia”. Gereja menjadi besar bukan karena bangunan-bangunan megah, melainkan karena kesucian para anggotanya.
Dalam homili, Paus Leo XIV meminta agar Gereja menggapai mereka yang berada di wilayah-wilayah dengan keimanan yang kurang, tempat orang lebih memilih teknologi, uang, kesuksesan, kekuasaan, dan kesenangan.
Di hadapan para kardinal, ia berharap bisa menjadi ”pengurus tepercaya” atas seluruh gereja. Dalam bahasa Inggris, Paus Leo XIV mengatakan, ”Anda meminta saya memanggul salib dan diberkati” dan meminta bantuan mereka untuk menyebarkan iman Katolik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/09/d12c65e9a3c1a470174fccd222a3942c-Vatican_Pope_129611233.jpg)
Ini pertama kali Paus Leo menggunakan bahasa Inggris. Dalam pidato perdana, ia menyampaikan dalam bahasa Italia dan Spanyol. Paus Leo menguasai lima bahasa, yakni Inggris, Perancis, Italia, Spanyol, dan Portugis.
Paus Leo XIV lahir di Chicago, Amerika Serikat, tetapi selama puluhan tahun berkarya di Peru. Sebelum ia terpilih, para kardinal dari AS banyak ”dikesampingkan” karena asumsi bahwa gereja global tidak bisa dijalankan oleh paus dari negara adidaya. Pengalaman karyanya di Peru membuat Paus Leo XIV memiliki pemahaman mendalam tentang Barat dan negara berkembang.
Ia dikenal dekat dengan warga Peru, terutama kalangan miskin. Ia tak segan turun tangan sendiri untuk membantu mereka.
Ia pun memilih nama Leo untuk kepausannya sebagai tanda ia akan memprioritaskan isu-isu keadilan sosial. Nama itu juga menandakan kesinambungan dengan pelayanan global mendiang Paus Fransiskus.
”Bersama-sama, kita harus mencari tahu bagaimana menjadi gereja misioner, gereja yang membangun jembatan, menegakkan dialog, selalu terbuka untuk menerima—sama halnya dengan lapangan ini—menerima semua orang yang perlu welas asih, kehadiran, dialog, dan cinta kita,” ujar Paus Leo XIV di balkon Basilika Santo Petrus.
Dunia ini akan menyaksikan bagaimana karya kepausan Paus Leo XIV. Dia menghadapi banyak persoalan, baik internal gereja maupun masalah global. Ada dua perang besar, krisis imigran dan pengungsi, juga krisis iklim. Secara khusus, banyak orang akan melihat bagaimana dia sebagai Paus kelahiran AS berhubungan dengan Pemerintah AS yang saat ini dipimpin Presiden Donald Trump.
Trump memberikan selamat atas terpilihnya Paus Leo XIV. ”Selamat kepada Kardinal Robert Francis Prevost, yang baru saja dinobatkan sebagai Paus. Merupakan suatu kehormatan, mengetahui bahwa ia adalah Paus Amerika pertama. Sungguh menggembirakan, dan merupakan kehormatan besar bagi negara kita,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/09/a372768a0eeae57113b3cc9a1f66e08a-Vatican_Pope_129610792.jpg)
Para pemimpin dunia lainnya, termasuk Indonesia, juga mengucapkan selamat. Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan Michael Trias Kuncahyono bersyukur dan mengucapkan selamat atas terpilihnya pemimpin baru Gereja Katolik yang juga pemimpin Takhta Suci. Ia juga berharap Paus Leo XIV melanjutkan langkah yang telah dirintis mendiang Paus Fransiskus untuk mengusahakan perdamaian dunia, keadilan sosial, dan kerukunan antaragama.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, ”Pada momen yang menentukan bagi negara kita ini, kami berharap dukungan moral dan spiritual yang berkelanjutan dari Vatikan dalam upaya Ukraina untuk memulihkan keadilan dan mencapai perdamaian abadi.”
Sementara dari Rusia, Presiden Vladimir Putin juga mengungkapkan harapannya. ”Saya yakin bahwa dialog dan kerja sama yang konstruktif yang terjalin antara Rusia dan Vatikan akan terus berkembang atas dasar nilai-nilai Kristen yang mempersatukan kita.”
Dari Israel, Presiden Isaac Herzog berharap dapat meningkatkan hubungan antara Israel dan Takhta Suci dan memperkuat persahabatan antara orang Yahudi dan Kristen di Tanah Suci dan di seluruh dunia. ”Semoga kepausan Anda menjadi salah satu upaya membangun jembatan dan pemahaman antara semua agama dan bangsa,” katanya.
Presiden Palestina Mahmud Abbas melalui pernyataan resmi menyampaikan harapan terbaiknya untuk keberhasilan Paus Leo XIV dalam melanjutkan pekerjaan mulianya, dan mempertahankan warisan mendiang Paus Fransiskus dan upaya perdamaiannya. Abbas menekankan pentingnya peran moral, agama, dan politik Takhta Suci dalam membela tujuan yang adil. Terutama tujuan rakyat Palestina dan hak mereka atas kebebasan dan kemerdekaan. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Retma Wati