Paus Leo XIV, Sosok Lemah Lembut yang Mengabdi Tanpa Batas

Para uskup bahkan menyebut Prevost sebagai santo, Santo dari Utara.  ”Dia punya waktu untuk semua orang.”

09 Mei 2025 14:38 WIB · Tokoh

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Para kardinal Gereja Katolik Roma mematahkan tradisi kala memilih Kardinal Robert Francis Prevost menjadi paus ke-267 dengan nama Paus Leo XIV. Namun, dengan latar belakang dan kiprahnya, sepertinya para kardinal yakin, paus baru ini siap untuk menyongsong berbagai tantangan dunia pada abad ke-21.

Prevost sebenarnya masuk dalam daftar kandidat pengganti Paus Fransiskus. Akan tetapi, telah lama ada semacam tabu memilih paus yang berasal dari Amerika Serikat karena status geopolitik negara itu sebagai adidaya. Meski demikian, Kardinal Prevost telah lama hidup dan mengabdi di Peru, yang berbeda dengan status AS.

Banyak pihak tidak menduga seorang kardinal kelahiran AS akan menjadi paus. Uskup Agung St Paul dan Minneapolis Bernard Hebda kepada wartawan mengatakan, dia tidak pernah mengira akan menyaksikan seorang paus dari Amerika. Terlebih bagaimana paus itu nantinya akan berurusan dengan presiden AS, terutama Donald Trump saat ini.

”Bagaimana Bapa Suci dapat menangani Presiden Trump, misalnya. Atau siapa pun presiden Amerika. Apakah hubungan itu terlalu dekat atau terlalu jauh? Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang paus Amerika. Tetapi, saya sangat yakin, Paus Leo akan melakukan pekerjaan luar biasa dalam menangani hal itu,” ujar Hebda.

Menurut pengamat, terpilihnya paus kelahiran AS mengirimkan pesan kepada Gereja Amerika yang sangat terbelah antara konservatif dan progresif. ”Saya kira sangat seru melihat Katolik Amerika yang berbeda,” kata Natalia Imperatori-Lee, Ketua Studi Religius Universitas Manhattan di Bronx, AS.

Barangkali karena banyak keterbelahan itulah, Paus Leo XIV pada pidato perdananya menyerukan agar gereja menjadi jembatan: antara negara maju dan negara kurang maju, antara konservatif dan progresif, dan antarumat manusia. ”Bersama-sama, kita harus mencari tahu bagaimana menjadi gereja misioner, gereja yang membangun jembatan, menegakkan dialog, selalu terbuka untuk menerima—sama halnya dengan lapangan ini—menerima semua orang yang perlu welas asih, kehadiran, dialog, dan cinta kita,” ujar Paus Leo XIV di balkon Basilika Santo Petrus.

Newly elected Pope Leo XIV, Robert Francis Prevost (L) addresses the crowd from the main central loggia balcony of the St Peter's Basilica for the first time, after the cardinals ended the conclave, in The Vatican, on May 8, 2025. Robert Francis Prevost was on Thursday elected the first pope from the United States, the Vatican announced. A moderate who was close to Pope Francis and spent years as a missionary in Peru, he becomes the Catholic Church's 267th pontiff, taking the papal name Leo XIV. (Photo by Andrej ISAKOVIC / AFP)

Lemah lembut

Paus Leo XIV dikenal sebagai sosok yang bertutur kata lemah lembut. Selama menjalani imamatnya, ia menghindari menjadi pusat perhatian. Sangat sedikit wawancara dengan media yang dia berikan.

Prevost lahir di Chicago, Negara Bagian Illinois, Amerika Serikat, pada 14 September 1955. Ayahnya, Louis Marius Prevost, veteran Angkatan Laut AS pada Perang Dunia II, keturunan Perancis-Italia. Ibundanya, Mildred Martinez, pustakawan keturunan Spanyol. Ia memiliki dua saudara laki-laki, Louis Martin dan John Joseph.

Tentang keluarganya, Prevost mengatakan dalam wawancara dengan televisi Italia, RAI, sebelum konklaf. ”Saya lahir di Amerika Serikat. Tetapi, kakek nenek saya semuanya imigran, Perancis, Spanyol. Saya dibesarkan dalam keluarga Katolik, kedua orangtua saya sangat terlibat di paroki,” ujarnya.

Tak heran, Prevost menguasai banyak bahasa, yakni Inggris, Spanyol, Italia, Perancis, dan Portugis. Pidato perdana sebagai Paus Leo XIV disampaikan dalam bahasa Italia dan Spanyol.

Lantaran orangtuanya aktif di gereja, sejak kecil Prevost pun banyak berpartisipasi dalam kegiatan gereja. Ia menjadi misdinar dan bersekolah di seminari yang dikelola Ordo Santo Agustinus. Itulah sebabnya, pelayanan telah mendarah daging dalam hidupnya.

Prevost lantas bergabung dengan Ordo Santo Agustinus (OSA) pada 1977. Dia belajar di Universitas Villanova di dekat Philadelphia dan meraih gelar sarjana sains pada 1977. Prevost meraih gelar master teologi dari Catholic Theological Union di Chicago tahun 1982.

Parishioners hold up a banner of newly elected Pope Leo XIV at the Santa Maria Cathedral, the episcopal see of the Diocese of Chiclayo, Peru, where he served as bishop, Thursday, May 8, 2025. (AP Photo/Guadalupe Pardo)

Pelayanan misionarisnya dimulai tahun 1985 di Keuskupan Chulucanas, Piura, Peru. Kemudian ia berkarya di Trujillo selama satu dasawarsa.

Pada 1999, Prevost terpilih sebagai prior provinsial atau pimpinan Ordo Santo Agustinus di Chicago. Ia lalu terpilih sebagai prior jenderal atau pemimpin utama Ordo Santo Agustinus sedunia periode 2001-2013.

Kala menjabat sebagai prior jenderal, Prevost pernah berkunjung ke Papua. Laman sesawi.net menyebutkan, ia mengunjungi Sorong dan Manokwari di Papua Barat pada perayaan 50 tahun karya misi Ordo Santo Agustinus di Papua.

Pada 2014, Paus Fransiskus mengutus Prevost ke Chiclayo, Peru, menjadi uskup agung. Dia kemudian memiliki kewarganegaraan Peru tahun 2015.

Maka, warga Peru bersukaria menyambut paus baru dari daerah mereka. Lonceng katedral di ibu kota Lima berdentang setelah pengumuman terpilihnya Prevost sebagai paus. ”Bagi kami orang Peru, sungguh kebanggaan bagi kami paus mewakili negara kami. Kami ingin dia mengunjungi Peru,” ujar Isabel Panez, guru SD.

Truk rusak

Di Peru, Prevost dikenal dengan pengabdiannya yang tanpa batas. Ia rela menelusuri jalanan berlumpur setelah hujan deras, membawa bantuan bagi orang-orang yang membutuhkan. Sebagai uskup, ia memelopori pembelian pabrik produksi oksigen yang menyelamatkan banyak nyawa selama pandemi Covid-19. ”Dia tak masalah memperbaiki truk rusak sampai bisa jalan lagi,” kenang Janinna Sesa, pekerja di lembaga Caritas.

Prevost sangat dekat dengan warga Peru, terutama warga miskin. Dia juga pejuang isu keadilan sosial dan lingkungan. Alexander Lam, biarawan Ordo Santo Agustinus di Peru, menuturkan, para uskup bahkan menyebut Prevost sebagai santo, ”Santo dari Utara”. ”Dia punya waktu untuk semua orang,” ujar Lam. Kala Paus Fransiskus berkunjung ke Peru pada 2018, Prevost berkemah bersama umat di lapangan sembari menanti misa bersama paus.

Prevost jatuh cinta pada masakan Peru, terutama ceviche, selama dua dekade berkarya di negara itu. Uskup Agung Chiclayo Edison Farfan mengatakan, daging kambing, bebek, dengan nasi dan ceviche adalah hidangan favorit Prevost.

Parishioners hold a photo of Bishop Robert Prevost, elected Pope Leo XIV, after Mass at the Cathedral of Chiclayo, Peru, where he served as bishop for several years, Thursday, May 8, 2025. (AP Photo/Guadalupe Pardo)

Karya Prevost di Peru berakhir kala Paus Fransiskus memanggilnya ke Roma pada 2023. Ia dipercaya menjadi Prefek Dikasteri untuk Para Uskup, salah satu posisi paling strategis dalam Kuria Roma. Prevost juga ditugaskan sebagai Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin. Jabatan itu cukup penting artinya karena turut membuka jalan bagi terpilihnya Prevost sebagai paus. Pada awal 2025, Paus Fransiskus mengangkat Prevost ke jajaran kardinal paling senior.

Kala di Roma, Prevost juga tidak banyak tersorot media. Namun, ia juga tak segan muncul di media sosial. Kala Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan orang Kristen harus mencintai keluarga, tetangga, dan komunitasnya lebih dulu, Prevost langsung membalasnya. ”JD Vance salah: Yesus tidak meminta kita merangking cinta kita bagi orang lain,” tulisnya di X.

Dia memiliki akun X selama 14 tahun dan telah menulis lebih dari 400 unggahan. Isu unggahannya merentang dari rasisme, pelecehan seksual, Covid-19, hingga invasi Rusia ke Ukraina.

Prevost juga menuntut lebih banyak tindakan dari Gereja untuk menghukum anggotanya yang terlibat pelecehan seksual. ”Jika Anda korban pelecehan seksual oleh pastor, laporkan. Kami menolak menutup-nutupi dan merahasiakan, kasus-kasus itu sangat merugikan. Kita harus membantu orang-orang yang menderita karena kesalahan,” ujarnya kepada surat kabar Peru, La Republica, bulan ini.

Paus Leo XIV bertekad melanjutkan warisan Paus Fransiskus. Karya misi dan kiprahnya telah dengan sendirinya menyuarakan hal itu. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti