Paus ”Reformis-Welas Asih”

Paus Fransiskus menggunakan kepausan untuk mengedepankan pesan pastoral tentang inklusi radikal, suara untuk kelompok terpinggirkan, kaum miskin, dan orang luar.

21 Apr 2025 19:27 WIB · Opini

Oleh Michael Trias Kuncahyono

Kesederhanaan dan kerendahan hatinya menjadikannya sebagai sosok yang populer di seluruh dunia. Kepausannya dicirikan oleh kegembiraan, kesederhanaan, dan pendekatan pastoralnya yang lembut. Berkat kata-kata dan sikap inklusifnya, banyak orang yang merasa dikucilkan oleh Gereja merasa nyaman untuk kembali.

Maka, Paus Jesuit pertama dan Paus non-Eropa pertama dalam lebih dari 1.200 tahun ini sangat berbeda dari para pendahulunya dalam gaya blak-blakan dan pendekatannya memimpin Gereja. Komentarnya mengenai kemiskinan, reformasi Gereja, perubahan iklim, dan perceraian telah menjadi berita utama di seluruh dunia.

Penekanan terhadap masyarakat miskin dan gayanya yang lebih mirip pastor paroki, meskipun memiliki lebih dari satu miliar umat, telah mengubah persepsi seorang Paus. Bahkan, dalam beberapa minggu setelah pemilihannya. Hal itu, antara lain, sangat terlihat saat berkunjung ke Indonesia, September 2024. Paus mudah didekati siapa pun, selain dengan senang mendekati semuanya.

Namun, langkah perubahan yang dicanangkan sejak awal masa kepausaan telah membuat guncangan, terutama di kalangan kaum konservatif, tradisionalis. Namun, perubahan itu ditanggapi sukacita oleh mereka yang berpegang teguh pada ungkapan Latin, Ecclesia semper reformanda, ”Gereja selalu membutuhkan reformasi”.

Sebuah pertarungan

Reformasi sesungguhnya adalah soal mengubah hati dan memberikan pelayanan. Namun, misi tersebut segera memunculkan pertarungan antara ”kaum liberal” atau ”progresif” dan ”kaum konservatif” atau ”tradisionalis”. Istilah tersebut merupakan klasifikasi yang licin dan menyesatkan. Barangkali yang lebih pas adalah terjadi perbenturan antara mereka yang percaya bahwa Gereja harus menetapkan agenda bagi dunia, dan yang berpendapat bahwa dunia harus menetapkan agenda bagi Gereja.

Apa pun yang terjadi, pertanyaannya adalah akan dikenang sebagai siapa Paus Fransiskus yang wafat hari Senin (21/4/2025) pukul 07.35 waktu Roma. Paus yang lahir di Buenos Aires, Argentina, 17 Desember 1936 dengan nama Jorge Mario Bergoglio dari pasangan imigran Italia, adalah yang pertama dalam banyak hal.

Paus pertama dari luar Eropa (sejak Paus Gregorius III, dipilih tahun 741). Paus pertama dari Benua Amerika; Paus pertama dari Argentina; Paus pertama dari Serikat Jesus (SJ); Paus pertama yang memilih nama Fransiskus (dari Asisi); Paus pertama yang tidak tinggal di Istana Apostolik melainkan di wisma tamu; dan Paus pertama yang secara tegas menyatakan fokus penggembalaannya ke pinggiran dunia.

Dalam hal ini, istilah periferi tidak semata berarti secara geografis, tetapi juga pinggiran eksistensial: misteri dosa, penderitaan, ketidakadilan, ketidaktahuan, dan ketidakpedulian terhadap agama, arus intelektual, dan segala kesengsaraan. Ke sanalah Gereja dipanggil; untuk keluar dari dirinya sendiri dan pergi ke pinggiran.

Reformis-welas asih

Paus Fransiskus telah menjadi seorang reformis sejak hari pertama masa kepausannya. Ia melakukan reformasi dengan cara yang mungkin tidak diharapkan banyak orang. Pada penampilan pertamanya, di balkon Basilika Santo Petrus, 11 Maret 2013 malam dalam kesederhanaan tanpa menggunakan mozzetta (mantel merah paus), Paus menyapa umat secara informal, ”Buonasera”, Selamat sore.

Ia meminta umat untuk mendoakannya, sebelum memberkatinya. Mengapa minta didoakan? ”Peccator sum,” katanya. Saya orang berdosa. Lalu mengatakan, ”Sekarang saya akan memberikan berkat kepada Anda dan kepada seluruh dunia, kepada semua orang (laki-laki dan perempuan) yang berkehendak baik….”

Di sini jelas, Paus dari ”end of the world” ini, tidak hanya memberikan berkatnya kepada orang Katolik, tetapi kepada seluruh manusia di dunia, kepada mereka yang berkendak baik, siapa pun mereka, apa pun agama dan keyakinan mereka. Dengan itu, Paus ingin menjangkau semua orang di luar batas Gereja. Maka, lalu Paus konsisten mendesak Gereja terlibat di dalam kehidupan dunia, terutama kehidupan mereka yang paling membutuhkan.

Sementara itu, reformasi dilakukan mulai dari mendesentralisasikan kekuasaan, meningkatkan transparansi, memberantas korupsi, dan meningkatkan pengawasan terhadap investasi dan Bank Vatikan, dan memberikan peran yang lebih besar bagi awam dan perempuan. Misalnya, memberikan peran yang lebih kepada perempuan dalam pelayanan Gereja, bahkan dilibatkan dalam sinode; dan terakhir mengangkat Suster Raffaella Petrini sebagai Gubernur Negara Kota Vatikan. Paus juga merangkul kaum LGBT+.

Maka ketika ditanya, apakah ada ”gay lobby” di Vatikan, Paus memberikan jawaban yang sangat mengejutkan, ”If a person is gay and seeks God, and has good will, who am I to judge?” Paus memang tidak pernah menghakimi orang. Sikap demikian lahir dari politik kemurahan hati dan inklusi yang dihayatinya.

Vatikan adalah bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk mempertahankan dan mengembangkan politiknya itu. Dunia telah menyaksikan semangat welas asih-nya itu. Ini wajah kepausannya. Dengan memilih nama Fransiskus dari Asisi, santo pelindung masyarakat miskin dan pencinta perdamaian, wajah kepausannya semakin nyata.

Paus Fransiskus membawa setangkai mawar putih kepada Perawan Maria selama audiensi umum mingguan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada 9 Desember 2015. Paus Fransiskus meninggal pada 21 April 2025.
Paus Fransiskus berpartisipasi dalam konferensi umum State on Natality di di Roma, Italia pada 10 Mei 2024. Paus Fransiskus meninggal pada 21 April 2025, demikian diumumkan Vatikan.
Paus Fransiskus setibanya di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 3 September 2024.
Infografik-Paus Fransiskus *** Local Caption *** Infografik-Paus Fransiskus

Dengan itu, Paus Fransiskus membawa Gereja keluar dari dirinya sendiri, keluar dari kepompongnya yang pengap. Ia merangkul semua orang, untuk bersama-sama menciptakan perdamaian dunia—terus mendorong usaha perdamaian di Timur Tengah, Myanmar, Ukraina, Yaman, Nigeria, dan negara yang dibelengggu konflik. Ia mengajak dan memberi contoh saling peduli dan menghormati, meruntuhkan tembok penyekat (Deklarasi Abu Dhabi), untuk merawat lingkungan hidup sebab dunia rumah kita bersama (Laodato Si).

Hal itu dibuktikan. Pertemuannya dengan Imam Besar Masjid Al-Azhar, Kairo, Mesir Ahmed Mohamed Ahmed el-Tayeb yang dimahkotai dengan penandatanganan Deklarasi Abu Dhabi (Human Fraternity for World Peace and Living Together, 4 Februari 2019) dan dengan salah seorang pemimpin paling senior Shiah, Grand Ayatollah Ali al-Sistani di Najaf, Irak (6 Maret 2021) menjadi, antara lain, perwujudan dari misinya untuk merangkul semua pihak; untuk menciptakan perdamain, hidup berdampingan secara damai, saling menghormati.

Berjalan bersama

Sejak hari pertama masa kepausannya, dengan mengatakan ”Mari kita mulai perjalanan ini,” Paus melakukan langkah baru: mengajak semua pihak berjalan bersama, dengan ia sebagai pemimpinnya; untuk mencapai puncak bersama.

Inilah pemimpin yang sesungguhnya. Banyak pemimpin yang memaknai perjalanan itu sebagai perjalanannya sendiri, milik mereka. Dan, orang lain (termasuk rakyat) harus mendukung perjalanan mereka, demi keberhasilan mereka sendiri. Maka, kalau sampai puncak, pemimpin seperti itu akan sampai puncak sendiri, mengibarkan bendera untuk dirinya sendiri. Tidak demikian dengan Paus Fransiskus.

Maka, Paus menegaskan posisi dan sikapnya: menjadi paus yang pertama dan utama bukanlah kekuasaan, melainkan pelayanan. Kepemimpinan berarti pelayanan. Gembala domba harus berbau domba. Para imam, romo harus bersikap ”lemah lembut, sabar, dan penuh belas kasihan” dengan ”kesederhanaan lahiriah dan kehidupan yang keras”. Paus mengambarkan, Gereja Katolik yang baru adalah Gereja Katolik yang lebih rendah hati dan sederhana.

Ini terjelaskan dalam prioritas pastoral Gereja. Ia menginginkan sebuah Gereja miskin yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin, Gereja yang dapat melayani, mendampingi, dan membela masyarakat miskin. Ia menggambarkan Gereja sebagai rumah sakit lapangan bagi mereka yang terluka, bukan country club bagi orang kaya dan cantik. Penekanannya adalah pada kasih sayang, belas kasihan, dan rekonsiliasi.

Meskipun tidak mengubah doktrin—misalnya, doktrin pernikahan Katolik yakni antara laki-laki dan perempuan, berdasarkan dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes §48; memperbolehkan pemberkatan pasangan sesama jenis, asal bukan pernikahan—Paus Fransiskus ”revolusioner” dalam segala hal.

Pada akhirnya, kita mencatat setelah 12 tahun, Paus Fransiskus menggunakan kepausan untuk mengedepankan pesan pastoral tentang inklusi radikal—pesan yang memberikan suara kepada kelompok yang terpinggirkan, masyarakat miskin dan orang luar. Di zaman yang gelap dan terpolarisasi, Gereja seperti itu akan menjadi aset dan teladan. Hasil yang baik dari usaha besar Paus Fransiskus akan menjadi hal yang baik bagi dunia.

Selamat jalan, Bapa Suci Paus Fransiskus… et vitam aeternam….

Trias Kuncahyono Duta Besar RI untuk Tahta Suci Vatikan


Kerabat Kerja

Penulis:

Michael Trias Kuncahyono
 | 

Editor:

Marcellus Hernowo, Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul