Dari sejumlah pekerjaan yang berpotensi digantikan kecerdasan buatan, jurnalis menjadi yang paling bisa diterima, sementara hakim paling ditakutkan publik.
22 Feb 2025 07:45 WIB · Humaniora
Saat ini, orang-orang tidak lagi terkejut dengan penampakan robot di gudang atau suara mesin yang menjawab panggilan mereka ke layanan pelanggan. Dengan kemajuan kecerdasan buatan atau AI, sejumlah pekerjaan lain juga bakal tergantikan AI, tak terkecuali dokter, hakim, manajer, pengasuh, pemimpin agama, hingga jurnalis, setidaknya dalam berbagai elemen pekerjaannya.
Namun, apakah Anda akan membiarkan robot menjadi pengasuh orangtua yang sudah lanjut usia? Apakah Anda akan merasa puas mendengar ceramah keagamaan yang dibacakan oleh mesin? Bagaimana reaksi Anda saat menerima diagnosis dari dokter berbasis AI? Apakah Anda akan mengandalkan berita yang sepenuhnya ditulis oleh mesin? Apakah Anda akan lebih senang bekerja di bawah manajer AI? Apakah Anda akan memercayai putusan pengadilan yang disampaikan oleh hakim AI?
Sepuluh tahun lalu, deretan pertanyaan itu mungkin terasa absurd karena kebanyakan orang belum memiliki pengalaman langsung melihat AI dalam pekerjaan tersebut. Namun, dengan pesatnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari, deretan pertanyaan itu menjadi semakin nyata. Masalahnya saat ini, bukan lagi teknis bisa atau tidak AI menggantikan pekerjaan-pekerjaan itu, tetapi apakah manusia mau menerimanya.
Studi terbaru para peneliti Max Planck Institute for Human Development, Jerman, memperlihatkan persepsi masyarakat tentang AI yang menggantikan pekerja manusia. ”Dalam penelitian ini, kami menyelidiki ketakutan yang dimiliki orang-orang terhadap penerapan AI dalam pekerjaan manusia, emosi berorientasi masa depan yang biasanya didasarkan pada risiko, ketidakpastian, dan potensi bahaya,” tulis Mengchen Dong, penulis pertama laporan itu, yang diterbitkan di American Psychologist pada Desember 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/219ab00c-1409-471a-9486-15ca8faec5af_jpg.jpg)
Peneliti berupaya mengungkap perbedaan cara orang memandang keterlibatan AI dalam enam pekerjaan utama, yaitu dokter, hakim, manajer, pengasuh, pemimpin agama, dan jurnalis. Temuan tersebut memberikan gambaran bagaimana perkembangan teknologi ini akan diterima di berbagai negara, termasuk jenis pekerjaan yang mungkin bakal lebih dulu digantikan AI.
Lebih dari 10.000 peserta dari 20 negara, termasuk Amerika Serikat, India, Arab Saudi, Jepang, dan China, diminta mengevaluasi keenam pekerjaan ini menggunakan delapan ciri psikologis: kehangatan, ketulusan, toleransi, keadilan, kompetensi, tekad, kecerdasan, dan imajinasi. Mereka juga menilai potensi AI untuk meniru sifat-sifat ini dan mengungkapkan tingkat ketakutan mereka akan teknologi AI dalam mengambil alih peran-peran ini.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketika AI diperkenalkan ke dalam pekerjaan baru, orang secara naluriah membandingkan sifat-sifat manusia yang diperlukan untuk pekerjaan itu dengan kemampuan AI menirunya. Khususnya, tingkat ketakutan yang dirasakan para peserta secara langsung terkait ketidaksesuaian antara sifat-sifat manusia dan kemampuan AI.
Para peneliti mengungkapkan perbedaan substansial dalam tingkat ketakutan antarnegara. Orang-orang di India, Arab Saudi, dan AS melaporkan tingkat ketakutan rata-rata tertinggi, khususnya mengenai AI dalam peran seperti hakim dan dokter. Sebaliknya, negara-negara seperti Turki, Jepang, dan China menunjukkan tingkat ketakutan terendah, yang menunjukkan bahwa faktor-faktor budaya, seperti pengalaman historis dengan teknologi, narasi media, dan kebijakan AI, secara signifikan membentuk sikap.
Ketakutan terkait AI di Jerman bersifat moderat, berada di antara tingkat yang lebih tinggi dan lebih rendah yang diamati. Titik tengah ini menyoroti optimisme yang hati-hati terhadap integrasi AI ke dalam masyarakat.
Para peneliti juga menunjukkan perbedaan ketakutan pada pekerjaan tertentu. Hakim secara konsisten menduduki peringkat sebagai pekerjaan AI yang paling ditakuti di hampir semua negara, yang mencerminkan kekhawatiran tentang keadilan, transparansi, dan penilaian moral.
Peran lain, seperti dokter dan pekerja perawatan yang digerakkan oleh AI, menimbulkan ketakutan yang kuat di beberapa negara karena kekhawatiran tentang kurangnya empati dan pemahaman emosional AI.
Dampak buruk dapat terjadi setiap kali AI diterapkan dalam pekerjaan baru. Tugas penting adalah menemukan cara untuk meminimalkan dampak buruk, memaksimalkan dampak positif.
Hal ini sejalan dengan temuan studi sebelumnya tentang manajer AI, ketika para peneliti mengidentifikasi indikasi awal bahwa orang bereaksi sangat negatif terhadap manajer AI dibandingkan dengan rekan kerja AI atau alat AI yang membantu pekerjaan. Reaksi negatif ini sangat kuat di area manajemen yang membutuhkan kemampuan manusia, seperti mendengarkan dengan empati atau perilaku yang penuh hormat.
”Dampak buruk dapat terjadi setiap kali AI diterapkan dalam pekerjaan baru. Tugas penting adalah menemukan cara untuk meminimalkan dampak buruk, memaksimalkan dampak positif, dan mencapai kondisi di mana keseimbangan dampak dapat diterima secara etis,” kata Mengchen Dong.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/22/dbb7ea5b3acd27b48777d2df9ed459d1-Screenshot_2025_02_22_at_07_30_47_2025_56995_001.pdf.png)
Jika hakim paling ditakuti untuk digantikan AI, sebaliknya jurnalis yang digerakkan oleh AI adalah yang paling bisa diterima. Hal ini kemungkinan karena orang-orang menganggap jurnalis AI bisa menjaga otonomi, tidak seperti keputusan pengadilan, yang menawarkan kebijaksanaan pribadi yang terbatas.
Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih bisa menerima jika suatu ketika profesi jurnalis digantikan AI. Mengacu pada temuan ini, profesi jurnalis termasuk yang paling bisa diterima publik jika digantikan AI.
AI generatif memang dapat digunakan di banyak bagian jurnalisme. Misalnya, seorang fotografer dapat meliput sebuah acara. Kemudian, perangkat AI generatif dapat memilih gambar yang ”dianggap” terbaik, mengedit gambar untuk mengoptimalkannya, dan menambahkan kata kunci ke setiap gambar.
Sekalipun demikian, banyak peneliti mengingatkan tentang bahaya penggantian AI dalam jurnalisme. TK Thomson, dosen komunikasi visual dan media digital di RMIT University, dan tim dalam artikelnya di The Conversation pada 17 Februari 2025 mengingatkan, aplikasi edit foto otomatis bisa jadi berbahaya.
”Bagaimana jika AI mengidentifikasi sesuatu atau seseorang secara tidak tepat dan kata kunci ini menyebabkan kesalahan identifikasi pada keterangan foto? Bagaimana jika kriteria yang menurut manusia menghasilkan gambar ’bagus’ berbeda dengan apa yang mungkin dipikirkan komputer? Kriteria ini juga dapat berubah seiring waktu atau dalam konteks yang berbeda,” tulisnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/40cea3cc10df6cb696b3ec32952c3e2b-20241129NMP05.jpg)
Menurut Thomson, sesuatu yang bahkan sederhana seperti mencerahkan atau menggelapkan gambar dapat menyebabkan kehebohan jika melibatkan politik. AI juga dapat mengarang semuanya. Gambar dapat tampak seperti foto realistik, tetapi menunjukkan hal-hal yang tidak pernah terjadi. Bahkan, video dapat sepenuhnya dibuat dengan AI atau diedit dengan AI untuk mengubah konteksnya.
Di sisi lain, AI generatif saat ini telah digunakan untuk menulis berita utama atau meringkas artikel. Aplikasi ini terdengar bermanfaat bagi orang-orang yang kekurangan waktu, tetapi beberapa media berita menggunakan AI untuk menjiplak konten orang lain.
Saat ini, penggunaan AI memang masih menimbulkan pro dan kontra, bahkan termasuk di bidang jurnalisme yang kerap dianggap profesi yang paling rentan digantikan kecerdasan buatan ini.
Namun, seiring waktu, mungkin kita harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa AI bisa menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia. Bahkan, menurut Elon Musk, CEO Tesla yang kini memimpin Department of Government Efficiency AS, AI pada akhirnya akan menghilangkan semua pekerjaan. Ia juga yakin bahwa ini belum tentu perkembangan yang buruk.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya Ramadhan