Kemacetan panjang akibat jembatan ambles di jalur alternatif Jambi-Sumbar akhirnya terurai. Namun, perbaikan permanen jalan ambles diperlukan demi keselamatan warga.
07 Mar 2025 16:48 WIB · Nusantara
TEBO, KOMPAS — Jalan Padang Lamo di Kabupaten Tebo, Jambi, yang sempat ambles akhirnya bisa dilalui oleh pengendara. Kemacetan panjang yang sempat terjadi di jalur alternatif Jambi-Sumatera Barat itu pun berangsur pulih pada Jumat (7/3/2025).
Kepala Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) Workshop dan Peralatan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi Iwan Rahmadi mengatakan, perbaikan darurat itu dilakukan dengan memasang pelat besi di sepanjang jembatan yang ambles. Pengerjaan itu selesai pada Kamis (6/3/2025) malam. ”Jalur itu akhirnya bisa kembali dilalui kendaraan dengan muatan maksimal 8 ton,” ujar Iwan.
Dengan begitu, kemacetan yang sempat mengular panjang selama tiga hari akhirnya terurai pada Jumat dini hari. Meski begitu, kata Iwan, jalur tersebut masih perlu dalam pengawasan untuk mengantisipasi jalan ambles berulang saat terjadi hujan.
Ke depan, perbaikan permanen jembatan akan dilakukan dengan menggunakan biaya tak terduga dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jambi. ”Selama belum dilakukan perbaikan permanen, kendaraan dengan muatan lebih dari 8 ton dilarang melintas karena masih belum aman betul,” ungkap Iwan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/e929b15a6f3e014f4ae2d80c5fa2f42b-DSC_9289.JPG)
Jalan Padang Lamo di Kabupaten Tebo itu dimanfaatkan sebagai jalur alternatif pertama menyusul amblesnya Jalan Nasional Lintas Sumatera (jalinsum) di Kabupaten Bungo, Jambi, Minggu (2/3/2025) sore. Sebagaimana diketahui, jalinsum di wilayah tersebut ambles akibat hujan deras.
Aktivitas lalu lintas di jalan utama penghubung Sumbar dan Jambi itu pun lumpuh total. Lokasi jalan ambles berada di Desa Tukum, Kecamatan Jujuhan, Bungo, tak jauh dari perbatasan Bungo dan Dharmasraya, Sumbar. Jalan ambles sepanjang 12 meter karena gorong-gorong di bawahnya tidak kuat menampung debit air seiring curah hujan yang tinggi.
Kepala Desa Teluk Kayu Putih, Kecamatan VII Koto, Tebo, Muslim Samad, mengatakan, jalur alternatif di Jalan Padang Lamo tak kuat menampung kendaraan yang mengantre untuk melintas. Jalan pun sempat ambles sehingga kendaraan tak bisa lewat.
Sebagai langkah darurat, dia menyebut, warga bergotong royong memasang penghubung sementara berupa batang-batang pohon kelapa sehingga jalan bisa dilewati kendaraan roda dua.
Perbaikan darurat jalur alternatif dengan pemasangan pelat besi semakin membuka akses penghubung kedua wilayah. ”Mulai dini hari tadi, kendaraan yang mengantre panjang akhirnya bisa terurai. Saat ini tidak ada lagi kemacetan parah,” ujar Muslim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/07/a4545e51db7cedbf67dc84e458d39f11-DSC_9310.JPG)
Sementara itu, sopir angkutan bahan kebutuhan pokok dari Padang ke Jambi, Ujang, mengeluhkan amblesnya jalinsum. Dia menyebut, kondisi itu membuat dirinya terpaksa melewati jalur alternatif di Tebo. Perjalanan pun menjadi molor dan biaya angkut membengkak.
Apalagi, sewaktu melintasi jalur alternatif yang kondisinya berlubang, truk yang dikendarainya mengalami pecah ban. ”Terpaksa menepi dulu untuk mengganti ban,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, Ujang menyebut, perjalanan dari Padang ke Jambi lewat jalinsum butuh waktu 12 jam. Namun, saat melalui jalur alternatif saat ini, perjalanan selama 24 jam pun baru mencapai Tebo. Ia memperkirakan baru akan sampai ke Kota Jambi pada Sabtu (8/3/2025) pagi.
Selama belum dilakukan perbaikan permanen, kendaraan dengan muatan lebih dari 8 ton dilarang melintas karena masih belum aman betul.
Penulis:
Irma TambunanEditor:
Haris Firdaus