Pelatih Baru John Herdman dan Agenda Timnas Sepak Bola  Indonesia 2026

Sepanjang 2026, timnas Indonesia memiliki sejumlah agenda pertandingan internasional. Momen membuka lembaran baru bersama pelatih baru John Herdman.

04 Jan 2026 06:06 WIB · Olahraga

AP Photo/Martin Meissner

Oleh Andreas Yoga Prasetyo

Sepak bola Indonesia akan memulai perjalanan baru pada tahun 2026. Agenda yang cukup prestisius ialah ajang Asian Games 2026 di Jepang. Pada kejuaraan ini, Indonesia akan mengirimkan tim nasional U-23. Pada Asian Games 2022 sebelumnya, timnas Indonesia U-23 berhasil lolos hingga babak 16 besar. Hal ini tentu menjadi pelecut bagi timnas dengan komposisi kepelatihan yang baru John Herdman untuk dapat meraih prestasi yang lebih baik dibandingkan Asian Games sebelumnya.

Ajang bergengsi lain ialah Piala Asia U-17. Timnas ”Garuda Muda” yang berhasil lolos ke putaran final akan berlaga di Arab Saudi pada 7-24 Mei 2026.

Tak mau kalah dengan para pemain muda, timnas senior akan berlaga mulai Maret 2026. Indonesia akan menjadi salah satu tuan rumah FIFA Series 2026 pada 23-31 Maret 2026. Turnamen resmi FIFA ini akan mempertemukan empat negara dari konfederasi berbeda. Turnamen mini ini menjadi bagian dari agenda pertandingan FIFA Matchday. Indonesia sebagai wakil dari Asia (AFC) akan bertanding dengan wakil-wakil dari Eropa (UEFA), Amerika Utara-Tengah-Karibia (CONCACAF), dan Oseania (OFC).

Selain itu, juga terdapat agenda pertandingan persahabatan dalam FIFA Matchday pada Juni, September, Oktober, dan November yang diikuti oleh timnas Indonesia. Deretan pertandingan ini akan berpengaruh pada poin dan peringkat Indonesia dalam rangking FIFA. Artinya, Indonesia harus mendulang poin untuk mencapai target masuk ke dalam 100 besar peringkat dunia.

Timnas senior juga akan berlaga pada turnamen antarnegara Asia Tenggara atau ASEAN Championship pada Juli-Agustus 2026. Timnas Indonesia perlu mempersiapkan diri lebih baik mengingat pada Piala ASEAN 2024 tersingkir di babak penyisihan.

Segenap agenda timnas senior di bawah kepelatihan baru John Herdman, memunculkan harapan dan kepercayaan yang baru bagi sepak bola nasional. Tentu menarik untuk dinanti arah sepak bola Indonesia di tahun 2026 sebagai tahun yang amat penting untuk membangun fondasi menuju Piala Asia 2027 dan Piala Dunia 2030.

Hal ini mengingat rentetan kegagalan sepanjang tahun 2025 yang perlu menjadi evaluasi untuk membentuk fondasi baru menuju Piala Asia 2027. Sepak bola Indonesia telah melalui rangkaian perjuangan dalam berbagai ajang sepanjang tahun 2025. Kualifikasi Piala Dunia hingga SEA Games 2025 telah dilalui dengan hasil yang tidak sesuai harapan.

Pesepak bola Timnas Indonesia Jay Noah Idzes (kiri) berebut bola dengan pesepak bola Arab Saudi Hassan Al Tambakti (kedua kiri) pada pertandingan putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah, Arab Saudi, Rabu (8/10/2025). Indonesia dikalahkan Arab Saudi dengan skor akhir 2-3. ANTARA FOTO/HO-PSSI/mrh/foc.

Momentum pembenahan timnas Indonesia

Pada babak kualifikasi Piala Dunia 2026, Indonesia berhasil mencapai putaran keempat, tetapi akhirnya menyerah saat menghadapi permainan Irak dan Arab Saudi. Perjalanan timnas ini memang menjadi sorotan banyak pihak. Bahkan, selain pencinta tim nasional, masyarakat awam sekalipun turut menaruh perhatian pada perjuangan timnas untuk menuju puncak kompetisi sepak bola dunia, yakni Piala Dunia 2026.

Bisa dikata, capaian menembus ronde keempat dalam kualifikasi Piala Dunia adalah sebuah catatan positif dalam perkembangan sepak bola Indonesia. Jangankan Piala Dunia, pada level Piala Asia saja, timnas kerap kali mengalami kesulitan selama ini, bahkan untuk sekadar menembus putaran final. Itulah sebabnya, mengapa kualifikasi Piala Dunia menyita banyak perhatian dan harapan besar.

Munculnya harapan ini tidak terlepas dari hadirnya pelatih dan pemain dengan reputasi dunia. Deretan pemain berkualitas diboyong oleh PSSI untuk memperkuat timnas. Tim nasional Indonesia diisi oleh para pemain dari liga Serie A Italia, Bundesliga Jerman, Eredivisie Belanda, hingga Major League Soccer Amerika Serikat. Belum lagi para pemain yang berlaga di kasta kedua liga-liga top Eropa. Wajar, jika hal ini berbuah pada harapan besar para pencinta sepak bola Tanah Air pada prestasi tim nasional.

Hanya saja, harapan yang telah tertanam itu luluh seketika. Satu-dua menilai timnas mengalami kegagalan. Namun, ada pula yang menilai bahwa timnas masih butuh waktu untuk berproses sehingga capaian hingga babak keempat kualifikasi Piala Dunia dianggap sebagai prestasi yang harus diapresiasi.

Apa pun itu, yang jelas, timnas sepak bola Indonesia mulai menuju arah perbaikan kualitas permainan, dari yang sebelumnya mengandalkan bola-bola panjang, kini mulai berani memainkan umpan-umpan pendek khas sepak bola Eropa. Dari yang sebelumnya memperlihatkan permainan keras tanpa arah, kini mulai terlihat kontrol emosi yang amat berbeda di lapangan.

Infografik riset peringkat FIFA Timnas Indonesia 5 tahun terakhir.

Rangkaian kekecewaan memang kian memuncak jelang akhir tahun. Musababnya adalah kegagalan timnas dalam Piala AFF U-23 2025 dan SEA Games 2025. Dalam ajang Piala AFF U-23, Indonesia harus bertekuk lutut di hadapan Vietnam pada partai puncak. Sementara pada ajang SEA Games, timnas juga kurang beruntung karena harus tersungkur pada babak penyisihan grup.

Timnas U-23 juga banyak menuai kritik karena gagal lolos ke putaran final Piala Asia U-23. Berstatus sebagai semifinalis Piala Asia U-23 tahun 2024, tidak serta-merta meningkatkan rasa percaya diri tim Garuda Muda. Puncaknya adalah saat timnas U-23 kesulitan pada babak kualifikasi Piala Asia U-23 saat ditahan imbang oleh Laos. Hasil ini di luar dugaan dan mengejutkan bagi pencinta sepak bola Indonesia.

Di tengah segala capaian dan keterpurukan, secara statistik, Indonesia memang mencatatkan hasil positif. Dari pangsa pasar, misalnya, Indonesia saat ini merupakan tim dengan pangsa pasar tertinggi di Asia Tenggara. Menurut catatan Transfermarkt per 22 Desember 2025, pangsa pasar para pemain timnas Indonesia saat ini adalah Rp 562,73 miliar. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia (Rp 134,71 miliar), Vietnam (Rp 108,64 miliar), dan Thailand (Rp 157,74 miliar).

Pangsa pasar tim Garuda bahkan telah sejajar dengan sejumlah tim elite di Asia, seperti Arab Saudi (Rp 448,45 miliar) dan Australia (Rp 547,09 miliar). Hal ini menunjukkan bahwa secara kualitas, pemain Indonesia harusnya mampu bersaing dengan tim elite Asia.

Catatan positif juga ditunjukkan dengan kenaikan peringkat FIFA. Indonesia kini berada diperingkat 122 dunia (22/12/2025). Indonesia naik empat peringkat dibandingkan Desember 2024. Kenaikan ini menunjukkan bahwa setiap tahun, Indonesia selalu konsisten mencatatkan perbaikan peringkat FIFA, khususnya dalam empat tahun terakhir.

infografik
Profil John Herdman

 

Harapan baru, pelatih baru timnas Indonesia

Di tengah rangkaian kegagalan di tahun 2025, sepak bola Indonesia tentu harus bangkit. Pilihannya jelas, evaluasi dan kembali menentukan arah, atau kembali terpuruk tanpa tujuan yang jelas. Bagaimanapun, sepak bola Indonesia harus kembali menunjukkan eksistensi di tengah rangkaian kekecewaan di tahun 2025.

Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk memulai kembali. Kehadiran Alexander Zwiers sebagai Direktur Teknik menjadi modal awal untuk kembali menyusun peta jalan timnas di tahun 2026. Pengalaman Zwiers dalam membangun sepak bola Jordania hingga tim kelompok umur di Uni Emirat Arab menjadi harapan baru bagi Indonesia dalam aspek pengembangan sepak bola di kelompok usia.

Harapan selanjutnya adalah kehadiran John Herdman, pelatih baru yang telah diumumkan oleh PSSI pada 3 Januari 2026. Kehadiran Herdman tentu membawa harapan baru bagi Indonesia. Pasalnya, sama seperti Shin Tae-yong, Herdman juga dikenal sebagai pelatih bertangan dingin yang kerap mencatatkan sejarah baru pada tim yang ditangani.

Beberapa tim yang ditangani oleh Herdman kerap mendulang prestasi. Timnas putri Selandia Baru, misalnya, di bawah kendali Herdman, Selandia Baru berhasil lolos pada ajang Olimpiade Beijing 2008 dan Piala Dunia 2011. Hal senada juga dilakukan oleh Herdman saat melatih Kanada, baik timnas putra maupun putri.

Bahkan, saat menukangi timnas putra, Herdman sukses membawa Kanada kembali tampil pada putaran final Piala Dunia untuk kedua kalinya sepanjang sejarah. Catatan ini tentu menjadi harapan baru untuk menentukan arah sepak bola Indonesia menyambut lembaran baru di tahun 2026. (LITBANG KOMPAS)

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Infografik:

Dicky Indratno
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul