Kegagalan Patrick Kluivert memperkuat kesan pelatih Belanda tidak pernah cocok dengan sepak bola Indonesia. Namun, selalu ada ruang pengecualian dalam suatu stigma.
18 Okt 2025 07:57 WIB · Olahraga
Salah satu topik yang mengemuka di tengah riuh pemecatan Patrick Kluivert ialah soal pelatih Belanda yang tidak pernah sukses ketika berkarier di Indonesia. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah mengingat sejak era Wiel Coerver, belum ada pelatih Belanda yang mampu mendongkrak performa timnas Indonesia. Namun, menganggap pelatih Belanda tidak cocok dengan sepak bola Indonesia adalah pemikiran yang keliru.
Patrick Kluivert dicaci bukan hanya karena gagal membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia. Pelatih asal Belanda itu juga tidak mampu membuat timnya tampil atraktif di sisa kualifikasi Piala Dunia 2026. Publik Indonesia barangkali akan lebih ikhlas melihat timnas gagal ke Piala Dunia asalkan tampil bagus menghadapi Australia, Jepang, Arab Saudi, dan Irak yang merupakan raksasa sepak bola Asia. Kluivert gagal memenuhi satu pun ekspektasi penggemar. Sudah tidak lolos Piala Dunia, permainan timnas pun jauh dari ideal.
Kegagalan Kluivert menambah panjang daftar pelatih asal Belanda yang kesulitan mendongkrak performa timnas Indonesia. Fakta itu terbukti jika menilik rekam jejak pendahulu Kluivert seperti Coerver, Henk Wullems, dan Wim Rijsbergen. Coerver hanya mendampingi Indonesia dalam tiga laga. Dari tiga laga itu, ia hanya membawa Indonesia menang satu kali atas Korea Selatan. Adapun dua laga lainnya berakhir dengan kekalahan dari lawan yang sama.
Wullems berkesempatan mendampingi Indonesia dalam lebih banyak laga. Total ada lima laga yang ia jalani bersama Indonesia dan tidak ada yang berhasil dimenangi. Capaian terbaik Wullems hanya menahan imbang Uzbekistan, 1-1, pada laga kualifikasi Piala Dunia 1998. Empat laga lainnya dilewati Wullems dengan kekalahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/06/27/BW-19751207-V-21-ROS019_1593194129.jpg)
Saat saya menjalani kompetisi di sini, saya merasa situasi akan menjadi sulit. Sekarang performa kami terkadang bagus dan terkadang menurun.
Catatan Wim sedikit lebih baik. Dari tujuh laga bersama Indonesia, ia mempersembahkan satu kemenangan atas Turkmenistan pada kualifikasi Piala Dunia 2014. Namun, setelah kemenangan itu, performa Wim memburuk dengan selalu kalah pada lima laga. Gaya kepemimpinannya pun menuai protes dari pemain timnas.
Melihat rekam jejak para ”meneer” tersebut, wajar jika muncul stigma bahwa pelatih Belanda kurang cocok menangani pemain Indonesia. Kesulitan berkarier di sepak bola Indonesia sudah diakui pula oleh Johnny Jansen, pelatih Belanda yang kini menangani Bali United. Johnny mengatakan masih perlu waktu menyamakan visi dan misi dengan para pemain, juga arah permainan tim ke depannya.
”Saat saya menjalani kompetisi di sini, saya merasa situasi akan menjadi sulit. Sekarang performa kami terkadang bagus dan terkadang menurun. Kami bisa memenangi bola dan kadang cepat sekali kehilangan bola. Kebiasaan hidup pemain di Indonesia berbeda dibandingkan dengan di Eropa, terutama di Belanda. Untuk di sini, saya harus bisa memberikan energi yang positif, pola latihan yang baik, dan pemahaman tentang sepak bola,” tuturnya, Jumat (17/10/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/7cbdf892-3f7e-4e82-9c69-1f854288f167_jpg.jpg)
Hanya saja, selalu ada ruang pengecualian pada suatu stigma. Pelatih Belanda memang kerap kesulitan berkarier di Indonesia dengan kasus Kluivert yang jadi contoh terbaru. Namun, stigma itu tidak juga bisa dipukul rata ke seluruh pelatih asal Belanda.
Dari sekian banyak dari mereka yang pernah mencicipi sepak bola Indonesia, ada pula yang menorehkan tinta emas dalam karier kepelatihannya. Contohnya adalah Robert Rene Alberts yang sukses menjuarai Liga Indonesia bersama Arema Indonesia pada musim 2009-2010. Robert merupakan pelatih yang mampu memaksimalkan potensi setiap pemain sehingga berdampak pada performa tim.
Tidak heran jika jasa Robert sangat diminati klub-klub Indonesia. Selain berpengalaman berkarier di Asia, pendekatan kepada pemain dan strategi Robert dirasa cocok dengan sepak bola Indonesia. Selain Arema, ia juga menangani PSM Makassar dan Persib Bandung.
Hal yang membedakan Robert dengan para pelatih Belanda seperti Coerver, Wim, Kluivert, dan Johnny adalah kedekatan dengan sepak bola Asia. Tidak seperti mereka yang langsung mengemban tanggung jawab melatih di Indonesia tanpa dibekali pengalaman lama di Asia, Robert telah malang melintang di sejumlah klub, seperti Kedah dan Sarawak (Malaysia), serta Home United (Singapura).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/05/30/fb9fda0c-2cfd-4881-87ec-482914da31e3_jpeg.jpg)
Pengalaman menangani beberapa tim Asia lainnya sebelum berkarier di Indonesia memberi Robert pemahaman mengenai karakteristik pemain. Dia pun akhirnya menemukan formula sekaligus pendekatan yang bisa diterima oleh setiap pemain. Kelebihan ini tidak dimiliki Kluivert yang minim pengalaman dengan sepak bola Asia. Indonesia merupakan negara Asia pertama yang dia tangani.
Demikian pula dengan dua asisten Kluivert, Danny Landzaat dan Alex Pastoor, yang sama sekali belum mengenal budaya sepak bola Asia. Tidak heran jika kemudian Kluivert mengalami semacam gegar budaya akibat ketidaktahuannya mengenai sepak bola lokal.
Itu tecermin dari keputusan anehnya memainkan Marc Klok yang semakin menjauhi usia emasnya. Selain itu, Kluivert juga menugaskan Yakob Sayuri sebagai bek kanan saat melawan Arab Saudi. Padahal, pemain Malut United itu punya kelebihan saat menyerang, bukan sebaliknya. Kluivert barangkali memasang Yakob di kanan untuk mengimbangi kecepatan penyerang Saudi, Salem Aldawsari. Rentetan keputusan keliru itu pada mengundang petaka bagi perjalanan Indonesia menuju Piala Dunia.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan