Nilai tukar rupiah yang terus menurun memberikan tekanan berlapis terhadap pelaku industri.
06 Jun 2026 16:54 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Nilai tukar rupiah yang terus menurun memberikan tekanan berlapis terhadap pelaku industri kecil menengah hingga pabrikan besar di Jawa Timur. Kondisi tersebut diperparah oleh daya beli masyarakat yang melemah.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026) malam pukul 23.00 WIB menyentuh Rp 18.036. Salah satu pihak yang mengalami tekanan ialah industri kecil menengah (IKM) logam di Desa Ngingas, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jatim.
Di sentra industri ini, terdapat lebih dari 200 pelaku usaha yang bergerak di bidang produk logam. Produk yang dihasilkan, antara lain, suku cadang otomotif, alat elektronik, alat bangunan, alat dapur, dan alat pertanian modern. Setiap unit usaha memiliki jumlah pekerja yang beragam, mulai dari dua orang hingga ratusan karyawan.
Syamsul Anam, pemilik Usaha Dagang (UD) Aji Batara Perkasa Mandiri sekaligus penasihat Paguyuban Industri Unit Logam Desa Ngingas, mengatakan, dampak langsung dari pelemahan rupiah yang dirasakan pelaku usaha ialah kenaikan harga bahan baku produksi.
”Kenaikan terjadi pada semua jenis bahan baku produksi, mulai besi pelat, baja, pipa, plastik, hingga aneka aksesori,” ujar Syamsul, Sabtu (6/6/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/19/03ccf83b-8f29-4f33-b5a0-3f6aa2bfc360_jpg.jpg)
Menurut Syamsul, kenaikan harga bahan baku berada di kisaran 20 persen dan berpotensi naik lebih tinggi lagi karena rupiah terus melemah. Sebagian besar bahan baku produksi logam itu berasal dari impor sehingga harganya sangat dipengaruhi oleh nilai dolar AS.
Sebagai gambaran, harga besi yang dulu Rp 12.000 per kilogram naik menjadi Rp 14.000 per kg. Sedangkan besi yang dulu Rp 13.500 per kg naik menjadi Rp 18.000 per kg. Kenaikan terjadi pada semua kualitas, baik kualitas-1 (KW-1), KW-2, maupun KW-3.
Kenaikan yang cukup tinggi pada harga bahan baku itu memengaruhi biaya produksi secara keseluruhan. Syamsul menyebut, kenaikan biaya produksi mencapai 15 persen. Kenaikan itu memaksa pengusaha menaikkan harga jual produknya sekitar 10 persen.
Kenaikan harga jual produk 10 persen itu dinilai moderat untuk menjaga daya saing produk. Apalagi, daya beli masyarakat juga melemah. Namun, sebenarnya pasar belum bisa menerima kenaikan harga jual produk tersebut karena dinilai tinggi.
”Dengan kenaikan 10 persen, pasar belum bisa menerima sehingga permintaan ke produsen turun. Jika situasinya memburuk, saya khawatir tidak ada lagi pesanan ke pelaku usaha,” kata Anam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/19/01184573-1b4d-4584-9dd7-e07c85376f49_jpg.jpg)
Pelaku IKM logam di Desa Ngingas meminta pemerintah segera turun tangan mengatasi pelemahan nilai rupiah. Pemerintah juga diminta membantu menstabilkan harga bahan baku yang mayoritas berasal dari impor.
Hal ini agar kelangsungan usaha logam di desa tersebut tetap terjaga dan tidak sampai terjadi pemutusan hubungan kerja yang akan memicu masalah sosial ekonomi di masyarakat.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan pada industri besar atau berskala pabrikan. Sektor industri yang paling tertekan adalah manufaktur atau yang bergerak dalam pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi.
Jenis usahanya terutama di bidang farmasi, otomotif, dan tekstil. Hal ini karena bahan baku produksi seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih didominasi impor.
”Ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur tersebut rata-rata masih berada di atas 70 persen,” kata Adik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/24/9daef788-619b-488c-8424-54810fa66f1f_jpg.jpg)
Menurut Adik, pelemahan rupiah menyebabkan harga bahan baku produksi melambung. Kenaikan harga bahan baku itu pun memengaruhi biaya produksi perusahaan.
Dia menambahkan, beragam upaya telah dilakukan oleh pelaku industri, seperti menahan stok bahan baku, membatasi impor bahan baku, mengurangi produksi, hingga melakukan efisiensi biaya produksi. Pengusaha memilih menggerus marginnya karena harga jual produk tidak bisa langsung dinaikkan.
”Pelaku industri khawatir, kenaikan harga produk akan berdampak pada turunnya daya saing industri nasional di pasar global. Mereka harus bertarung dengan produk dari negara lain,” ucap Adik.
Akan tetapi, upaya menahan kenaikan harga produk tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu lama jika nilai rupiah terus melemah. Apalagi, kondisi tersebut dibarengi pelemahan daya beli masyarakat sebagai dampak gejolak ekonomi global.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/04/a661f9dc0f08228e1fd4856d519eb01b-20260604TOK8.jpg)
Oleh karena itu, Adik meminta pemerintah segera mencari solusi untuk menguatkan kembali nilai rupiah terhadap dolar AS. Dia pun mendorong pemerintah melakukan refocusing anggaran dengan memprioritaskan program yang mampu menggerakkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja lebih besar, seperti proyek pembangunan infrastruktur, dibandingkan dengan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Di sisi lain, penurunan nilai rupiah juga melemahkan daya beli masyarakat. Hal itu terjadi karena penghasilan mereka relatif tetap, sedangkan harga-harga kebutuhan naik. Harga tempe dan tahu, misalnya, sudah lama naik karena bahan baku kedelai memiliki ketergantungan tinggi pada impor.
Untuk menguatkan daya beli masyarakat, pemerintah harus memperkuat bantuan sosial, terutama bantuan tunai. Bantuan itu bisa dibelanjakan untuk menggerakkan ekonomi pelaku usaha mikro, menengah, dan besar.
Pelaku industri khawatir kenaikan harga produk akan berdampak pada turunnya daya saing industri nasional di pasar global. Mereka harus bertarung dengan produk dari negara lain.
Penulis:
Runik Sri AstutiEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Retma Wati