Kota Magelang memiliki beragam kuliner khas yang bisa menghangatkan dinginnya malam. Dari nasi lesah, lumpia basah, hingga wedang ronde.
29 Nov 2024 07:00 WIB · Kuliner
Hawa dingin kerap menerpa malam-malam yang berlalu di Kota Magelang, Jawa Tengah. Namun, tenang saja, kota ini memiliki cara tersendiri untuk menghadapinya. Ragam sajian kuliner malam nan otentik siap memberikan pelukan hangat bagi mereka yang menyantapnya.
Kuali berisikan kuah berwarna kuning meletup-letup di Warung Nasi Lesah Pak Badut, Kota Magelang, Jumat (8/11/2024) malam. Aroma rempah menguar bersama uap yang tersapu angin ke seisi ruangan. Uap itu seakan menyihir para pengunjung untuk segera bersantap.
Farel Kurniawan (20) termasuk salah seorang pengunjung yang terpancing rasa laparnya begitu mencium aroma kuah tersebut. Sambil menunggu pesanannya datang, ia menggosok-gosokkan tangannya untuk menghangatkan diri. Suhu udara malam itu cukup dingin. Temperatur menunjukkan angka 23-24 derajat celsius.
”Dingin-dingin begini, nasi lesah rasanya tambah nikmat. Kuahnya itu lho sedap dan segar, tetapi juga bisa menghangatkan. Pokoknya enak,” kata Farel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/303c352d-5db8-467f-9f1b-1098e22c5ba5_jpg.jpg)
Lima menit menanti, pesanan Farel tiba juga. Sepiring nasi lesah dengan lauk telur rebus menjadi pilihannya. Tanpa berlama-lama, ia menyantap hidangan yang ada di hadapannya itu. Ia seakan tak memedulikan lagi sekitarnya karena dibuat larut dalam kenikmatan setiap cecap campuran kuah lesah, nasi, dan serangkaian pelengkapnya.
Kedua tangan Farel pun sibuk. Tangan kanannya menyendokkan nasi, tangan kirinya menggenggam tempe mendoan. Begitu tempe mendoan itu raib ke perutnya, ia ambil gorengan lain yang masih hangat.
”Gorengannya mantap. Sekali makan, saya bisa habis lima. Soalnya di sini gorengannya baru terus. Tidak pernah dapat gorengan dingin. He-he-he,” ucap Farel, semringah.
Farel mengenal sajian bernama nasi lesah itu sejak dua tahun lalu. Informasi ihwal sajian itu diketahuinya lewat media sosial. Mula-mula, ia iseng saja menjajal santapan malam khas ”Kota Sejuta Bunga” itu. Lama-lama, ia malah ketagihan sendiri.
”Sekarang, kalau ke Magelang, itu harus mampir ke sini. Rasanya itu bikin kangen. Kadang-kadang, kalau pengin banget, ya, sengaja ke sini meski jaraknya jauh,” kata Farel yang berasal dari Yogyakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/6eca6f02-5bce-4b51-b407-c1213c4d7114_jpg.jpg)
Sumiyati (70), pemilik Warung Nasi Lesah Pak Badut, menyampaikan, warung makannya itu dirintis bersama suaminya, Wagiman, sejak 1998. Pada 2020 lalu, Wagiman wafat. Sekarang warung tersebut dikelolanya bersama anak-anaknya.
Sebutan ”Badut” sebenarnya merujuk pada nama panggilan Wagiman semasa kecil. Kesannya tidak serius dan terdapat unsur ejeken. Tak disangka, nama itu justru membawa berkah. Pasalnya, olahan nasi lesah buatan warung itu dijadikan referensi bagi pelancong yang ingin menjajal otentisitas cita rasa nasi lesah.
”Masalah resep, kami enggak ubah-ubah. Kami berusaha betul menjaga itu. Untungnya ditanggapi baik sama pelanggan. Mereka selalu balik lagi karena bilang rasanya sama,” kata Sumiyati, semringah.
Adalah sang mertua, sosok yang memperkenalkan Sumiyati pada hidangan yang kini menjadi sandaran hidupnya tersebut. Kala itu, ia baru saja berpindah ke kampung halaman Wagiman di Magelang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/64bce38f8ddfdb19c40b330c19e5a70a-DSC06719.JPG)
Di kota barunya itu, Sumiyati tak langsung mendapatkan pekerjaan. Ia mesti menganggur beberapa lama. Kemudian sang mertua menyarankannya berdagang nasi lesah yang merupakan kuliner khas kota tersebut.
”Ibu mertua saya itu yang mengajari saya cara masaknya. Saat belajar itu, baru saya tahu. Di tempat saya, makanan ini seperti sop kare. Ternyata orang Magelang bilangnya lesah,” kata Sumiyati.
Sekilas, menurut Sumiyati, isian nasi lesah mirip seperti soto. Komponen isian itu antara lain nasi, bihun, tauge, irisan tahu, dan suwiran ayam. Perbedaannya terletak pada kuah lesah yang teksturnya lebih kental karena ditambahkan santan. Bahan tambahan itu turut menghadirkan cita rasa gurih.
Semasa awal berjualan, kenang Sumiyati, pilihan lauk untuk sepiring nasi lesah belum sebanyak sekarang. Dahulu, nasi lesah hanya disuguhkan bersama telur rebus atau ceker ayam. Lauk tambahan lainnya yang berupa jeroan baru ditambahkan belakangan.
”Itu ceritanya ada pembeli yang tanya. Ada jeroan tidak? Kayak iso, babat, dan lain-lain. Karena banyak yang tanya, makanya kami bikin. Ini jeroannya dimasak bacem begitu. Kalau soal mana yang paling laris, kayaknya semuanya sama-sama disukai. He-he-he,” ujar Sumiyati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/dd08a844-3033-4fd4-b33f-53c60e811255_jpg.jpg)
Harga sepiring nasi lesah boleh dibilang cukup terjangkau. Paling murah ialah nasi lesah tanpa tambahan lauk yang harganya hanya Rp 10.000 per porsi. Jika memilih lauk ceker ayam atau telur, harganya menjadi Rp 13.000 per porsi. Untuk lauk jeroan, harganya dibanderol Rp 15.000 per porsi. Adapun pilihan jeroannya terdiri dari babat, iso, dan hati.
Warung Nasi Lesah Pak Badut buka setiap hari. Para pembeli dilayani mulai dari pukul 17.00 hingga 02.00 dini hari. Itulah yang membuat warung itu sering dijadikan tujuan wisatawan saat ingin menikmati kuliner malam. Lokasi warungnya terdapat di Jalan Singosari 16, Rejowinangun Selatan, Kecamatan Magelang Selatan.
”Kami hanya tutup kalau ada acara keluarga. Selain itu, ya, buka terus. Monggo saja datang jika berkenan. Kami masih melayani sampai lewat tengah malam,” kata Sumiyati.
Dingin-dingin begini, nasi lesah rasanya tambah nikmat. Kuahnya itu lho sedap dan segar, tetapi juga bisa menghangatkan. Pokoknya enak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/01a46887-9f61-4fec-a68b-4767936fd780_jpg.jpg)
Pilihan kuliner malam lain di Magelang yang sama-sama menyuguhkan kehangatan jatuh pada Lumpia Basah Pak Elok. Tempat menjajakannya bukan berupa warung, melainkan gerobak kaki lima.
Tidak ada meja untuk makan. Hanya kursi plastik barang dua atau tiga buah yang digunakan untuk duduk pembeli yang hanya memesan untuk dibungkus.
Hidangan itu boleh dibilang sebagai salah satu kuliner legendaris di Magelang. Sebab, Lumpia Basah Pak Elok sudah berlanjut sampai generasi ketiga sejak memulai berjualan pertama kali pada 1969.
”Pertama itu yang jual simbah, dengan dipikul. Lalu dilanjutkan bapak saya sekitar tahun 1970-an. Waktu itu masih sering dipikul. Lalu, tahun 2000-an, baru jadi gerobakan seperti ini. Saya melanjutkan saja mulai 2021. Tetapi, dari 2016, saya sudah sering bantu-bantu,” ujar Ismail Putra (23), penerus usaha Lumpia Basah Pak Elok.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/02ed4d7b-3a7c-40f5-b20e-7690ffd4139a_jpg.jpg)
Lumpia basah memiliki cita rasa yang unik. Kulitnya cenderung tebal, tetapi terasa lembut ketika digigit. Isiannya yang terdiri dari rebung dan tahu ditumis ulang sewaktu akan dihidangkan. Itu memunculkan aroma asap yang kian menggugah selera. Paling nikmat, lumpia basah disajikan selagi hangat.
Sepotong lumpia basah ukurannya cukup besar. Sekepalan tangan orang dewasa. Dengan demikian, dua potong saja sudah cukup mengenyangkan. Harganya terbilang cukup murah pula. Hanya Rp 7.000 rupiah per potongnya. Rata-rata seorang pelanggan membeli dua hingga lima potong sekali waktu.
Ihwal kemunculan lumpia basah, Ismail mengaku tak pernah diceritakan oleh ayah ataupun kakeknya. Hanya saja, sejak sang kakek berjualan, sudah ada beberapa pedagang lain yang sama-sama menjajakan kuliner itu. Kebetulan saja masakan sang kakek menjadi salah satu yang paling digandrungi warga kota.
”Buktinya, pelanggan yang dari zaman simbah saya itu masih ada yang sering jajan juga ke sini. Biasanya yang sudah sepuh itu pelanggan-pelanggan lama kami,” ujar Ismail.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/36706cff-12af-4bd1-800f-59450468f586_jpg.jpg)
Tak jauh dari lokasi Lumpia Basah Pak Elok, terdapat hidangan hangat lainnya yang juga cukup legendaris. Kali ini, hidangan itu berwujud minuman, yakni wedang ronde, yang dijajakan oleh warung bernama Ronde Miroso. Jarak kedua tempat itu hanya sekitar 1 kilometer.
Hermin Sulaiman (75), pemilik kedai Ronde Miroso, menyampaikan, warungnya telah berdiri sejak 65 tahun yang lalu. Ia merupakan generasi kedua penerus warung tersebut. Kisah tentang migrasi kembali menyertai titik mula berdirinya warung makan itu.
”Ini dulu didirikan bapak dan ibu kami. Waktu itu, kami pindahan dari Solo (Surakarta, Jateng). Lihat-lihat apa yang belum ada dijual. Ternyata, belum banyak yang jual ronde. Maka, waktu itu memutuskan jualan ini,” kata Hermin.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/27/c877821f-a9a9-43f2-a3bc-4dc3c8da3983_jpg.jpg)
Keputusan orangtua Hermin memilih ronde untuk dijual ternyata tak keliru. Warga setempat menggemarinya. Akademi Militer yang berada di kota itu juga kerap memesan jika sedang ada acara reuni. Bahkan, sesekali petinggi institusi itu mampir ke warungnya untuk bernostalgia menyantap ronde semasa pendidikan.
Isi sepiring wedang ronde terdiri dari ronde, potongan roti, kacang, dan kolang-kaling, yang kemudian disiram wedang jahe hangat. Kekhasan ronde dari warung itu ialah teksturnya yang lembut dan isian kacang yang lumer dalam setiap gigitannya. Rasa manis yang disajikan wedang jahenya juga terasa pas.
Selain ronde, sajian khas dari warung itu ialah sate pisang. Hidangan itu berwujud irisan pisang kepok yang ditusuk memanjang menggunakan tusuk sate. Lalu, pisang itu dibungkus olahan adonan tepung yang manis. Sebenarnya, makanan itu merupakan kreasi ibunda Hermin yang semula hanya disuguhkan untuk keluarganya.
”Ternyata, respons pelanggan dengan masakan-masakan keluarga kami bagus. Jadi, kami pertahankan sampai sekarang. Soal cita rasa itu yang utama untuk kami jaga,” kata Hermin.
Sejumlah santapan dan wedang hangat yang ditawarkan Magelang rasa-rasanya sayang jika dilewatkan begitu saja. Dinginnya malam adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, itu semua terasa menyenangkan ketika dilalui bersama kehangatan kuliner malam.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
Haris Firdaus