Arsip Foto Kompas: Pembajakan DC-9 Garuda ”Woyla” dan Kisah Para Sandera

Kasus pembajakan terjadi setelah pesawat transit di Palembang dari Jakarta sebelum menuju ke Medan, 28 Maret 1981. Pesawat membawa 48 penumpang dan lima awak.

23 Apr 2025 10:00 WIB · Foto

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Pada 28 Maret 1981, pesawat DC-9 Garuda ”Woyla” dengan nomor penerbangan GA 206 Jakarta-Medan dibajak. Pembajakan terjadi setelah pesawat transit di Palembang untuk menuju ke Medan.

Pesawat itu membawa 48 penumpang dan lima awak. Di antara para penumpang terdapat lima warga negara asing. Tiga orang dari Amerika Serikat, satu orang dari Inggris dan satu orang dari Jepang.

Para pembajak, yang terdiri dari lima orang yang mengaku Komando Jihad, kemudian mengubah rute penerbangan ke Penang, Malaysia, dan selanjutnya menuju Bangkok, Thailand.

Berita pertama yang diterbitkan Kompas terkait pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla, 29 Maret 1981

Pemerintah Indonesia mengambil opsi mengadakan operasi militer pembebasan para sandera. Pada Selasa, 31 Maret 1981, pukul 02.45 waktu setempat, operasi oleh prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus)-saat itu bernama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha)-dimulai di Bandara Don Muang, Bangkok.

Dalam operasi yang berlangsung selama 3 menit itu, kelima pembajak tewas. Semua penumpang dan awak pesawat selamat, sementara pesawat dalam kondisi utuh. Namun, Kapten Pilot Herman Rante dan anggota pasukan khusus Letnan Satu (Anumerta) Achmad Kirang yang sempat menjalani perawatan di rumah sakit gugur (Kompas 29 Maret 1981, Kompas 1 April 1981).

Pesawat Garuda Indonesia DC-9 "Woyla" yang dibajak.
Para wartawan dari berbagai negara datang meliput operasi pembebasan pesawat Garuda DC 9 Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, 31 Maret 1981
Berita terkait operasi pembebasan sandera pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand

Drama pembajakan itu tentu saja meninggalkan trauma, ketakutan, dan rasa tidak nyaman bagi para penumpang yang menjadi sandera. Dalam penerbangan kembali ke Jakarta menggunakan pesawat DC-9 Garuda ”Digul”, para penumpang membagikan pengalaman mereka kepada wartawan Kompas Dudy Sudibyo yang turut serta dalam penerbangan itu.

Musril Hanafiah, yang bekerja di Pertamina dan eks anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) di Bandung, mengatakan, para pembajak tidak bisa membedakan antara anggota ABRI (TNI) dan anggota Menwa. Ketika para pembajak meminta penumpang mengeluarkan isi kantong, termasuk kartu pengenal, KTP, dan lain sebagainya serta memeriksanya satu per satu, salah seorang pembajak bernama Abu Sofyan lantas memanggil nama Hanafiah.

Sambil membentak pembajak itu mengatakan, ”Kamu komandan batalyon, ya, kamu anggota Siliwangi, ya, kamu kapten, ya?”. Hanafiah lalu menjelaskan dirinya adalah eks anggota Menwa dan tidak ada kepangkatan dalam Menwa. Tak hanya meminta KTP dan kartu identitas, para pembajak juga merampas arloji, cincin, perhiasan dan barang berharga lainnya.

Hanafiah yang pernah mendapat pelatihan kemiliteran saat menjadi anggota Menwa mengaku, setelah penumpang bernama Wainwright berhasil melarikan diri dari pesawat di Bandara Don Muang, dia mempunyai gambaran kemungkinan para sandera lainnya akan ditembaki satu per satu.

”Sehingga saya berniat melawan saja dan menghubungi diam-diam beberapa penumpang pria lainnya. Saya berani karena melihat pembajak itu tampak tidak profesional, terlihat dari cara mereka memegang senjata. Selain itu, mereka juga tidak menunjukkan sikap siap siaga dan terkadang mereka tampak gemetar,” ujar Hanafiah.

Operasi pembebasan para sandera yang dibajak dalam pesawat DC-9 Garuda "Woyla" di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, telah berhasil. Tampak dalam foto sebagian penumpang pesawat Garuda DC-9 Woyla setelah pembajakan berakhir, 31 Maret 1981.
Keluarga awak kabin pesawat Garuda DC-9 "Woyla" yang dibajak di Bangkok menunggu di ruang tunggu Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Lubang-lubang peluru di sekitar dinding kokpit pesawat Garuda Indonesia Airlines DC-9 "Woyla" yang dibajak.

Saat salah seorang pembajak yang memegang pistol melintas, dia melihat pembajak itu memegang larasnya bukan gagangnya. Ia sempat terpikir untuk merampasnya, tetapi salah seorang penumpang lain berbisik untuk membatalkan niat itu karena bisa membahayakan penumpang lain.

Pada Minggu, 29 Maret 1981 malam, para pembajak mengatakan, sandera akan dibebaskan karena Pemerintah RI telah setuju dengan tuntutan pembajak. Kartu-kartu pengenal lantas dikembalikan kepada penumpang.

Hanafiah mengira suasana krisis sudah berakhir dan ia mencoba iseng mengajak ngobrol salah seorang pembajak bernama Zulfikar. Namun, para pembajak itu tidak berkenan, pembajak bernama Abu Sofyan lantas mencabut pistol dan meminta Hanafiah duduk dan mengenakan sabuk pengaman di kursi. ”Kemudian saya tak tahu bahwa si pemimpin di belakang mengatakan saya dan empat sandera lainnya memang akan dihabisi setelah pembajakan berakhir. Yang mendengar omongan pembajak itu ibu yang berkacamata yang duduk di belakang,” kata Hanafiah.

Berita terkait pemakaman Captain Pilot pesawat Garuda DC-9 Woyla Herman Rante di Jakarta

Ibu yang bernama Kan Sue Yen itu mengatakan, ia memang mendengar ucapan kepala pembajak kepada temannya. ”Kalau kita sudah selesai, si gendut, itu, itu dan itu kita tembak mati saja, gak usah diampuni,” kata pembajak. Mendengar perbincangan para pembajak, Kan Sue Yen gemetar dan merasa tidak punya harapan lagi.

Adapun Budi Suwandi, pejabat Kanwil Departemen Sosial Sumatera Utara, mengatakan, dia juga menjadi incaran para pembajak.

”Saya duduk di kursi 1A, paling depan. Karena mereka tahu saya pejabat pemerintah, sedangkan mereka memusuhi pemerintah, saya pun dimusuhi bahkan diancam dan dimaki-maki sebagai pencuri uang rakyat,” ujarnya.

Para pembajak yang paling mengincarnya adalah Zulfikar. ”Tanda Korpri saya dirampas, ditanya terbuat dari emas atau bukan. Kalau saya bilang dari emas mungkin diambilnya juga, karena cincin kawin saya diambil,” kata Budi.

Jenazah almarhum Herman Rante, Captain Pilot pesawat Garuda DC-9 Woyla yang meninggal hari Minggu pagi di Bangkok, Thailand, tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma., Jakarta, 6 April 1981
Kebaktian sebelum pemakaman jenazah Captain Pilot pesawat Garuda DC-9 Woyla Herman Rante di Jakarta, 6 April 1981
Pemakaman Captain Pilot pesawat Garuda DC-9 Woyla Herman Rante di Jakarta, 6 April 1981
Jenazah Achmad Kirang salah satu Anggota Pasukan Kopassandha yang gugur pada usaha pembebasan sandera pesawat Garuda DC-9 Woyla di Bangkok tiba di Jakarta, 2 April 1981

Dikira main-main

Salah satu penumpang perempuan yang berprofesi sebagai dokter, dr Trimurni Abidin, semula menyangka gerakan kelompok pembajak itu hanya main-main belaka. Tapi begitu mereka mengeluarkan senjata api dan melakukan perampasan, ia baru menyadari bahwa pembajakan ini tidak main-main.

Ketika operasi penyerbuan oleh anggota pasukan khusus berlangsung, ia sedang tertidur lelap seperti hampir semua penumpang lainnya. Meski sempat tergelincir saat lari keluar dari pesawat, ia bersyukur akhirnya selamat.

Ia pun masih tergiang ucapan para pembajak yang mengatakan bahwa meski tuntutan untuk membebaskan teman-teman mereka dipenuhi, ”tak apa-apa kalau terpaksa meledak bersama”.

Sandera lain yang bernama Eddy Mulyono mengatakan, hanya karena lindungan Tuhan-lah, maka granat yang dilemparkan salah seorang pembajak itu tidak meledak. Dia juga merasa selama dalam penyanderaan dibenci oleh pembajak bernama Zulfikar.

”Dia pernah tahu saya dan saya tahu dia sewaktu dia menjadi petugas keamanan di Hotel Hilton Jakarta. Berulang kali ujung pistol ditempelkan di dahi saya sambil dimaki-maki,” ujar Eddy. Saat itu, Zulfikar juga menitipkan pesan kepada Eddy supaya kalau ke Hilton menyampaikan kepada pihak hotel bahwa Zulfikar-lah yang membajak pesawat.

”Namun, dia menambahkan saya tak akan sempat menyampaikan pesan itu karena akan dihabisi terlebih dahulu. Sewaktu saya mengatakan bayi saya baru lahir, malah saya diberi ujung pistol,” kata Eddy.

Putra dari Abidin Usman, satu-satunya sandera anak-anak dalam drama pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla, sedang menuruni tangga pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta

Pada awalnya, Eddy sempat ragu untuk naik penerbangan Garuda 206 itu. Ketika akan melangkah ke pesawat untuk boarding, dia beberapa kali maju mundur. ”Terasa tidak enak, tetapi karena bagasi sudah masuk, ya, terpaksa jalan terus” ujarnya. Dan benar saja ketika pesawat lepas landas dari Palembang dan tanda no smoking dipadamkan, drama penuh ketegangan itu harus dialaminya hingga Selasa dini hari.

Penumpang lainnya, Wawan Irawan, menimpali bahwa penjagaan keamanan di Talang Betutu, Palembang, (Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II) memang kurang ketat sehingga memungkinkan para pembajak membawa senjata masuk ke dalam pesawat. Senjata itu, antara lain, sepucuk pistol Colt-38, sepucuk pistol FN-32, dan granat tangan. Awalnya, Irawan mengira kejadian di dalam pesawat itu adalah perampokan karena mereka merampas barang-barang berharga milik penumpang terlebih dahulu.

Quote

Tapi begitu mereka mengeluarkan senjata api dan melakukan perampasan, ia baru menyadari bahwa pembajakan ini tidak main-main.

Selain diliputi ketegangan, suasana di dalam kabin juga tidak nyaman terutama saat penyejuk ruangan dimatikan, toilet pesawat yang tidak dibersihkan, serta air minum yang terbatas. Satu botol air minum terpaksa dibagi untuk beberapa penumpang. Sementara penumpang kehausan, para pembajak menyimpan banyak minuman dan makan buah-buahan.

Senin malam itu Wawan Irawan melihat Kapten Pilot Herman Rante keluar dari kokpit dan memandang para penumpang yang menjadi sandera dengan wajah haru. Sebetulnya para penumpang tidak begitu takut kalaupun harus terpaksa melawan para pembajak, yang mereka khawatirkan bukan pistol, melainkan granat. Nyatanya, senjata peledak ini kemudian tidak meledak dan sempat diraih oleh salah seorang anggota pasukan komando saat menyerbu ke dalam pesawat.

Direktur Utama Garuda Wiweko Soepono melihat keadaan kokpit pesawat Garuda DC-9 "Woyla" yang dibajak ke Bangkok saat kembali di Jakarta, 9 April 1981
Pesawat Garuda DC-9 Woyla yang dibajak ke Bangkok dan sudah tiba kembali di Jakarta berada di hanggar untuk keperluan pemeriksaan dan perbaikan, 9 April 1981
Lubang bekas peluru di dinding dekat kokpit pesawat Garuda DC-9 Woyla yang dibajak, 9 April 1981 *** Local Caption ***
Didampingi Direktur Utama Garuda Wiweko Soepono, keempat awak pesawat Garuda DC-9 Woyla diterima Presiden Soeharto dan ibu Tien Soeharto di kediaman presiden di Jalan Cendana, Jakarta. Dari kiri: pramugari Retno Wiyana, Deliyanti, Lydia dan Co-pilot Hedhy Juwantoro. Dirut Wiweko tampak di belakang mereka, 9 April 1981 *** Local Caption ***
Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin memberikan penghargaan kepada para awak pesawat Garuda DC-9 Woyla yang dibajak di Thailand.
Para sandera yang dibebaskan dari drama pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tampak berada di depan Hotel Garden setelah tiba kembali di Jakarta.

Dalam catatan Kompas pembajakan DC-9 Garuda di Bangkok itu merupakan peristiwa pembajakan pesawat yang ketiga kalinya di Indonesia. Sebelumnya pada 5 April 1972, pesawat jenis Vickers Viscount maskapai Merpati Nusantara Airlines nomor penerbangan MNA 171 rute Surabaya-Jakarta dibajak di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Pesawat kedua yang mengalami pembajakan adalah pesawat DC-9 Garuda nomor penerbangan GA-488 saat dalam penerbangan Jakarta-Surabaya pada 5 September 1977.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul