Tarif baru Trump membawa dampak berbeda bagi sejumlah negara. China, India, dan Brasil paling menikmati. Sekutu AS malah rugi.
23 Feb 2026 17:34 WIB · Internasional
AFP
WASHINGTON DC, SENIN — Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat soal tarif yang ditetapkan Presiden Donald Trump memberatkan para sekutu Washington. Padahal, para sekutu itu sudah susah payah berunding. Pendiri BRICS, yakni Brasil, India, dan China, malah bisa diuntungkan.
Potensi keuntungan itu diulas dalam laporan Bloomberg dan Financial Times pada Senin (23/2/2026). Bloomberg mengutip analisis Morgan Stanley untuk memetakan manfaat keputusan itu.
Menurut analisis tersebut, tarif rata-rata tertimbang untuk negara Asia akan turun dari 20 persen menjadi 17 persen. Sementara bea masuk rata-rata barang dari China turun dari 32 persen menjadi 24 persen.
Namun, angka-angka itu diprediksi hanya akan bertahan sementara. Sebab, pemerintahan Trump masih berupaya menerapkan bea masuk sektoral dan khusus untuk membangun kembali rezim tarifnya.
”Setidaknya tingkat ketidakpastian mengenai tarif dan ketegangan perdagangan telah berlalu,” tulis catatan para ekonom Morgan Stanley yang dipimpin oleh Chetan Ahya itu.

MA AS membatalkan tarif resiprokal Trump, Jumat (20/2/2026). Mahkamah memutuskan Trump tidak berwenang untuk memberlakukan bea masuk impor dan kebijakan tarif dengan menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Darurat Internasional tahun 1977 yang dikenal dengan IEEPA. Keputusan ini disambut baik oleh penggugat kebijakan tarif tersebut, termasuk para pengusaha.
Trump tidak tinggal diam atas keputusan ini. Ia menerapkan tarif baru sebesar 10 persen untuk impor barang dari semua negara. Kemudian, presiden yang didukung Partai Republik itu menaikkan lagi tarifnya menjadi 15 persen.
Hal ini membuat ketidakpastian global meningkat. Apalagi sejumlah negara, termasuk Indonesia, telah bernegosiasi dengan AS terkait kebijakan tarif tersebut. Di sisi lain, sejumlah negara yang selama ini dikritik Trump dalam kebijakan tarifnya merasa diuntungkan dengan putusan MA AS tersebut.
Selain China, India dan Brasil termasuk negara yang kini menikmati tarif lebih rendah untuk pengiriman ke AS setelah pembatalan tarif itu. Dengan tarif 15 persen pun, Brasil dan India tetap diuntungkan. Mereka dikenai tarif masing-masing 25 persen dan 18 persen.
Dilansir dari Financial Times, Brasil akan menikmati pengurangan tarif rata-rata terbesar. Sekutu lama AS, termasuk Inggris, Uni Eropa, dan Jepang, akan menderita dampak terbesar dari kebijakan tarif baru Trump itu.
Tarif baru sebesar 15 persen hanya diperbolehkan berlaku selama 150 hari. Kebijakan ini membutuhkan otorisasi lebih lanjut dari Kongres AS. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer berjanji untuk melanjutkan investigasi praktik perdagangan yang dapat menghasilkan lebih banyak bea masuk.
”Kami tidak memiliki fleksibilitas yang sama seperti yang diberikan IEEPA kepada kami. Kami akan melakukan investigasi yang memungkinkan untuk mengenakan tarif jika hal itu dibenarkan oleh investigasi. Jadi, kami berharap untuk memiliki keberlanjutan dalam program tarif saat ini,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/d7f8610767d7faf39cf1db9a1ecb1e87-20260121_AFP_ekspor_ke_AS_dari_Eropa.png)
Sejumlah pihak meminta kejelasan terkait kebijakan tarif terbaru Trump tersebut. Uni Eropa menganggap AS harus menghormati kesepakatan perdagangan setelah pengadilan memblokir tarif Trump.
Menurut Komisi Eropa, situasi saat ini tidak kondusif untuk mewujudkan perdagangan dan investasi Trans-Atlantik yang adil, seimbang, dan saling menguntungkan, sebagaimana disepakati oleh kedua belah pihak.
Tahun lalu, AS dan Uni Eropa menyepakati kesepakatan perdagangan yang mengenakan pajak impor sebesar 15 persen dari 70 persen barang Eropa yang diekspor ke AS. Komisi Eropa menangani perdagangan untuk 27 negara anggota Uni Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/23/015ed2e7ef73a909b86516705fce9522-Entry_into_force_of_higher_customs_duties_in_the_United_States_for_the_EU_and_other_trade_partners.jpeg)
Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa Bernd Lange mengatakan akan mengusulkan kepada tim negosiasi untuk menunda proses ratifikasi kesepakatan tersebut. ”Kekacauan tarif ini murni dari pihak pemerintahan AS. Tidak ada yang bisa memahaminya lagi. Hanya pertanyaan terbuka dan ketidakpastian yang semakin meningkat bagi Uni Eropa dan mitra dagang AS lainnya,” jelasnya.
Pembatalan tarif Trump oleh MA AS juga membuat India menunda rencana mengirimkan delegasi perdagangan ke Washington yang semestinya dijadwalkan Minggu (22/2/2026). Bea masuk barang dari India, menurut rencana, akan dipangkas menjadi 18 persen.
Sementara India setuju untuk membeli barang-barang AS senilai 500 miliar dolar AS selama lima tahun. Pembeliannya mulai dari pasokan energi, pesawat terbang dan suku cadangnya, logam mulia, serta produk teknologi.
”Keputusan untuk menunda kunjungan tersebut diambil setelah diskusi di antara pejabat kedua negara. Belum ada tanggal baru untuk kunjungan itu yang telah diputuskan,” ujar seorang pejabat di Kementerian Perdagangan India. (AP/Reuters)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Retma Wati