Pembukaan Akses ke Tapanuli Tengah Dikebut, 166 Korban Meninggal Ditemukan di Sumut

Dari total 50 km Jalan Tarutung-Sibolga yang tertimbun longsor, 22 km di antaranya telah berhasil dibuka. Petugas berjibaku membuka 30 km sisanya.

30 Nov 2025 18:09 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

TARUTUNG, KOMPAS — Sudah sepekan, akses jalan ke kawasan bencana Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga di Sumatera Utara putus total. Akses ke kawasan itu, yakni Jalan Tarutung-Sibolga, masih lumpuh.

Sejauh ini, petugas gabungan telah membuka jalan dari Kilometer 14 sampai Kilometer 36. Namun, material longsor dan banjir bandang, berupa lumpur dan batang pohon, masih menumpuk di puluhan lokasi lainnya.

”Masih ada sekitar 30 km lagi jalan yang belum bisa dilalui karena tertimbun longsor. Di beberapa tempat, jalan juga amblas,” kata Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera II Indra Kurnia, di Tapanuli Utara, Minggu (30/11/2025).

Pantauan Kompas, sejumlah ekskavator digunakan untuk membuka akses Km 36. Lokasi itu merupakan titik longsor yang paling parah. Lumpur dan batang pohon menumpuk di jalan hingga ketinggian empat meter di sepanjang 300 meter badan jalan.

Warga makan dengan lauk seadanya di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025). Sudah hampir sepekan warga di desa itu terisolasi karena Jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus karena longsor dan banjir bandang.

Sudah tiga hari sejumlah alat berat bekerja di lokasi itu dan baru bisa membuka jalur sekitar 200 meter. Petugas kesulitan menggeser batang-batang kayu besar dan juga lumpur tinggi. ”Ini salah satu titik yang paling parah,” kata Indra.

Indra menyebut, tim gabungan pembukaan jalan akan bekerja 24 jam dalam sehari. Mereka akan membagi tim dalam dua kelompok. Tim sedang menyiapkan lampu penerangan yang memadai agar bisa bekerja saat malam.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto mengatakan, saat ini pemerintah berfokus membuka jalur darat ke kawasan Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.

Pembukaan jalan ke daerah tersebut terus dikebut agar bisa mengirim bantuan bahan pokok, mengevakuasi korban, dan melakukan tanggap darurat bencana.

”Di Sumut, terdapat 166 orang meninggal dan 143 lainnya dinyatakan hilang. Korban paling banyak di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga,” kata Suharyanto.

Sepanjang Sabtu hingga Minggu, kata Suharyanto, tim gabungan pencarian dan pertolongan berhasil mengevakuasi lebih dari 60 korban meninggal di Sumut. Ribuan warga juga masih mengungsi di berbagai daerah akibat kondisi permukiman yang rusak dan akses yang terputus.

Pantauan Kompas, warga dari berbagai desa yang terisolasi di Tapanuli Tengah masih terus keluar ke arah Tapanuli Utara untuk mencari bahan pokok. Mereka berjalan 3-8 jam dari desa masing-masing ke Kecamatan Adiankoting.

Warga membawa bahan pokok menuju daerah terisolasi di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025). Sudah hampir sepekan warga di desa itu terisolasi karena Jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus karena longsor dan banjir bandang.

Bonar Hutagalung (46), warga Desa Pagaran Lambung I, berjalan melewati timbunan longsor ke desa terdekat yang sudah bisa diakses kendaraan. Sudah sepekan desa mereka terisolasi. Stok beras mereka sudah mulai menipis.

Dalam sepekan ini, warga desa itu makan di pos pengungsian. Kantor desa membeli beras dari sebuah truk pengangkut beras yang terjebak di longsor di desa itu. Namun, stok beras itu juga sudah menipis.

”Tadi saya berjalan kaki untuk membeli beras di desa terdekat yang sudah bisa diakses. Namun, di warung-warung di desa itu juga tidak ada lagi yang punya stok beras untuk dijual,” kata Bonar.

Sejak Minggu pagi, puluhan warga tampak keluar dari desa-desa terisolasi. Mereka hanya bisa mendapat mi instan dan minyak goreng yang mereka beli dari warung. Ada juga yang beruntung mendapat bantuan dari beberapa organisasi yang memasok bahan pokok.

Akses listrik ke desa-desa terisolasi tersebut juga masih putus total. Demikian juga dengan pasokan gas elpiji. Warga akhirnya memasak dengan kayu bakar.

Mereka juga membuat pelita dari botol kaca. Mereka menggunakan minyak tanah dan solar yang ada di beberapa mobil.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra