Pembuktian Awal Fajar/Fikri

Fajar/Fikri melaju ke perempat final turnamen bulu tangkis China Masters. Ini menjadi perempat final ketiga dalam tiga turnamen.

18 Sep 2025 20:21 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

SHENZHEN, KAMIS — Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri ingin membuktikan diri bisa bersaing dengan ganda putra top dunia dengan konsisten. Perempat final turnamen bulu tangkis China Masters menjadi awal pembuktian mereka.

Perempat final dalam turnamen BWF World Tour Super 750 itu akan dijalani setelah Fajar/Fikri mengalahkan andalan tuan rumah, Liang Wei Keng/Wang Chang, pada babak kedua. Di Shenzhen Arena, Kamis (18/9/2025), mereka menang dengan skor 16-21, 21-15, 21-18.

Ini menjadi kemenangan Fajar/Fikri yang kedua kali atas Liang/Wang di kandang lawan. Dua bulan lalu, Fajar/Fikri mengalahkan peraih medali perak Olimpiade Paris 2024 itu di depan pendukung mereka di kota lain di China, Changzhou, pada semifinal China Terbuka.

Selain meraih perak Olimpiade, Liang/Wang adalah semifinalis Kejuaraan Dunia 2023 dan bertanding di China Masters setelah menjuarai Hong Kong Terbuka, 9-14 September. Mereka juga memiliki keuntungan karena mendapatkan dukungan hampir semua penonton di Shenzhen Arena.

Liang/Wang terlihat akan memenangi pertandingan itu dengan memenangi gim pertama. Mereka membuat Fajar/Fikri kesulitan menyerang karena Wang selalu menekan lebih dulu di dekat net.

Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri mengalahkan Liang Wei Keng/Wang Chang pada babak kedua turnamen China Masters. Di Shenzhen Arena, Kamis (18/9/2025), Fajar/Rian menang dengan skor 16-21, 21-15, 21-18.

Setelah itu, suasana di stadion tak seramai gim pertama karena Fajar/Fikri bisa menguasai momentum pada dua gim berikutnya. Mereka melepas emosi dan rasa lega dengan berteriak setelah mendapatkan poin terakhir dari smes Fikri. Poin kemenangan didapat setelah Liang/Wang memperkecil selisih ketertinggalan dari 15-20 menjadi 18-20.

”Pertandingan yang cukup melelahkan dan luar biasa. Liang/Wang didukung satu arena, tapi kami tidak mau menyerah. Kami terus melakukan yang terbaik, ingin mengulang kemenangan di China Terbuka dan membuktikan bahwa kami bisa bersaing dengan pasangan-pasangan top,” kata Fajar.

Di China Terbuka, 22-27 Juli, Fajar/Fikri memberi kejutan bagi pasangan-pasangan top dunia dengan menjadi juara. Padahal, itu merupakan turnamen kedua mereka setelah mencapai perempat final Jepang Terbuka, sepekan sebelumnya.

Gelar dari China Terbuka menjadi satu-satunya gelar bagi Indonesia dalam turnamen Super 1000. Pada tiga turnamen Super 1000 lain, yaitu Malaysia Terbuka, All England, dan Indonesia Terbuka, atlet-atlet Indonesia kalah bersaing dengan atlet-atlet negara lain, terutama China, Korea Selatan, dan Jepang.

Maka, China Masters, yang hanya satu level di bawah China Terbuka, menjadi perjalanan berbeda bagi Fajar/Fikri. Seperti dikatakan Fajar, konsistensi dia dan Fikri dalam bersaing dengan pasangan-pasangan top dunia diuji di China Masters dan turnamen-turnamen berikutnya pada 2025.

Setelah mengalahkan Liang/Wang, tantangan berikutnya bagi Fajar/Fikri datang dari pemain yang mengalahkan mereka pada perempat final Jepang Terbuka, Goh Sze Fei/Nur Izuddin. Pasangan Malaysia itu mengalahkan wakil Indonesia lainnya, Muhammad Rian Ardianto/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, pada babak pertama.

”Kami mau mencoba revans. Kami harus lebih percaya diri, harus lebih siap lagi,” ujar Fikri menyatakan tekad setelah dikalahkan Goh/Izuddin 13-21, 21-17, 20-22 di Jepang.

Putri Kusuma Wardani berupaya menjangkau kok dalam babak kedua turnamen China Masters di Shenzhen Arena, Kamis (18/9/2025). Putri mengalahkan Sim Yu-jin (Korea Selatan), 21-16, 21-19.

Selain Fajar/Fikri, Putri Kusuma Wardani juga lolos ke perempat final setelah mengalahkan Sim Yu-jin (Korea Selatan) 21-16, 21-19. Putri mengatasi kelebihan Sim yang memiliki keistimewaan berupa arah pukulan yang sulit ditebak.

”Menurut saya, Sim adalah salah satu pemain yang pukulannya paling menyulitkan. Dia punya kelebihan mengarahkan bola ketika sudah dekat dengan raketnya, itu sering tidak terbaca. Tapi, saya merasa tidak punya beban untuk menang, hanya berusaha main dengan pola yang disiapkan,” kata Putri.

Pemain berusia 23 tahun itu mencapai performa konsisten pada 2025 dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Laga delapan besar China Masters, yang akan dijalani Jumat, menjadi perempat final kelima Putri pada turnamen Super 750 ke atas, termasuk ketika mencapai semifinal Kejuaraan Dunia di Perancis, 25-31 Agustus.

Setelah menjadi semifinalis Kejuaraan Dunia, Putri menggeser seniornya, Gregoria Mariska Tunjung, menjadi tunggal putri nomor satu Indonesia berdasarkan peringkat dunia. Putri menempati ranking ketujuh, sementara Gregoria kedelapan, meski saat ini telah bertukar posisi lagi.

Jonatan dan Jafar/Felisha Kalah

Skuad tunggal putra dan ganda campuran Indonesia kehabisan wakil setelah tiga wakil tersingkir pada babak kedua. Mereka adalah Jonatan Christie, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah.

Jonatan Christie mengembalikan kok dengan backhand pada babak kedua turnamen China Masters di Shenzhen Arena, Kamis (18/9/2025). Jonatan kalah dari Lin Chun Yi, 5-21, 20-22.

Jonatan gagal mencapai final seperti pada 2024 setelah dikalahkan Lin Chun Yi 5-21, 20-22. Jonatan kesulitan menghadapi tekanan Lin yang sering kali diarahkan ke sudut lapangan.

”Hari ini, dia bermain lebih sabar dengan tempo sedikit lambat, padahal biasanya agresif dan cepat. Adapun saya bermain kurang tenang dan terburu-buru,” kata Jonatan.

Sementara itu, Felisha mengatakan, kemampuan dia dan Jafar masih jauh dari juara dunia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei, yang mengalahkan mereka 13-21, 21-13, 16-21. ”Mereka bermain bagus dengan konsisten. Kami harus terus belajar cara mengatasi tekanan agar bisa menjadi pemain top seperti mereka,” kata Felisha.

Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu kalah pada babak kedua China Masters. Di Shenzhen Arena, Kamis (18/9/2025), mereka kalah dari juara dunia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei, 13-21, 21-13, 16-21.

Kekalahan pada babak kedua China Masters menjadi kekalahan Jafar/Felisha pada babak-babak awal dalam tiga kejuaraan beruntun. Hal ini dialami setelah mereka mencapai semifinal China Terbuka. Selain kalah dari Chen/Toh pada babak kedua China Masters dan babak ketiga Kejuaraan Dunia, mereka kalah dari Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping pada babak kedua Hong Kong Terbuka.

Rangkaian kekalahan itu memperlihatkan bahwa Jafar/Felisha masih kesulitan untuk mengalahkan ganda campuran top dunia. Pemain berusia 22 dan 20 tahun itu masih harus belajar mengatasi tekanan dalam persaingan level tinggi. Apalagi, 2025 menjadi tahun pertama mereka tampil dalam turnamen BWF World Tour secara intens.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto