Masih terikat kontrak hingga 2027, PSSI memilih memberhentikan Patrick Kluivert. Namun, memecat pelatih bukan solusi tunggal meningkatkan level sepak bola Indonesia.
16 Okt 2025 17:47 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Pemecatan Patrick Kluivert sebagai pelatih tim nasional sepak bola Indonesia memperlihatkan respons instan PSSI terhadap desakan publik. Gerbong pelatih Belanda di segala kelompok usia ikut terkena pemberhentian kontrak dengan keputusan bersama (mutual termination). Namun, perlu diingat, membongkar pasang pelatih bukan cara yang tepat meningkatkan level sepak bola Indonesia.
Keputusan mengakhiri kerja sama dengan persetujuan bersama itu disampaikan Ketua Umum PSSI Erick Thohir melalui akun media sosialnya. Erick berterima kasih terhadap kontribusi Kluivert bersama dua asistennya, Alex Pastoor dan Danny Landzaat, selama hampir setahun menangani timnas. Selain mereka, PSSI turut memberhentikan Gerald Vanenburg sebagai pelatih tim U-23 dan Frank van Kempen di tim U-20.
”Dengan penuh rasa hormat, PSSI dan coach Patrick dan tim kepelatihan sepakat untuk mengakhiri kerja sama ini. Kita akan melakukan evaluasi dan menentukan target bagi timnas Indonesia berikutnya untuk bisa masuk ranking 100 besar FIFA, Piala Asia 2027, dan Piala Dunia 2030,” tulis Erick, Kamis (16/10/2025).
Sebelumnya, Erick memang sempat mengatakan bahwa Kluivert tidak ditargetkan untuk membawa Indonesia lolos Piala Dunia 2026, melainkan 2030. Oleh sebab itu, pemecatan Kluivert terasa janggal lantaran ia bahkan tidak bisa dikatakan melenceng dari target.
Pemecatan Kluivert secara tiba-tiba bisa dibaca sebagai respons instan PSSI terhadap desakan kuat publik yang meminta Kluivert keluar. Hal senada juga sempat diutarakan Manajer Timnas Indonesia Sumardji yang menyebut bahwa evaluasi semestinya bukan diarahkan kepada pemain, melainkan tim kepelatihan.
”Tim pelatih yang harusnya dievaluasi. Pemain hanya menjalankan instruksi dan taktik yang disampaikan tim pelatih,” ucap Sumardji.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/16/5300fd981dc238739123f47635445e1c-20251016kluivert.jpg)
Pemecatan ini membuat Kluivert masuk jajaran pelatih timnas Indonesia dengan masa bakti yang relatif singkat. Kluivert ditunjuk menggantikan Shin Tae-yong pada 8 Januari. Artinya, Kluivert hanya sempat menangani timnas selama 281 hari atau sembilan bulan 11 hari.
Pelatih-pelatih lainnya yang hanya sempat sekejap menangani timnas Indonesia, antara lain, Simon McMenemy (317 hari), Jacksen Tiago (252 hari), dan Ivan Toplak (150 hari).
Dalam periode kepemimpinannya, Kluivert menjalani delapan pertandingan dengan hasil yang kurang konsisten, yakni meraih tiga kemenangan, satu hasil imbang, dan empat kali kalah. Dari total laga tersebut, timnas mencetak 11 gol, tetapi kebobolan 15 kali. Statistik ini menunjukkan disparitas antara lini depan dan belakang yang belum seimbang.
Strategi Kluivert yang mengandalkan build-up cepat dan pressing tinggi sering kali tidak berjalan efektif karena kurangnya koordinasi antarlini. Hasilnya, Indonesia kerap kehilangan kendali permainan dan mudah dibongkar melalui serangan balik lawan.
Memecat Kluivert hanyalah sebagian kecil dari upaya evaluasi menyeluruh terhadap program pembinaan dan pengembangan sepak bola nasional dari PSSI. Pergantian pelatih saja tidak cukup membuat sepak bola suatu negara mampu bersaing di level dunia.
Indonesia bisa meniru Uzbekistan yang mencetak sejarah lolos ke Piala Dunia bukan karena mengganti pelatih, tetapi mereformasi total sistem sepak bola mereka.
Sejak 2023, sepak bola telah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan nasional di Uzbekistan. Lebih dari 10.000 sekolah memiliki program sepak bola. Guru olahraga pun mendapat pelatihan langsung dari Federasi Sepak Bola Uzbekistan (UFA). Untuk menjaring banyak talenta, UFA rutin menggelar turnamen nasional yang menumbuhkan partisipasi publik terhadap sepak bola sejak dini.
Infrastruktur dan peran pelatih lokal Uzbekistan turut diperkuat. Seluruh pelatih sepak bola lokal di Uzbekistan wajib mengantongi lisensi kepelatihan. Dana pajak banyak dipergunakan untuk membangun akademi yang medorong hidupnya kompetisi domestik. Memecat seorang pelatih dan menggantinya dengan yang baru tidak akan pernah meningkatkan level sepak bola Indonesia secara ajek.
Selain Kluivert, sejumlah pelatih timnas negara Eropa juga mengalami nasib serupa kehilangan pekerjaan seusai gagal meloloskan timnya ke Piala Dunia pada jeda internasional Oktober. Namun, yang paling mengejutkan adalah pemecatan pelatih Swedia, Jon Dahl Tomasson. Mantan pemain AC Milan itu menjadi pelatih pertama yang dipecat dalam sejarah timnas Swedia.
Di beberapa negara, memecat pelatih timnas tergolong hal yang biasa. Kebiasaan berbeda berlaku di Swedia. Sepanjang sejarahnya, negara Skandinavia itu belum pernah memecat pelatih. Pengalaman yang ada ialah para pelatih Swedia biasanya mengundurkan diri atau kontraknya telah habis.
Pemecatan Tomasson akibat performa buruk Swedia pada kualifikasi Piala Dunia. Swedia saat ini menempati peringkat terbawah Grup B dengan hanya mengumpulkan satu poin dari empat pertandingan. Kekalahan 0-1 dari Kosovo di markas sendiri adalah yang ketiga secara beruntun bagi Swedia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/14/d720c204-3c89-4b0f-b71c-e2fd3eb97223_jpg.jpg)
”Keputusan yang dibuat oleh dewan asosiasi didasarkan pada fakta bahwa tim nasional putra belum memberikan hasil yang kami harapkan. Masih ada peluang playoff di bulan Maret dan tanggung jawab kami adalah memastikan kondisi kami seoptimal mungkin untuk mencapai playoff Piala Dunia. Oleh karena itu, kami menilai diperlukan kepemimpinan baru, yaitu pelatih baru,” kata Ketua Asosiasi Sepak Bola Swedia Simon Astrom dalam pernyataannya.
Tomasson diangkat pada Februari 2024. Tiga dari empat pertandingan perdananya sebagai pelatih berakhir dengan kekalahan. Meski begitu, ia sempat membawa Swedia meraih lima kemenangan dan satu kali imbang di Liga Nasional Eropa sehingga berhak promosi ke Liga B.
Kekalahan memalukan dari Kepulauan Faroe juga mendorong Federasi Sepak Bola Ceko (FACR) memberhentikan pelatihnya, Ivan Hasek. Di bawah asuhan Hasek, Ceko tersingkir di babak penyisihan grup Piala Eropa 2024. Namun, Ceko mampu menjadi juara grup di Liga Nasional Eropa dan melaju ke puncak Liga A. Kekalahan dari Kepulauan Faroe pun tidak menutup jalan Ceko menuju Piala Dunia. Namun, mereka kehilangan kesempatan lolos secara langsung.
Presiden FACR David Trunda mengatakan akan segera menunjuk pelatih yang mendampingi tim hingga akhir babak kualifikasi. Pengganti Trunda kemungkinan besar adalah pelatih dari luar Ceko. Saat ini, legenda sepak bola Ceko, Pavel Nedved, sudah ditugaskan untuk menyusun daftar pelatih baru yang potensial.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase