PENJAGA PERDAMAIAN

Pemerintah Indonesia Desak Investigasi atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Instruksi khusus atau brifing telah diberikan agar pasukan yang bertugas di daerah misi meningkatkan kewaspadaan mengingat dinamika keamanan yang tidak menentu.

31 Mar 2026 17:15 WIB · Politik & Hukum

PUSAT PENERANGAN TNI

Oleh Iqbal Basyari, Willy Medi Christian Nababan

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Indonesia mendesak investigasi menyeluruh atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon sekaligus menginstruksikan peningkatan kewaspadaan bagi seluruh personel yang masih bertugas di wilayah konflik. Langkah ini diambil untuk memastikan pertanggungjawaban otoritas terkait serta memitigasi risiko keamanan guna mencegah jatuhnya korban tambahan dalam misi perdamaian tersebut.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah sangat menyayangkan insiden yang menimpa tiga anggota penjaga perdamaian (UNIFIL). Sikap resmi pun telah disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri kepada otoritas-otoritas terkait agar proses pengungkapan fakta segera dilakukan secara transparan.

”Mewakili Bapak Presiden, tentunya kami, pemerintah, menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Melalui Menteri Luar Negeri juga, kemarin, pemerintah telah menyampaikan sikap, termasuk menyayangkan kejadian ini sekaligus meminta kepada otoritas-otoritas terkait untuk melakukan investigasi,” tutur Prasetyo melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Sebagai tindak lanjut, kata Prasetyo, Kementerian Sekretariat Negara telah melakukan koordinasi lintas sektoral bersama Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan Panglima TNI. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan proses pemulangan jenazah ketiga prajurit berjalan lancar untuk segera diserahkan kepada pihak keluarga. Seluruh instansi terkait sedang mengerahkan upaya terbaik agar prosedur repatriasi dari wilayah misi di Lebanon tidak menemui kendala birokrasi yang berarti.

Quote

Mereka adalah pahlawan perdamaian yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemanusiaan dan stabilitas dunia. Pengabdian mereka tidak hanya untuk Indonesia, tetapi untuk seluruh umat manusia.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat memberikan keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (25/7/2025).

Selain itu, pemerintah menaruh perhatian besar kepada ribuan personel TNI yang masih bersiaga di lapangan. Instruksi khusus atau brifing telah diberikan agar anggota pasukan di daerah misi meningkatkan kewaspadaan mengingat dinamika keamanan yang tidak menentu.

Langkah ini dipandang krusial sebagai bentuk proteksi negara terhadap prajuritnya yang bertugas sebagai representasi perdamaian dunia. Pemerintah ingin memastikan setiap personel tetap menjalankan mandat dengan protokol keamanan yang paling ketat demi menghindari terulangnya tragedi serupa.

”Sekali lagi, tentunya kami merasa sangat kehilangan dan merasakan dukacita yang sangat mendalam,” ujar Prasetyo.

Bendera PBB, bendera Merah Putih, dan bendera Lebanon berkibar setengah tiang di markas pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, United Nations Interim Force in Lebanon atau UNIFIL, Selasa (31/3/2026).

Bendera setengah tiang

Duka mendalam menyelimuti markas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) saat bendera PBB, Merah Putih, dan bendera Lebanon berkibar setengah tiang. Penghormatan ini dilakukan menyusul gugurnya tiga prajurit TNI dalam dua insiden berbeda dalam waktu kurang dari 24 jam di tengah eskalasi konflik yang kian meruncing di daerah perbatasan.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia mengonfirmasi bahwa tragedi susulan terjadi pada Senin (30/3/2026) yang menimpa prajurit Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Insiden fatal tersebut terjadi saat Tim Escort Kompi B yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) tengah melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU).

Konvoi tersebut sedang dalam tugas memberikan dukungan logistik dari Markas Komando (Mako) Sektor Timur UNIFIL di United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1. ”Insiden terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi, di mana terjadi ledakan pada kendaraan,” kata Aulia.

Peristiwa terbaru ini merenggut nyawa Kapten Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan. Selain korban jiwa, dua prajurit lainnya, yakni Letnan Satu Sulthan Wirdean Maulana dan Prajurit Kepala Deni Rianto, mengalami luka-luka dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit St George di Beirut untuk penanganan medis intensif.

Infografik Serangan ke Pos UNIFIL di Lebanon

Gugurnya Kapten Zulmi dan Sersan Satu Ichwan menambah daftar kelam Kontingen Garuda setelah sebelumnya, Minggu (29/3/2026), Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon juga dinyatakan gugur dalam tugas. Dengan demikian, total ada tiga prajurit TNI gugur dalam rentetan serangan di wilayah penugasan tersebut.

Meskipun dihadapkan pada risiko keamanan yang kian tinggi, TNI menegaskan komitmennya untuk tidak mundur dari mandat internasional. ”TNI dalam melaksanakan penugasan Pasukan Pemeliharaan Perdamaian tetap mengutamakan keselamatan prajurit dengan tetap meningkatkan kewaspadaan sesuai SOP UNIFIL,” ujar Aulia.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla juga menyampaikan dukacita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI. Ia menyebut para prajurit yang gugur sebagai pahlawan perdamaian dunia.

”Mereka adalah pahlawan perdamaian yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemanusiaan dan stabilitas dunia. Pengabdian mereka tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk seluruh umat manusia,” ujar Kalla.

Ketua PMI Jusuf Kalla

Ia menilai kehadiran TNI dalam misi perdamaian internasional menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam menjaga ketertiban dunia sebagaimana amanat konstitusi. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mendoakan para prajurit yang gugur serta memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

”Pengabdian mereka tidak hanya untuk Indonesia, tetapi untuk seluruh umat manusia. Ini adalah kehilangan besar, tetapi juga kebanggaan bagi bangsa,” tutur Kalla.

Peneliti Semar Sentinel, Sandy Juda Pratama, menyampaikan, gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian menjadi peringatan keras bagi postur diplomasi dan kebijakan luar negeri Indonesia. Insiden bertubi-tubi ini memperkuat desakan sebelumnya agar pemerintah tidak sekadar menunggu hasil investigasi UNIFIL, tetapi harus menuntut keterlibatan aktif.

Oleh karena itu, ia mendesak agar Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah strategis, termasuk berpartisipasi langsung dalam investigasi UNIFIL. Hal ini diperlukan demi menjamin perlindungan warga negara dan memastikan akuntabilitas di tengah eskalasi konflik regional yang kian memanas.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari, Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra