Sumatera Utara menjadi daerah paling terdampak banjir dan tanah longsor. Akses jaringan internet dan seluler di Tapanuli Tengah masih terputus.
28 Nov 2025 18:38 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/NIKSON SINAGA
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah memanfaatkan Starlink untuk membuka jalur komunikasi seluler dan internet yang terputus, imbas banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Saat bersamaan, sejumlah operator telekomunikasi seluler masih terus berupaya memulihkan base transceiver station atau BTS.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan sejumlah bantuan untuk menangani bencana alam di Sumatera. Salah satunya pengiriman Starlink beserta genset guna menunjang komunikasi.
”Alat komunikasi Starlink dan gensetnya ini sangat berguna, terutama di Tapanuli Tengah (Sumatera Utara) itu listrik dan air masih mati. Kalau masuk ke Tapanuli Tengah, itu enggak ada sinyal sama sekali. Starlink sudah didistribusikan ke pemerintah daerah, pengungsian, dan Satuan Tugas TNI/Polri,” ujarnya dalam konferensi pers yang dilakukan secara hibrida, Jumat (28/11/2025).
Serupa dengan Sumatera Utara, jalur komunikasi di Aceh relatif terganggu. BNPB harus memasang Starlink di sejumlah daerah. Perbaikan jalur komunikasi menjadi prioritas dalam beberapa hari ke depan.
”Dalam 1-2 hari ini, memang kami fokus ke evakuasi pencarian dan pertolongan korban, distribusi logistik, buka jalur transportasi dan komunikasi yang putus. Kami laksanakan langkah-langkah untuk mengurus para pengungsi,” tutur Suharyanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/03/47031f17e0541a8b5abf42f76f732dd8-IMG_6600.JPG)
Jalur komunikasi di Sumatera Barat dinilai masih berfungsi cukup baik. Namun, pihaknya tetap melakukan komunikasi darurat melalui Starlink.
Berdasarkan data Indosat Ooredoo Hutchison per Kamis (27/11/2025), sebanyak 71,68 persen titik di wilayah Sumatera bagian utara telah berfungsi dengan baik. Tim teknis tengah mempercepat proses pemulihan. Proses pemulihan melalui perbaikan jalur transportasi telekomunikasi dan mengoperasikan sumber daya portable yang disebar di lokasi-lokasi terdampak.
”Dengan langkah-langkah tersebut, Indosat telah mampu menjaga keberlangsungan layanan dasar, seperti telepon dan pesan singkat serta layanan data secara terbatas tetap berjalan,” ujar Executive Vice President (EVP) Head of Circle Sumatera Indosat Agus Sulistio secara tertulis.
Indosat berkomitmen untuk menjaga keberlangsungan layanan dan mendukung kebutuhan komunikasi pelanggan di wilayah terdampak. Pihaknya juga menyatakan empati mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda berbagai tempat, antara lain Aceh, Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan beberapa area di Sumatera Barat.
Hal senada diutarakan General Manager Region Network Operations and Productivity Sumbagut PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel Nurdianto. Hingga Kamis (27/11/20252), beberapa titik jaringan transportasi terimbas bencana serta pemadaman listrik masif. Akibatnya, kualitas jaringan Telkomsel menurun di sejumlah titik terkait.
”Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak dan berupaya melakukan percepatan pemulihan jaringan, agar pelanggan dapat kembali menikmati layanan komunikasi dengan lancar,” kata Nurdianto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/a3cf2796-5d1e-4c01-8e15-097c3d11f12b.jpg)
Beberapa BTS milik PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk juga terdampak akibat bencana alam ini. Hal ini berkaitan erat dengan ketiadaan pasokan listrik di wilayah terdampak.
”Sementara untuk jaringan, ada beberapa BTS kami yang terdampak karena tidak adanya pasokan listrik. Saat ini, kami masih terus melakukan upaya pengecekan dan pemulihan terhadap beberapa BTS yang terdampak tersebut. Untuk detailnya, kami belum bisa sampaikan,” tutur Group Head Corporate Communication and Sustainability XLSmart Reza Mirza.
Menurut data Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), Kamis (27/11/2025), terdapat 34.660 site pemancar telekomunikasi dan 495 di antaranya tidak berfungsi terimbas banjir. Dengan jumlah site yang sama di Aceh, 799 site terdampak. Gangguan terjadi utamanya karena aliran listrik PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN ke site-site tersebut berhenti. Sumatera Barat disokong 3.739 site eksisting, sedangkan 16 site di antaranya mati karena banjir.
Saat ini, Kemenkomdigi mengatakan bahwa operator telekomunikasi seluler tengah berupaya memulihkan site terdampak. Menurut rencana, mereka akan menggunakan genset sebagai catu daya alternatif hingga aliran listrik kembali normal.
Namun, mereka sendiri terkendala. Akses menuju ke lokasi site terdampak banjir sehingga menghambat mobilisasi genset,” tulis Kemenkomdigi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/28/964847301e045c4006febdd69b60f473-20251128_GKT_Bencana_Alam_di_Indonesia_3_mumed.png)
Para operator telekomunikasi seluler diklaim telah melakukan routing atau pemilihan jalur terbaik untuk mengirimkan aliran sinyal ke beberapa titik yang masih dapat terlayani. Sejauh ini masih dilakukan verifikasi untuk pengecekan lebih lanjut (Kompas.id, 27/11/2025).
Dalam data terbaru BNPB per sore ini, korban terbanyak tercatat di Sumatera Utara. Korban meninggal mencapai 116 jiwa, sedangkan 42 jiwa lainnya masih dalam pencarian. Pengungsian tersebar di beberapa titik yang berjumlah lebih dari 1.000 KK.
Untuk Aceh, sebanyak 35 jiwa dilaporkan meninggal, sedangkan 25 jiwa lainnya masih dinyatakan hilang. Jumlah pengungsinya mencapai 4.846 KK. Data di Sumatera Barat, terdapat 23 jiwa meninggal dan 12 jiwa hilang. Sekitar 3.900 KK mengungsi.
Menurut Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi, para operator telekomunikasi seluler perlu mengecek dan memperbaiki genset dan komponen-komponen teknis lain yang bermasalah. Jika masih belum memungkinkan, mobile combat komunikasi perlu segera dikirimkan.
”Ini hanya ada BTS di mobilnya agar bisa menjadi BTS sementara sebagai alat komunikasi masyarakat. Pos-pos telepon umum juga perlu disediakan agar masyarakat bisa menggunakan layanan komunikasi,” kata Heru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/c4e16e2d2fee96e0d5612f1773d465ae-20250910TOK1.jpg)
Belajar dari bencana ini, Heru melanjutkan, pemerintah dan pemangku kepentingan lain harus menyiapkan mobil siaga bencana khusus komunikasi. Alat ini telah jamak dilakukan negara-negara lain.
Di dalam mobil siaga ini, terdapat BTS, antena dengan jaringan 3G, 4G, dan 5G. Ketika mobil bergerak ke lokasi bencana dapat memancarkan jaringan telekomunikasi kepada masyarakat, agar komunikasi dengan dunia luar dapat kembali terhubung.
”Mobil tersebut juga sebagai medium untuk melaporkan dampak bencana ke pimpinan pusat. Kebutuhan daerah tersebut juga bisa dikomunikasikan ke dunia luar. Bentuknya bisa berupa video sehingga penanganan bencana bisa lebih cepat dan tepat ditangani,” tutur Heru.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase