KURS RUPIAH

Pemerintah Suntik Rp 2 Triliun Per Hari ke Pasar Obligasi demi Redam Gejolak Rupiah

Kementerian Keuangan menjamin intervensi pasar obligasi tak ganggu APBN karena murni mengandalkan kas siap pakai (”idle cash”) senilai Rp 420 triliun.

18 Mei 2026 19:46 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Iqbal Basyari

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Keuangan akan menyuntikkan dana sebesar Rp 2 triliun setiap hari ke pasar surat utang atau bond market secara bertahap. Langkah ini diambil guna meredam volatilitas di pasar keuangan, menahan laju keluarnya modal asing atau capital outflow, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Intervensi dilakukan menyusul pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot yang ditutup melemah signifikan ke level Rp 17.668 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026). Posisi tersebut menunjukkan penurunan tajam dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.597 per dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, keterlibatan aktif pemerintah sebagai pembeli di pasar obligasi harian ini diharapkan mampu membangun kembali sentimen positif di kalangan investor. Intervensi tersebut dijadwalkan segera bergulir agar pergerakan harga surat berharga negara kembali stabil.

”Kita sudah masuk ke bond market bertahap, ya. Asing juga sudah masuk juga, jadi harusnya ke depan, minggu-minggu ini, akan lebih stabil. Saya akan masuk setiap hari ke bond market,” ujar Purbaya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (18/5/2026).

Quote

Itu, kan, hanya ”cash management” jadi tidak masalah. Uangnya tidak hilang, cuma diputar saja supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) dan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kanan) menyapa wartawan sebelum menyampaikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Senin (5/5/2026). Kementerian Keuangan mencatat, hingga akhir Maret 2026, defisit APBN 2026 mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).




KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
05-05-2026

Saat ditanya mengenai besaran dana yang dialokasikan pemerintah untuk intervensi harian tersebut, Purbaya secara eksplisit menyebutkan komitmen angkanya. ”Saya minta masuk Rp 2 triliun setiap hari,” tutur Purbaya.

Purbaya menjamin aksi pasar ini sama sekali tidak akan mengganggu postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pendanaan intervensi murni mengandalkan pengelolaan kas negara (cash management) jangka pendek yang saat ini dalam posisi likuid.

Dengan total kas siap pakai (idle cash) yang mencapai Rp 420 triliun, pemerintah mengklaim memiliki amunisi yang cukup panjang untuk menjaga kesinambungan kebijakan tersebut.

”Itu, kan, hanya cash management saja jadi tidak masalah. Uangnya tidak hilang, cuma diputar saja supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi,” kata Purbaya.

Mengenai durasi pelaksanaan intervensi harian tersebut, Purbaya menekankan bahwa pemerintah akan terus memantau dinamika dan kebutuhan riil di pasar finansial. ”Kita lihat seberapa jauh kita butuhkan masuk ke sana. Kan, saya punya Rp 420 triliun cash yang saya bisa putar di sana, bisa juga saya putar uang cash saya ke sana. Jadi, cukup bisa berkesinambungan kita lakukan,” ujar Purbaya.

Galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (18/5/2026). Pada penutupan perdagangan BEI, IHSG ditutup melemah 124,08 poin atau 1,85 persen ke posisi 6.599,24. Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.570.311 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 31,99 miliar lembar saham senilai Rp20,71 triliun. Sebanyak 125 saham naik, 616 saham menurun, dan 79 tidak bergerak nilainya.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Secara teknis, langkah intervensi harian sebesar Rp 2 triliun tersebut bertujuan memicu hukum permintaan di pasar surat utang. Kehadiran pemerintah sebagai pembeli siaga diharapkan dapat menahan harga obligasi domestik agar tetap berada di level yang aman. Melalui mekanisme ini, pasar keuangan diharapkan mendapatkan kepastian di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dalam pasar keuangan, pergerakan harga obligasi selalu berbanding terbalik dengan tingkat imbal hasil (yield). Jika intervensi berhasil menjaga harga obligasi tetap stabil atau naik, tingkat yield otomatis melandai dan menciptakan potensi keuntungan dari selisih harga (capital gain). Situasi tersebut diharapkan dapat menahan investor asing agar tidak melakukan aksi jual massal (panic selling) yang kerap menekan nilai tukar rupiah.

Purbaya menjelaskan bahwa stabilitas harga obligasi menjadi kunci utama untuk menahan pergerakan dana investor asing agar tidak keluar dari Indonesia. Sentimen positif di pasar obligasi dinilai akan langsung berdampak pada penguatan mata uang domestik.

”Biasanya kalau sentimen positif di situ, asing juga ikut masuk dan rupiah cenderung terkendali karena uangnya tidak keluar lagi. Yang asing tidak jual bond dan kabur keluar karena harganya stabil,” tutur Purbaya.

Pedagang kaki lima valuta asing menunggu calon pembeli di tepi Jalan Kwitang Raya, Senen, Jakarta, Jumat (3/4/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah dan berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate pada Rabu (1/4/2026) telah menembus angka psikologis, yaitu Rp 17 ribu.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
03-04-2026

Di sisi lain, lanjut Purbaya, pemerintah menepis anggapan bahwa intervensi ini dipicu oleh pelemahan indikator ekonomi nasional. Ia menjamin fundamental makroekonomi dan realisasi anggaran negara saat ini berada dalam posisi yang sehat dan kokoh.

Gejolak yang terjadi di pasar keuangan beberapa waktu terakhir dinilai lebih banyak dipengaruhi oleh faktor persepsi dan dinamika global. Oleh karena itu, tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah memperkuat pola komunikasi dan edukasi kepada pelaku pasar.

”Tidak ada masalah, fondasi ekonomi benar-benar bagus. Tinggal nanti sosialisasi-sosialisasi lebih bagus ke pasar, ke investor seperti apa, begitu saja,” ujar Purbaya.

Kendati demikian, Purbaya masih enggan membeberkan secara rinci mekanisme teknis dari intervensi tersebut, termasuk kemungkinan dilakukannya pembelian kembali (buyback) surat utang di pasar sekunder. Detail strategi stabilitas ekonomi nasional ini, menurut rencana, akan disampaikan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat di hadapan DPR.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo enggan memaparkan strategi moneter lebih lanjut dan hanya memberikan jawaban singkat terkait nasib rupiah ke depan. ”Yakin stabil,” ujar Perry.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase