KECELAKAAN KAPAL

Pemilik KMP Virgo Didesak Segera Angkat Bangkai Kapal

Pemilik KMP Virgo Transport 8 didesak segera mengangkat badan kapal yang terbalik di Laut Jawa. Hal itu untuk memudahkan pencarian korban yang masih hilang.

29 Sep 2026 11:56 WIB · Nasional

KANTOR SAR BANJARMASIN

Oleh Defri Werdiono

Jumlah korban yang ditemukan dalam peristiwa tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa terus bertambah. Hingga operasi pencarian hari ke-16, Senin (28/9/2026), sudah 179 korban ditemukan. Mereka terdiri atas 108 orang selamat dan 71 meninggal. Adapun korban yang masih dalam pencarian sebanyak 64 orang.

Dari 71 korban yang meninggal, sebagian besar ditemukan dari dalam badan kapal oleh tim penyelam gabungan Basarnas Spesial Group dan TNI Angkatan Laut. Sebagian lainnya ditemukan terdampar di wilayah perairan di Kalimantan Tengah. Semua korban meninggal dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk proses identifikasi.

Di tengah proses pencarian dan evakuasi bawah air yang terus dilakukan hingga Selasa (29/9/2026) ini, satu hal yang menjadi tanda tanya ialah kapan badan kapal yang terbalik itu diangkat dan dibalik (salvage). Rencana salvage telah mengemuka sejak hari-hari pertama pencarian korban pada pertengahan September lalu. Namun, hingga kini, rencana itu belum menunjukkan kepastian.

Tim mengangkat korban selamat penumpang KMP Virgo Transport 8 dari Rigit Inflatable Boat (RBB) Pangkapan TNI AL (Lanal) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ke dermaga Trisakti, setelah mereka dievakuasi dari KRI Nala, Selasa (15/9/2026)

Sejak upaya pencarian korban mulai dilakukan, keluarga korban yang menunggu di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, telah bersuara. Mereka berharap agar badan kapal segera diangkat. Keluarga dan kerabat meyakini masih banyak korban terjebak di dalam badan kapal naas itu.

Saat itu, belum ada satu pun korban yang dievakuasi dari bangkai KMP Virgo Transport 8, kecuali enam korban meninggal yang ditemukan lebih dulu bersama 108 korban selamat. Dugaan pihak keluarga itu kemudian terbukti dengan ditemukannya satu per satu korban dari badan kapal yang jumlahnya terus bertambah.

Badan SAR Nasional (Basarnas) juga kerap menyinggung soal pengangkatan badan kapal. Hal yang sama disuarakan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan lainnya.

Kepala Kantor SAR Banjarmasin I Putu Sudayana mengatakan, pihaknya telah berulang kali mendorong agar perusahaan pemilik kapal dan perusahaan asuransi segera melakukan upaya salvage. Dengan pengangkatan kapal, upaya pencarian korban kemungkinan bisa lebih mudah dilakukan dibanding melalui penyelaman.

Sudayana menyatakan, penyelaman dengan memasuki badan kapal dalam kondisi terbalik di kedalaman 27 meter juga berisiko. Dia menyebutkan, ada beberapa kendala bagi penyelam saat memasuki kompartemen kapal yang terbalik, mulai dari potensi kemiringan kapal, struktur tidak stabil di dalam kapal, hingga jarak pandang yang rendah.

Evakuasi korban dari dalam badan KMP Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, Senin (28/9/2026).

Selain itu, di dalam kapal juga terdapat banyak barang yang bisa melukai atau menggores penyelam. Rembesan minyak karena ada puluhan kendaraan yang posisinya tidak beraturan di dalam kapal juga berpotensi menjadi ancaman bagi penyelam. Selain itu, masalah densitas gas yang hampir mendekati batas aman juga menjadi kendala.

”Oleh karena itu, Basarnas mendorong pihak perusahaan pemilik kapal dan asuransi untuk segera mengangkat dan membalik badan kapal. Upaya salvage jangan menunggu kegiatan pencarian dan pertolongan oleh SAR gabungan selesai,” kata Sudayana, Minggu (27/9/2026).

Kepala KSOP Kelas 1 Banjarmasin Heri Purwanto juga angkat bicara. Dalam konferensi pers secara hibrid di Pelabuhan Trisakti, Senin (28/9/2026) malam, Heri mengatakan, pihaknya bersama Basarnas terus mendorong pemilik kapal segera melaksanakan pengangkatan.

Menurut Heri, Kementerian Perhubungan sudah menyampaikan teguran keras kepada pihak asuransi. KSOP juga telah memberikan teguran kedua kepada pemilik kapal untuk segera melaksanakan salvage.

Berdasarkan informasi terakhir, kata Heri, pihak perusahaan asuransi tengah menunjuk mitra pelaksana salvage. Ada dua kandidat mitra dari luar negeri, yakni dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Sementara itu, pihak pemilik kapal mendorong agar pelaksana salvage berasal dari dalam negeri guna mempercepat pelaksanaan.

Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban dari badan KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa, Kamis (24/9/2026). Jenazah para korban kemudian dibawa ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk diidentifikasi.

Akan tetapi, Heri menyebutkan, perusahaan asuransi sepertinya lebih condong menunjuk mitra dari luar karena pertimbangan peralatan. Peralatan mitra dari AS dan Inggris itu berada di Singapura. Alat yang dimaksud berupa crane 3.000 ton dan 5.000 ton. Namun, dalam pelaksanaan salvage, tetap ada partner lokal yang dilibatkan.

”Partner lokalnya kalau enggak salah dari PT Jasalindo. Kebetulan Jasalindo dari awal sudah mengawal kegiatan ini dan sudah memberikan data kondisi foto kapal pertama kali melalui ROV-nya (remotely operated vehicle). Jadi kemungkinan partner lokalnya akan ditunjuk Jasalindo,” ucap Heri.

Jika mitra pelaksana salvage telah ditunjuk, mitra lokal akan masuk lebih dulu ke lokasi kapal. Mereka akan melakukan mitigasi kondisi kapal sambil menunggu perlengkapan tiba. Heri menyebutkan, dalam waktu tidak lebih dari satu minggu, seluruh perlengkapan salvage sudah siap. Hal ini sebagaimana dijanjikan pemilik kapal kepada Kementerian Perhubungan.

Sebelumnya, Simson F Rigi, juru bicara PT Virgo Karya Shipping, selaku pemilik kapal, mengatakan, pihaknya harus berkoordinasi dengan Basarnas selaku pihak yang berwenang terkait masalah pengangkatan kapal. ”Kami tidak bisa jalan sendiri. Kami terus berkoordinasi dengan Basarnas dan pihak yang memiliki kewenangan,” ujarnya.

Kapal Motor Penumpang Virgo Transport 8 saat berlayar di rute Surabaya-Banjarmasi.

Terkait teknik mengangkat badan kapal dari dalam perairan, dosen Teknik Perkapalan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), Wasis Dwi Aryawan, saat wawancara dengan Kompas TV, beberapa hari lalu, menyebutkan, pengangkatan badan kapal bisa dilakukan melalui dua cara.

Cara pertama adalah menggunakan balon yang diisi udara. Balon yang diisi udara ini memiliki buoyancy (gaya apung) sehingga bisa mengangkat badan kapal ke permukaan. Setelah itu, baru posisi kapal dibalik. Cara ini dinilai paling efisien.

Adapun cara kedua menggunakan crane. Karena bobot kapal sangat berat, diperlukan biaya besar bila menggunakan cara kedua itu. ”Berat kapal bisa mencapai 7.000 ton sehingga dibutuhkan floating crane yang ukurannya juga besar,” kata Wasis.

Quote

Basarnas mendorong pihak perusahaan pemilik kapal dan asuransi untuk segera mengangkat dan membalik badan kapal.

Namun, sebelum proses pembalikan dilakukan, posisi kapal harus dibuat stabil dulu. Jika kondisi kapal masih bergerak dinamis, hal itu akan membahayakan penyelam. Setelah posisi kapal stabil, kapal bisa ditarik ke perairan yang lebih dangkal sehingga memudahkan untuk evakuasi korban dari dalam badan kapal.

”Jika kapal masih bisa bergerak dinamis, yang mana kendaraan di dalam kapal jumlahnya cukup banyak. Tangki-tangki kompartemen di kapal kemungkinan belum terisi penuh, masih ada proses air masuk. Sehingga membuat kapal bisa bergerak jika belum stabil dan membahayakan penyelam,” katanya.

Wasis pun menyebutkan, ada sejumlah kendala yang berpotensi dihadapi oleh tim salvage. Namun, kendala-kendala itu bisa diantisipasi. Apalagi, pemilik kapal memang memiliki kewajiban untuk mengangkat bangkai kapal dari lokasi agar tidak menganggu keselamatan pelayaran.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase