Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 16-18 Maret 2026. Pemudik diimbau memastikan kendaraan dan fisik dalam kondisi prima.
09 Mar 2026 17:43 WIB · Metropolitan
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
JAKARTA, KOMPAS — Warga Jakarta yang hendak mudik ke kampung halaman diimbau untuk mewaspadai puncak arus dan anomali cuaca. Perencanaan sebelum mudik dinilai sangat diperlukan terutama bagi pengguna kendaraan roda dua.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Komarudin, Senin (9/3/2026), menyatakan, guna melancarkan arus mudik dan arus balik di Jakarta, Polda Metro Jaya menggelar Operasi Ketupat Jaya yang akan digelar selama 13-25 Maret 2026.
Menurut dia, setidaknya ada 6.800 personel dikerahkan dalam operasi ini. Selain dari TNI/Polri, personel dari sejumlah instansi terkait akan disebar di sejumlah pos pelayanan.
Sebanyak 101 pos pelayanan akan didirikan, terdiri dari pos pengamanan, pos pelayanan, pos terpadu, dan pos pantau. Pos-pos tersebut akan didirikan di ruas-ruas jalan yang diprediksi akan mengalami lonjakan pemudik. ”Puncak arus mudik (diperkirakan) akan terjadi pada 16-18 Maret 2026,” ujarnya.
Mengacu data Kementerian Perhubungan, lanjut Komarudin, Jakarta menduduki urutan kedua sebagai daerah asal pemudik terbanyak. Arus mudik diperkirakan terbagi jadi tiga jurusan, yakni ke barat menuju Sumatera, ke selatan menuju Bogor dan seterusnya, dan ke timur menuju Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan seterusnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/cee3c11aa0da46b91e10baaec48ccf4e-FAK_7247.jpg)
Pihaknya mengimbau pengendara untuk memastikan kondisi kendaraan dan fisik prima. Khusus untuk pengendara sepeda motor, ia mengimbau untuk memperhatikan jumlah barang bawaan dan keluarga yang diangkut. ”Jangan sampai overload (melebihi kapasitas), sesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” tegasnya.
Ia menganjurkan agar pemudik memanfaatkan kegiatan mudik gratis, termasuk dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang berencana mengangkut kendaraan roda dua. ”Jadi mungkin perjalanan bisa lebih nyaman dan aman. Pemudik pun bisa sampai tujuan dalam kondisi segar dibandingkan memaksakan perjalanan dengan jarak tempuh yang lumayan jauh dengan sepeda motor,” ujarnya.
Nantinya kendaraan yang melebihi kapasitas akan diimbau mengatur kembali barang bawaannya. ”Jangan sampai barang bawaan justru mengganggu keselamatan atau mengancam keselamatan pengguna jalan lain,” ujarnya.
Selain itu, pemudik bisa memanfaatkan pos-pos yang ada untuk beristirahat atau memeriksa kembali kondisi kendaraannya. ”Faktor keselamatan itu harus menjadi hal yang paling utama,” ujarnya.
Komarudin mengingatkan ada risiko anomali cuaca. Dalam beberapa hari terakhir, cuaca ekstrem, seperti angin kencang dan hujan berintensitas sedang hingga tinggi, melanda wilayah Jabodetabek.
”Kami juga telah memetakan titik-titik potensi genangan air sampai banjir. Pemetaan ini sangat diperlukan untuk mengantisipasi gangguan lalu lintas dan mempersiapkan rekayasa lalu lintas pada jalur yang tidak bisa dilalui karena terendam banjir,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya menganjurkan pemudik merencanakan perjalanan jauh hari. ”Kalau bisa jangan bersamaan dengan puncak arus mudik,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/04/13/9fd8aa06ab5c30915db65701bac6a7ae-b7130af5-195a-43be-ad00-1301e7057d54_jpg_(1).jpg)
Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch Edison Siahaan mengatakan, baik kendaraan maupun pengendara harus dalam kondisi prima untuk melaksanakan perjalanan jauh. ”Kalau hal ini tidak dipatuhi bisa memicu kecelakaan di jalan,” ujarnya.
Dalam banyak kasus, kecelakaan justru terjadi akibat kondisi pengemudi dan kendaraan yang tidak prima, seperti mengantuk atau rem blong. ”Ini tentu harus diperhatikan, terutama bagi pengendara yang akan menempuh perjalanan jauh,” ujar Edison.
Di sisi lain, petugas harus bersikap tegas jika ada pelanggaran. ”Jangan hanya sekadar imbauan atau teguran, tetapi harus ada tindakan nyata agar tidak terjadi kecelakaan,” ungkapnya.
Selain pengamanan arus mudik, Polda Metro Jaya membuka pelayanan penitipan kendaraan selama ditinggal mudik. ”Penitipan itu bisa di polsek mana pun di Polda Metro Jaya tanpa dipungut biaya,” ujarnya.
Warga juga diimbau memastikan kondisi rumah aman untuk ditinggal mudik. ”Jangan sampai arus listrik masih menyala, termasuk tabung elpiji yang masih tersambung, saat ditinggal mudik,” katanya.
Aparat terkait diimbau menggelar patroli skala kecil hingga besar di permukiman masyarakat untuk mencegah kejahatan. ”Upaya ini dijalankan untuk memberikan rasa aman, nyaman, dan tertib kepada seluruh warga,” ujarnya.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan