Pemukim Yahudi Terus Serang Desa Kristen Palestina

Umat Islam, Katolik, dan Kristen di Palestina sama-sama jadi sasaran serangan tentara dan warga Israel.  Pemukim liar mau mengusir selain yang bukan Yahudi.

28 Jul 2025 18:00 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

RAMALLAH, SENIN — Pemukim liar Yahudi Israel kembali menyerang komunitas Kristen Palestina. Setelah gerejanya, kini rumah dan aneka harta warga komunitas Kristen dirusak.

Pada Senin (28/7/2025), Otoritas Palestina melaporkan sekelompok pemukim ilegal Israel di Tepi Barat menyerang Desa Taybeh. Desa ini merupakan salah satu komunitas Kristen di Palestina.

Para pemukim yang ekstrem ini melakukan sejumlah aksi vandalisme. Mereka membakar dua kendaraan warga dan menulis ujaran kebencian dengan cat semprot di rumah-rumah warga. Menurut warga, kejadian berlangsung pada Senin pukul 02.00 dini hari.

Di awal tahun 2025, para pemukim ilegal ini telah menyerang Desa Al-Mughayyir, salah satu desa Kristen di Tepi Barat. ”Ini adalah aksi terorisme oleh pemukim ilegal,” cuit Otoritas Palestina di Tepi Barat.

Quote

Pemukim ini mengaku Tuhan memberi mereka tanah ini. Akan tetapi, mereka sebenarnya tidak lebih dari penjahat.

Para pemukim ilegal adalah warga Israel yang menduduki wilayah Tepi Barat. Mereka melakukannya di dalam misi ekspansi untuk memperluas daerah kekuasaan Israel. Tindakan mereka didukung oleh partai politik dan organisasi ultranasionalis Israel.

Pada serangan ke Taybeh ini, kecaman turut dikeluarkan oleh Duta Besar Jerman untuk Israel Steffen Seibert. ”Para pemukim ini mengaku Tuhan memberi mereka tanah ini. Akan tetapi, mereka sebenarnya tidak lebih dari penjahat yang dilaknat oleh semua agama,” cuitnya di X.

A man inspects a vehicle that was reportedly torched by Israeli settlers during an overnight attack on the Palestinian Christian village of Taybeh, northeast of Ramallah in the occupied West Bank, on July 28, 2025. (Photo by Zain JAAFAR / AFP)

Taybeh dihuni oleh 1.300 warga yang beragama Kristen. Mayoritas warganya memiliki kewarganegaraan ganda, yakni Palestina dan Amerika Serikat. Bulan lalu, gereja Ortodoks Timur di dekat Taybeh juga diserang oleh kelompok pemukim ilegal.

Pekan lalu, surat kabar Times of Israel mencatat setidaknya ada serangan oleh para pemukim ke tiga desa di Tepi Barat. Ketiga desa itu berpenduduk mayoritas Muslim.

Otoritas Palestina mengatakan, 950 warga Palestina Tepi Barat tewas diserang pemukim Israel sejak 7 Oktober 2023. Oleh militer Israel, mereka dikatakan sebagai anggota kelompok kriminal. Mereka ditembak mati dengan dalih menyerang tentara Israel

Pada saat yang sama, selain keberadaan militer Israel, para pemukim ilegal ini juga membawa masalah. Mereka kerap menyerang warga Tepi Barat

Kecaman lain

Bahkan, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee sampai-sampai mengimbau agar para pemukim berhenti menyerang gereja, masjid, dan rumah-rumah ibadah lainnya. Padahal, Huckabee adalah pendukung setia Presiden AS Donald Trump dan gerakan zionis.

Politisi yang juga penceramah pada gereja baptis itu mendatangi Desa Taybeh, Sabtu (19/7/2025). Huckabee mendatangi Gereja St George atau Kanisah Al Khidr.

Pada 7 Juli 2025, gereja berusia 1.500 tahun itu dirusak sejumlah pemukim liar Yahudi di Tepi Barat. ”Saya mengunjungi para korban yang sejatinya mereka hanya ingin hidup damai di tanah kelahiran mereka,” kata Huckabee.

TOPSHOT - US ambassador to Israel Mike Huckabee (C) and the Palestinian mayor of the village of Taybeh, Suleiman Khourieh (L), tour the fifth-century Church of St George in the Palestinian Christian village of Taybeh, northeast of Ramallah in the occupied West Bank, on July 19, 2025. In the villages and communities around Taybeh, Palestinian authorities have reported that settlers had killed three people and damaged or destroyed multiple water sources in the past two weeks alone. The July 7 arson attack on the remains of the Church of Saint George, which date back to the 5th century, was the last straw for many villagers, who blame Israeli settlers for a spate of recent attacks. (Photo by JAAFAR ASHTIYEH / AFP)

Ia datang dua hari setelah Israel merusak satu-satunya gereja Katolik di Gaza, Gereja Keluarga Kudus. Patriark Latin Katolik Roma Jerusalem Pierbattista Pizzaballa dan Pemimpin Gereja Kristen Ortodoks Yunani Theophilos III mengunjungi Jalur Gaza dan Gereja Keluarga Kudus pada Jumat.

Serangan ke Gereja Keluarga Kudus dilakukan militer Israel, Tzahal. Sementara perusakan terhadap Gereja St George dilakukan oleh pemukim liar Yahudi. Bagi warga ekstremis zionis Yahudi, kekristenan dianggap sebagai penyembahan berhala sehingga dianggap musuh Yudaisme.

”Entah itu masjid, gereja, atau sinagoga, tidak boleh dirusak. Ini tindakan yang tak dapat diterima dengan merusak tempat ibadah yang seharusnya diperlakukan dengan mulia,” kata Huckabee.

Gereja Keluarga Kudus ditembak tank Israel. Militer Israel mengaku khilaf dan tak sengaja. Akibatnya, tiga orang tewas dan seorang pastor terluka. Gereja itu selain tempat umat Katolik Gaza berlindung, juga mengayomi para pengungsi beragama Islam, Protestan, dan Ortodoks.

Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma Paus Leo XIV mendesak agar segera dilakukan gencatan senjata dan perundingan damai. Melansir kantor berita EFE, Senin (28/7/2025), Vatikan kini mengambil langkah lebih tegas.

Vatikan mengumumkan mereka mendukung Solusi Dua Negara. Sebelumnya, Presiden Perancis Emmanuel Macron yang mengumumkannya. Bahkan, Perancis di dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa September 2025 ini akan secara resmi mengakui Palestina sebagai negara.

This picture taken on July 23, 2025 shows the the Israeli settlement of Maale Adumim in the occupied West Bank on the outskirts of Jerusalem. (Photo by AHMAD GHARABLI / AFP)

Serangan terhadap gereja itu juga berdampak kepada menyurutnya dukungan terhadap Israel dari kalangan konservatif di AS, baik Kristen maupun Yahudi. Sebelumnya, komunitas Yahudi progresif justru menentang serangan Israel ke Gaza dan menyerukan perundingan sebagai jalan keluar penyelesaian konflik dan pemulangan para sandera yang diculik oleh Hamas.

Rachel Nelson, analis isu Timur Tengah di New Lines Institute for Strategy and Policy di AS, mengatakan, komunitas Yahudi AS mulai lebih berhati-hati dalam menyumbangkan uang mereka. ”Banyak yang tidak mau menyumbang ke berbagai yayasan Yahudi, yang mengatakan mengembangkan kebudayaan di Israel. Komunitas Yahudi di sini akhirnya mengetahui bahwa uang itu dipakai untuk memodali para pemukim ilegal di Tepi Barat,” tulisnya di majalah Jacobin.

Hal ini sesuai dengan liputan Haaretz pada 2017. Surat kabar acuan Israel yang beraliran kiri itu menelusuri aliran dana dari komunitas Yahudi AS ke Israel. Mayoritas dana itu berasal dari uang pembebasan pajak di AS.

Haaretz menemukan, dana dipakai untuk membiayai para pemukim ilegal di Tepi Barat, termasuk mendukung aksi kekerasan mereka terhadap warga Palestina. Padahal, AS memiliki undang-undang bahwa semua dana dari mereka tidak boleh dipakai untuk perbuatan yang melanggar hak asasi manusia. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto