Hampir setiap hari pemukim Yahudi di Tepi Barat melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. Kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi sudah mendekati anarki.
17 Nov 2025 19:30 WIB · Internasional
AFP
JERUSALEM, SENIN - Kekerasan pemukim Yahudi terhadap masyarakat Badui al-Tabna yang tinggal di dekat Khan al-Ahmar, Tepi Barat, meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Selain melempari rumah dan properti milik warga Badui al-Tabna dengan batu, mereka juga meneror anak-anak dan perempuan.
Bahkan, dalam insiden terakhir, Senin (17/11/2025) dini hari, mereka sengaja memicu kegaduhan dengan pengeras suara. Mereka berkeliling ke dekat rumah-rumah warga Badui al-Tabna naik mobil-mobil off-road pada malam hari.
Kantor berita Otoritas Nasional Palestina, WAFA, menyebut kekerasan pemukim Yahudi dilakukan untuk mengusir warga Badui al-Tabna. Media Israel, The Jerusalem Post, berkali-kali melaporkan bahwa hampir setiap hari ada saja pemukim Yahudi yang menyerang warga Palestina di Tepi Barat.
Pekan lalu, ada sekitar 100 anak muda yang menyerang di Desa Beit Lid lalu membakar mobil dan truk serta satu pabrik dan lahan pertanian. Akibatnya, empat warga Palestina terluka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/17/7373fc59771c9258232e45f916d846c3-Israel_Palestinians.jpg)
Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, saat ini terdapat sekitar 700.000 pemukim Israel tinggal di antara 3,4 juta warga Palestina di Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Militer Israel mencatat terjadi 85 kali kekerasan selama enam bulan terakhir. Pada tahun lalu, terjadi 25 kali kekerasan.
Sejak panen zaitun dimulai pada 19 Oktober 2025, terjadi 50 insiden kekerasan yang melukai 86 warga Palestina. Sekitar sepertiga kasus terjadi di wilayah Nablus, Ramallah, dan Hebron.
Kepala Komando Pusat Militer Israel Avi Bluth tidak menyangkal, hanya enam dari penyerang yang ditahan tak sampai sehari. Hanya satu yang ditahan lebih dari sehari. Militer Israel menyebut mereka sebagai kelompok ”anarkis” dan ekstremis.
Tajuk rencana The Jerusalem Post, Senin, menyebutkan, kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi sudah mendekati anarki. Pemerintah Israel tampaknya tidak mampu atau tidak mau berbuat apa pun.
Mayoritas warga Yahudi di Tepi Barat membenarkan kekerasan terhadap warga Palestina. Di sisi lain, banyak juga yang terang-terangan mengecam.
Militer Israel memperkirakan ada sekitar 200 anak muda ekstremis saat ini yang aktif di Tepi Barat. Mereka tidak tinggal di Tepi Barat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/17/8c3e996f2757fc14b9da166085b1d2b7-wires_photo_86.jpg)
Ketua Dewan Daerah Samaria Yossi Dagan, Ketua Dewan Kedumim Uziel Watik, dan Ketua Dewan Karnei Shomron Yonatan Kuznitz mengecam kekerasan pemukim Yahudi. Mereka mendesak kepolisian dan militer Israel menindak mereka dengan tegas.
Menurut para pejabat senior, militer Israel semakin khawatir dengan meningkatnya kekerasan pemukim Yahudi. Ulah mereka mengganggu stabilitas wilayah dan mengganggu operasi militer melawan kelompok teror Palestina.
Kepala Staf Militer Israel (IDF) Eyal Zamir juga mengecam keras kekerasan terhadap warga Palestina. ”IDF tidak akan menoleransi perilaku minoritas kriminal yang menodai masyarakat yang taat hukum. Ini bertentangan dengan nilai-nilai kami. Akan kami tindak tegas,” ujarnya.
Namun, Israel mengaku tidak punya perangkat hukum yang dibutuhkan untuk menindak tegas para pelaku kekerasan. Ini terjadi sejak keputusan Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz keluar untuk menghentikan penggunaan penahanan administratif dalam kasus-kasus semacam itu, Januari lalu.
The Jerusalem Post diberi tahu, mayoritas pejabat di militer Israel dan Badan Keamanan Israel (Shin Bet) percaya bahwa penahanan terhadap warga Yahudi-Israel yang melakukan kekerasan harus dipulihkan. Mereka selalu menentang penangguhan tindakan tersebut. Ini membuat mereka berselisih dengan Katz dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
Katz maupun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum mengeluarkan kecaman apa pun. Padahal, para perwira IDF, para pemimpin permukiman, dan pemimpin oposisi mengkritik peningkatan kekerasan terhadap warga Palestina.
Apalagi, situasi yang semakin bergejolak di Tepi Barat dapat berdampak serius pada gencatan senjata Gaza dan rencana rekonstruksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Diamnya Netanyahu dan Katz di depan publik serta dorongan dari Ben-Gvir menunjukkan Pemerintah Israel adalah bagian dari masalah, bukan solusi. (REUTERS)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul