Piala Dunia 2026

Inggris Menjauhkan Kutukan Setelah 1966

Inggris adalah rumah bagi sepak bola modern, tetapi Piala Dunia masih menjadi kenangan yang belum terulang sejak 1966.

18 Jun 2026 13:59 WIB · Olahraga

AFP/PAUL ELLIS

Oleh Raditya Mahendra Yasa

Berbicara soal Inggris hampir selalu membawa kita pada satu hal yaitu sepak bola. Negeri ini adalah rumah bagi liga yang dianggap paling kompetitif sekaligus paling berpengaruh di dunia. Penggemarnya tersebar di berbagai benua. Pertandingan-pertandingannya ditonton miliaran pasang mata dan klub-klubnya menjadi tujuan impian banyak pemain terbaik dunia. Namun, kemegahan itu tidak selalu berbanding lurus dengan prestasi tim nasionalnya.

Premier League atau Liga Inggris telah menjelma menjadi mesin industri olahraga modern. Menurut laporan Annual Review of Football Finance 2025 yang dirilis Deloitte, klub-klub Premier League membukukan pendapatan gabungan sebesar 6,3 miliar pound sterling pada musim 2023/2024. 

California WCup Soccer Reaction
FBL-WC-2026-MATCH22-ENG-CRO

Angka tersebut menjadikan Premier League sebagai kompetisi sepak bola dengan nilai ekonomi terbesar di dunia. Bagi banyak negara, sepak bola adalah olahraga. Bagi Inggris, sepak bola telah menjadi industri global bernilai sangat besar yang menjangkau hampir seluruh penjuru dunia.

Dominasi itu juga terlihat di lapangan. Klub-klub Inggris rutin mewarnai kompetisi elite Eropa. Klub-klub besar seperti Manchester City, Liverpool, Arsenal, Chelsea, hingga Manchester United terus menjadi bagian penting dari percakapan sepak bola dunia 

BRITAIN-FBL-WC-2026-FANS

Sementara itu, bagi pemain bola, bermain di Inggris merupakan salah satu puncak karier. Namun, kejayaan tersebut seolah menguap ketika para pemain terbaik itu berkumpul di bawah satu bendera. Inggris sering kali tampak kehilangan daya ketika mengenakan seragam tim nasional.

Sejak menjuarai Piala Dunia 1966, Inggris belum pernah lagi mengangkat trofi paling bergengsi Julis Rimet. Mereka beberapa kali mendekati puncak, tetapi selalu gagal pada saat-saat yang menentukan. Generasi emas yang dihuni David Beckham, Steven Gerrard, Frank Lampard, hingga Wayne Rooney pun tidak mampu mengakhiri penantian panjang tersebut.

<p>Harry Kane saat selebrasi. (AFP/Paul Ellis)</p><p>Selebrasi suporter dan pemain Inggris. (AFP/Aric Backer)</p><p>Selebrasi Jude Bellingham. (AFP/Paul Ellis)</p>

Harry Kane saat selebrasi. (AFP/Paul Ellis)

Selebrasi suporter dan pemain Inggris. (AFP/Aric Backer)

Selebrasi Jude Bellingham. (AFP/Paul Ellis)

Generasi berikutnya menghadirkan harapan baru. Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, hingga Phil Foden membawa Inggris mencapai final Piala Eropa 2020 dan 2024. Namun, dua kesempatan tersebut kembali berakhir dengan kekecewaan. Datang sebagai unggulan, tetapi pulang tanpa trofi.

Harapan itu kembali muncul ketika Inggris membuka perjalanan mereka dengan kemenangan atas Kroasia. Hasil tersebut memperlihatkan kualitas skuad yang dimiliki The Three Lions masih berada di level tertinggi. Permainan yang lebih terorganisasi, kedalaman pemain yang merata, serta pengalaman tampil di berbagai turnamen besar membuat Inggris kembali masuk dalam daftar kandidat kuat. 

<p>Mencetak gol ke gawang Kroasia. (AFP/Paul Ellis)</p><p>Dukungan antarpemain. (AP Photo/Julio Cortez)</p><p>Suporter fanatik Inggris. (AFP/Aric Becker)</p>

Mencetak gol ke gawang Kroasia. (AFP/Paul Ellis)

Dukungan antarpemain. (AP Photo/Julio Cortez)

Suporter fanatik Inggris. (AFP/Aric Becker)

Kini, di bawah asuhan Thomas Tuchel, Inggris kembali datang dengan materi pemain yang mengesankan. Sosok seperti Jude Bellingham dan Harry Kane menjadi tumpuan utama. Secara kualitas, Inggris tidak kekurangan apa pun untuk bersaing di level tertinggi. Tradisi tanpa gelar ini bahkan mulai terasa seperti kutukan.

Di situlah letak paradoks Inggris. Mereka memiliki liga paling kaya, paling populer, dan paling berpengaruh di dunia. Klub-klubnya menjadi wajah utama industri sepak bola modern. Akan tetapi, ketika berbicara tentang Piala Dunia, Inggris masih hidup dari kenangan musim panas 1966. Seolah ada jarak yang sulit dijembatani antara kejayaan industri sepak bola dan kejayaan tim nasional.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Mahendra Yasa
 | 

Editor:

Heru Sri Kumoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase