Seorang pencari kerja menggambarkan seperti apa kekacauan yang terjadi saat acara Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
28 Mei 2025 17:33 WIB · Metro
Kericuhan yang mewarnai Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo pada Selasa (27/5/2025) menjadi cermin kerasnya persaingan mencari pekerjaan di tengah tingginya angka pengangguran. Insiden ini menjadi peringatan bagi penyelenggara dan pemerintah daerah agar lebih matang dalam menyiapkan dan mengelola acara, dengan prioritas utama menjaga keselamatan dan kenyamanan para peserta.
Pada Selasa (27/5/2025), sekitar 25.000 pencari kerja memadati Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo yang digelar Pemerintah Kabupaten Bekasi di Gedung Presiden University Convention Center di Cikarang Utara, Bekasi, dengan harapan mendapatkan pekerjaan. Salah satu di antaranya Insani Paramitha (23), warga Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
Insani menceritakan bagaimana antrean para pencari kerja untuk dapat memperebutkan lowongan kerja di job fair tersebut tersebut tiba-tiba berubah menjadi kekacauan ketika kericuhan meletus di tengah acara.
”Awalnya hanya karena berebut QR (quick response) code. Tetapi karena panitia kurang mengatur, jadi makin kacau,” ujarnya, Rabu (28/5/2025).
Ia menceritakan, kericuhan berawal ketika seorang panitia hendak menempelkan pamflet berisi foto QR code (kode batang ) yang berfungsi sebagai pintu masuk digital bagi peserta untuk mengakses daftar perusahaan dan posisi yang tersedia.
Namun, seorang pencari kerja merebut pamflet tersebut sebelum sempat ditempel, memicu reaksi spontan dari peserta lain yang berebut mendekat.
”Kondisinya benar-benar tidak terkendali, semua saling dorong dan berebut. Rasanya seperti berjuang untuk bertahan hidup, bukan hanya mencari pekerjaan.”
Benturan fisik hingga adu mulut tak terhindarkan. Dalam kerumunan yang padat, beberapa peserta bahkan ada yang pingsan akibat desakan dan kesulitan bernapas. Tim medis yang berjaga berupaya memberikan pertolongan pertama, sementara aparat keamanan berusaha meredam situasi agar tidak semakin buruk.
”Kondisinya benar-benar tidak terkendali, semua saling dorong dan berebut. Rasanya seperti berjuang untuk bertahan hidup, bukan hanya mencari pekerjaan,” kata Insani.
Akibat kericuhan tersebut, Insani bahkan tidak sempat memfoto QR code penting itu. Ia mengaku trauma. Kekacauan di bursa kerja membuatnya hampir tersandung dan terjatuh karena orang-orang saling dorong. ”Bukannya dapat kerjaan, malah dapat trauma,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/28/3fac133e7eaca99052b783d8bb065e12-cropped_image.jpg)
Menurut Insani, peserta yang datang tidak hanya berasal dari Kabupaten Bekasi. Ia menilai perencanaan acara yang kurang matang dan sistem informasi yang kurang memadai menjadi penyebab utama kekacauan. Penggunaan QR code sebagai satu-satunya media akses tanpa disertai distribusi daring yang efektif memaksa peserta berebut secara fisik.
Insani berharap kejadian kericuhan ini menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara dan pemerintah daerah agar ke depannya acara serupa dapat disiapkan dengan lebih baik. Ia menekankan bahwa keselamatan dan kenyamanan peserta harus menjadi prioritas utama sehingga tujuan menekan angka pengangguran bisa tercapai tanpa menimbulkan risiko baru.
”Saya tetap berharap ada kesempatan berikutnya dengan pengelolaan yang lebih baik agar saya dan ribuan pencari kerja lainnya bisa mendapatkan akses yang adil dan nyaman. Terlebih, bursa kerja kemarin hanya digelar satu hari saja,” kata Insani.
Saat ini, Insani sangat membutuhkan pekerjaan karena selama dua bulan terakhir tidak memiliki pemasukan. Setelah lulus dari jurusan administrasi, ia menghadapi kenyataan sulit yang sering dialami banyak fresh graduate di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/07/81afc98e-9b09-4f06-add7-62316d3e4332_jpg.jpg)
Meski telah menyelesaikan studinya dengan baik, Insani hanya mendapat satu kesempatan kerja kontrak yang sayangnya tidak diperpanjang setelah masa kontraknya habis.
”Setelah lulus kuliah, saya langsung coba cari kerja. Saya sempat diterima sebagai staf administrasi, tapi kontraknya cuma enam bulan dan tidak diperpanjang,” ujarnya.
Kini, Insani sudah menganggur selama dua bulan dan terus aktif mencari peluang kerja baru. Namun, ia mengaku persaingan yang ketat serta pengalaman kerja yang minim menjadi kendala utama.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi Nur Hidayah Setyowati menyampaikan permohonan maaf atas kurangnya antisipasi terhadap lonjakan peserta yang hadir dalam bursa kerja. Awalnya, kegiatan ini direncanakan secara daring melalui platform Siap.
Meski telah dilakukan pembagian alur masuk berdasarkan jenis kelamin dan pengamanan oleh satpol PP serta aparat kepolisian, jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 25.000 orang. Jumlah ini jauh melampaui perkiraan awal yang hanya sekitar 10.000 orang.
Di sisi lain, job fair ini hanya menawarkan 2.557 lowongan dari 64 perusahaan yang berpartisipasi. Tingginya jumlah peserta yang datang menunjukkan masih banyak warga Bekasi yang berjuang mencari pekerjaan.
Berdasarkan data BPS Bekasi, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Bekasi pada Agustus 2024 mencapai 8,82 persen dengan jumlah angkatan kerja 1,62 juta orang. Dari jumlah tersebut, 1,47 juta orang telah bekerja, sementara 143.000 lainnya masih menganggur.
Sementara itu, di Kota Bekasi, TPT pada Agustus 2024 tercatat 7,82 persen dengan jumlah angkatan kerja mencapai 2,06 juta orang, tetapi hanya 1,24 juta orang yang bekerja. Data ini mencerminkan tantangan besar dalam penyerapan tenaga kerja di kedua wilayah tersebut.
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang menyatakan akan mengevaluasi skema pelaksanaan bursa lowongan kerja agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan lebih baik dan lancar.
”Ke depan kami akan menerapkan pembagian waktu atau sesi agar pelaksanaan lebih teratur. Selain itu, kami juga akan mengundang pimpinan kawasan industri membahas penambahan kuota lowongan kerja dari masing-masing perusahaan,” tuturnya.
Ade mengakui tingginya antusiasme warga yang datang ke job fair menjadi tantangan tersendiri dalam upaya menekan angka pengangguran di Kabupaten Bekasi.
”Dengan banyaknya peserta, jelas terlihat bahwa kebutuhan lapangan kerja sangat besar. Ke depan, kami akan menggelar job fair gelombang berikutnya dengan kapasitas yang lebih besar,” ujar Ade.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/07/c9609117-a4b7-412b-b7bf-648a23171cdc.jpg)
Adapun Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo merupakan bagian dari program prioritas 100 hari kerja Bupati Bekasi dengan fokus utama menekan angka pengangguran di Kabupaten Bekasi.
Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam penyerapan tenaga kerja lokal, terutama dari sekitar 7.000 perusahaan yang tersebar di berbagai kawasan industri.
”Kami akan melanjutkan program rekrutmen door to door dengan pendekatan yang lebih terstruktur untuk memastikan warga Kabupaten Bekasi mendapatkan prioritas dalam dunia kerja,” ucap Ade.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari