Mendidik karakter anak bukan tugas utama guru-guru di sekolah. Ini adalah tanggung jawab orangtua yang harus membangun karakter secara utuh kepada anaknya.
21 Mei 2025 07:33 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS - Tanggung jawab dalam membentuk karakter anak-anak tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada institusi pendidikan. Keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan anak memiliki peran yang sangat krusial dalam menanamkan nilai-nilai moral, etika, serta kepribadian yang kuat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan, sekolah hanyalah fasilitator untuk membentuk karakter anak dengan sistem pendidikan yang disiapkan. Lingkungan sosial, utamanya keluarga, bertanggung jawab membuat lingkungan yang nyaman dan aman untuk mendukung pendidikan karakter anak.
Banyak permasalahan perilaku anak yang muncul di sekolah ternyata berakar dari kurangnya perhatian atau pola asuh yang kurang tepat di rumah. Ini menunjukkan pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat.
"Keluarga adalah inti dari pendidikan. Sekolah itu sebenarnya adalah membantu keluarga. Cuma sekarang, yang seringkali terjadi justru, mohon maaf, sebagian orangtua itu menyerahkan pendidikannya sepenuhnya di sekolah," kata Mu'ti dalam keterangan pers, Rabu (20/5/2025).
Untuk itu, dia meminta para orangtua untuk memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Keluarga perlu dibangun menjadi pusat pendidikan yang menghadirkan banyak inspirasi dan keteladanan yang baik untuk mewujudkan karakter.
Kita harus membesarkan anak sesuai dengan zamannya.
Inspirasi itu, lanjut Mu'ti, bisa dilakukan orangtua dengan hal-hal sederhana; mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Ini merupakan bagian dari pendidikan karakter yang digaungkan pemerintah kepada masyarakat.
Psikolog dari Yayasan Sentra Psikomedika, Neliana Puspita bercerita, belakangan ia banyak menangani kasus-kasus anak yang terlambat bicara. Setelah didalami, ternyata keluarganya tidak membiasakan diri untuk berinteraksi satu sama lain.
Selain itu, banyak di antara anak-anak tersebut yang terlalu sering diberi gawai dengan alasan agar bisa diam. Padahal, pendidikan karakter itu dimulai dari kebiasaan orangtuanya. Karakter anak pun seharusnya dibangun hingga beranjak dewasa, tidak hanya saat masa anak-anak.
"Enggak ada lagi istilah karakter itu hanya untuk anak usia dini. Kenyataannya mereka terus bertumbuh dan dari masa pertumbuhan dan pengembangan itu mereka belajar secara sosial. Mereka akhirnya nanti kita bisa merubahnya menjadi rutinitas melakukan kebiasaan baik," kata Neliana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/01/d2ff7d142659206e9f9d4eacf92cd31a-20250501YGA06.jpg)
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2014-2022 Rita Pranawati menambahkan, orangtua juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman yang bersamaan dengan pertumbuhan anak. Dengan begitu, orangtua bisa mendidik anak sesuai zamannya.
"Kita harus membesarkan anak sesuai dengan zamannya. Jangan hanya melarang untuk tidak bermain gawai, tapi juga memberi alternatif kegiatan lain yang positif," tutur Rita.
Rita menekankan bahwa penggunaan gawai pada anak harus diawasi dan dibatasi. Orangtua tidak hanya memberikan gawai begitu saja, tetapi juga mendampingi sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi digital kepada anak.
Pemerintah dan lembaga pendidikan juga diimbau untuk lebih aktif melibatkan orang tua dalam program-program pendidikan karakter. Dengan pendekatan yang kolaboratif antara sekolah dan keluarga, pembentukan karakter anak akan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/24/9cad2760-fb17-4b8b-b988-330360e5c1a6_jpg.jpg)
Kepala Pusat Penguatan Karakter di Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami mengatakan pihaknya sudah menerbitkan buku panduan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia yang bisa diunduh dari laman Kemendikdasmen. Panduan ini bisa digunakan orangtua untuk membangun karakter anak, mulai dari lingkungan keluarga.
"Kami berharap seluruh sekolah, orangtua, dan masyarakat luas bisa segera mengunduh dan menyebarluaskannya," tutur Rusprita.
Selain itu, Kemendikdasmen juga telah menyebarkan surat edaran kepada sekolah-sekolah agar membatasi penggunaan gawai bagi murid. Gawai nantinya hanya bisa digunakan untuk kebutuhan tertentu selama terkait dengan proses belajar mengajar.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari