Pendidikan Moral Siswa Tidak Hanya Tugas Guru BK

Membangun karakter pelajar bukan tugas guru bimbingan konseling saja, tetapi harus menjadi kompetensi dasar semua guru dan semua warga sekolah.

13 Nov 2024 10:00 WIB · Nasional

Oleh Stephanus Aranditio

Kompetensi bimbingan konseling dan pendidikan nilai akan menjadi dua hal penting dalam proses sertifikasi guru ke depan. Guru tidak hanya dituntut menguasai kemampuan pedagogi, tetapi juga harus bisa menjadi teman yang membimbing peserta didik untuk berkembang secara optimal dan berkarakter.

Gagasan ini semakin mencuat ketika semakin banyak guru yang mengalami kriminalisasi karena dianggap terlalu berlebihan ketika mendisiplinkan murid. Sementara karakter peserta didik sekarang berbeda dengan zaman dahulu sehingga metode pendidikan karakter harus disesuaikan dengan perkembangan zaman.

”Mendisiplinkan itu penting, tetapi cara mendisiplinkannya juga tidak kalah pentingnya. Cara mendisiplinkan tahun 50-an beda, dong, dengan tahun 2025. Kalau cara tahun 50-an dipakai tahun 2025, itu tentu sudah tidak sesuai dengan zamannya,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti saat membuka Bulan Guru Nasional 2024.

Mu’ti menegaskan, materi tentang bimbingan konseling dan pendidikan nilai akan masuk dalam Pendidikan Profesi Guru dan harus dikuasai guru sebagai syarat mendapatkan sertifikasi. Dengan dua materi itu, mereka harus mampu membentuk kepribadian hingga membantu para siswa dalam menangani dan menyelesaikan berbagai macam masalah ataupun hal-hal yang ada di luar praktik belajar dan mengajar.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim menjelaskan, manusia lahir tidak ada yang amoral, tetapi setiap manusia memiliki moral dengan porsi yang berbeda-beda. Penyebab utama dari munculnya perilaku buruk adalah karena kurangnya stimulasi moral pada seseorang.

Quote

Perkuat perspektif edukatif dalam pencegahan dan penanganan, tidak semua kasus berujung ke polisi atau meja hijau.

Oleh karena itu, moral harus diasah sejak dini demi mencegah perilaku buruk, lalu ujungnya terbentuk generasi unggul. Berbagai bentuk kekerasan, seperti perundungan hingga kekerasan seksual, bisa dicegah dengan penguatan dua materi tersebut kepada para guru, yakni bimbingan konseling dan pendidikan nilai.

”Karakter itu bentuk tingkah laku, awal sebelum menjadi karakter itu namanya moral. Moral itu kemampuan membedakan baik dan buruk,” kata Rose Mini, Rabu (13/11/2024).

Dia menjabarkan, ada tujuh virtue (kebajikan) dalam moral yang terdiri dari tiga akar moral, yaitu yang pertama adalah empati (empathy), yakni dengan mengajarkan awareness. Dengan begitu, anak dapat memahami apa yang dirasakan dan memahami perasaannya serta juga mengajarkan sensitivitas kepada orang lain.

Kedua adalah nurani (conscience), yaitu mengajarkan pada anak untuk memiliki suara hati sehingga mampu membedakan mana yang benar dan salah dan berada pada jalur yang sesuai dengan moral. Anak harus paham kenapa suatu perilaku itu salah dan apa dampaknya pada orang lain ataupun dirinya sendiri.

Sebaran Guru Bimbingan Konseling Seluruh Indonesia Infografik – Luhur

Ketiga, kontrol diri (self control) dengan mengajarkan anak untuk berpikir sebelum bertindak. Keempat, menghargai (respect), yaitu mengajarkan anak untuk menganggap orang lain berharga, memperlakukan orang lain seperti bagaimana ia ingin diperlakukan. Kelima, yakni kebaikan (kindness), yaitu mengajarkan anak untuk lebih memperhatikan kesejahteraan orang lain, dorong anak untuk selalu berperilaku baik dan anak memperoleh efek positif.

Lalu, keenam adalah tenggang rasa (tolerance) dengan mengajarkan anak menghargai perbedaan kualitas setiap individu (misalnya, jender, penampilan, budaya, dll). Dan yang terakhir adalah keadilan (fairness), yaitu mengajarkan anak untuk memperlakukan orang lain secara layak, adil, dan tidak memihak.

Tidak hanya guru

Dia menegaskan, tujuh kebajikan moral tersebut tidak hanya menjadi kompetensi guru bimbingan konseling saja, tetapi juga harus menjadi kompetensi dasar yang dikuasai semua guru. Bahkan, semua warga sekolah, seperti petugas keamanan, petugas kebersihan, hingga penjaga kantin, juga harus menguasai hal tersebut sehingga terbangun suasana sekolah yang mendukung pembentukan karakter anak.

”Karakter itu tidak bisa diajarkan hanya oleh satu guru BK saja. Seluruh isi sekolah itu harus memiliki kemampuan ini. Kalau dia jujur, dia pasti akan dilihat oleh anak-anak. Anak-anak jadi tahu di sekolah itu ada karakter jujur, disiplin, dan hal baik lainnya,” ucapnya.

Dalam menerapkan ilmu bimbingan konseling dan pendidikan nilai kepada anak, seorang guru juga harus mampu menjadi pendengar yang baik. Peserta didik perlu dirangkul agar dirinya tidak sungkan menjadikan guru sebagai teman terbaik dalam masa pertumbuhannya.

”Tapi, harus tahu ada batasannya. Kalau dalam keadaan tertentu, anak harus tahu bahwa dia harus menghormati gurunya. Ada waktunya tegas, ada waktunya membaur,” kata Rose Mini.

Guru dan Siswa memberikan salam pengganti jabat tangan saat hendak masuk kelas di SD Katolik Santa Maria, Banyuwangi, Senin (9/3/2020). Kendati tidak ada instruksi khusus, hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus SARS-CoV-2.

Alipp Ibrahim, siswa SMKN 3 Bogor, bercerita, sistem sekolah yang saling menjaga bisa mencegah tindak kekerasan. Di sekolahnya, para guru sudah dilatih mengelola emosi dan mengatur kondisi sosial melalui Program Cekatan (Cegah Kekerasan Anak dengan Terobosan Sosial Emosional) inisiatif Yayasan Cahaya Guru.

Dengan guru-guru yang sudah menguasai ilmu bimbingan konseling dan pendidikan nilai itu, Alipp dan teman-temannya lebih merasa aman untuk bercerita dan dekat dengan guru tanpa mengurangi rasa hormat mereka. Potensi bahaya dari tindak kekerasan di sekolah kini telah menjadi kesadaran bersama.

”Peran guru sangat penting bagi kami, guru bisa kasih saran dan bantuan, dan kami juga boleh cerita kepada guru. Buat pelaku perundungan, misalnya, juga bisa disanksi agar kapok tidak melakukan lagi, tetapi tetap dibimbing,” ucap Alipp.

Rika Dwi Yuni Astuti, guru SMAN 3 Depok, mengungkapkan bahwa karakter anak zaman sekarang dipengaruhi pula oleh kemajuan teknologi. Penanaman pendidikan moral yang dilakukan oleh guru bisa tidak masuk karena anak lebih banyak terpengaruh konten negatif di media sosial.

”Di medsos, kenakalan remaja sepertinya semakin dinormalisasi karena banyak tokoh yang diidolakan anak-anak itu menormalisasi hal tersebut, ini jadi tantangan guru zaman sekarang,” kata Rika.

Dodi Riana (35), guru SD Negeri Jayamekar, Kampung Bantaka, Desa Muaracikadu, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, saat memberikan materi pelajaran kepada siswa kelas I, II, dan III yang belajar di dalam satu ruangan, Senin (14/8/2017). Sekolah itu hanya mempunyai dua ruang belajar dan empat guru honorer.

Oleh karena itu, Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru Muhammad Mukhlisin mendorong pemerintah untuk memperkuat implementasi Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKSP). Banyak guru yang belum memahami tata pelaksanaan aturan ini.

Dia menilai, penguatan bimbingan konseling dan pendidikan nilai yang akan dimasukkan dalam pendidikan profesi guru akan menjadi baik jika tidak berhenti hanya pada pelatihan guru semata, tetapi hingga implementasi yang baik pula. Masyarakat juga perlu menciptakan lingkungan yang aman bagi pertumbuhan karakter anak.

”Perkuat perspektif edukatif dalam pencegahan dan penanganan, tidak semua kasus berujung ke polisi atau meja hijau. Kesalahan bisa menjadi proses edukasi, guru dan murid yang pernah melakukan kekerasan bisa menjadi pembelajaran ke depan,” kata Mukhlisin.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Aloysius Budi Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .