Tiga jenazah ditemukan dari dalam badan KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa. Temuan ini membuka harapan penemuan korban lain.
19 Sep 2026 08:02 WIB · Nasional
KANTOR SAR BANJARMASIN
Tim SAR gabungan mulai menemukan jenazah korban dari dalam badan Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa. Pencarian terhadap ratusan penumpang dan kru pun kembali dilakukan pada hari ketujuh, Sabtu (19/9/2026).
Pada Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 23.00, tiga jenazah yang dibawa menggunakan Kapal SAR Kamajaya dari perairan Laut Jawa tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Paralel dengan perjalanan kapal melintasi alur Sungai Barito, sekitar dua jam sebelumnya, doa yang melibatkan keluarga korban dilakukan di ruang tunggu pelabuhan.
Ustaz yang dihadirkan memberikan ceramah singkat berupa motivasi dan dukungan moral kepada pihak keluarga. Bagaimana musibah terjadi dan ketabahan bagi orang-orang yang ditinggalkan, menjadi siraman batin bagi keluarga. Doa yang sama juga dilakukan pada malam sebelumnya di tempat yang sama.
Pada hari keenam pencarian, masih ada sejumlah keluarga dan kerabat korban yang bertahan di Pelabuhan Trisakti. Mereka menantikan kabar terbaru dari upaya pencarian dan menunggu sampai anggota keluarga mereka ditemukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/19/8642ae6e556c76a1d1431e7183a9996c-20260919wer3.jpg)
Adapun pada Jumat siang, tim menemukan tiga jenazah korban meninggal dari dalam bangkai KMP Virgo Transport 8 yang posisinya masih terbalik. Ini adalah penemuan pertama korban dari dalam badan kapal, sekaligus yang pertama sejak Selasa (15/9/2026). Tiga hari sebelumnya pencarian korban nihil.
Dengan hasil ini, jumlah korban, baik penumpang maupun kru kapal, yang ditemukan sebanyak 117 orang dari total 243 orang yang berada di kapal naas itu. Dari jumlah itu, sembilan orang di antaranya meninggal. Adapun korban yang masih dalam pencarian berkurang menjadi 126 orang.
Dari total sembilan korban meninggal, enam orang telah teridentifikasi dan diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakankan di daerah asal masing-masing.
Empat di antaranya berasal dari Jawa Timur, yakni Reyner Fausta Yosilianto (22) asal Malang, Nurul Rian Hidayat (33) dari Pamekasan, Deny Ridzal Saputra (29) asal Kediri, dan Imam Soeparno (66) dari Surabaya. Selain itu, ada juga Erick Maisul Latif (37) dan Risyan Kurnia Putra (28) dari Garut, Jawa Barat.
”Hari ini kita temukan tiga jenazah dari dalam kapal,” ujar Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti, menjelang ketiga korban tiba.
Ketiga jenazah ditemukan penyelam TNI AL yang berada di atas KRI Gusti Ngurah Rai (GNR). Sekitar pukul 12.28 Wita, ditemukan korban berjenis kelamin laki-laki dari dalam ruang kapal di kedalaman 24 meter. Disusul dua korban, masing-masing laki-laki dan perempuan, pada pukul 13.10 Wita.
Pencarian bawah permukaan juga didukung drone bawah air (remotely operated vehicle/ROV). Kamera yang ada dalam peranti itu memonitor seluk beluk kondisi bawah air untuk kemudian dilaporkan kepada tim sebagai acuan bagi para penyelam beroperasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/19/f4591c17007896018848f8aa1b75bc8e-20260919wer1.jpg)
Menurut Yudhi, faktor alam dalam dua hari terakhir cukup mendukung upaya pencarian korban, baik kegiatan di permukaan maupun bawah air. Gelombang yang sempat mencapai 2,5 meter pada hari-hari sebelumnya, pada Jumat siang kondisinya lebih kondusif. Begitu pula dengan arus bawah air sehingga memungkinkan untuk penyelaman.
”Jadi, beberapa hari lalu, hari kedua, ketiga, kami agak berat untuk masuk. Hari ini kami bisa turun, juga rekan-rekan penyelam dari Angkatan Laut yang on board di KRI GNR,” kata Yudhi. Jika kondisi memungkinkan, pada pencarian hari ketujuh, Sabtu ini, penyelaman akan kembali dilakukan.
Yudhi menyatakan, penemuan tiga jenazah tersebut menguatkan optimistisme untuk bisa menemukan korban-korban lain dari dalam badan kapal. Sebelumnya, upaya pencarian bawah air kerap terkendala oleh kondisi cuaca.
Pihak keluarga pun meyakini di dalam kapal itu masih terdapat banyak korban. Mereka tidak sempat menyelamatkan diri saat kapal miring dan terbalik. Keluarga korban pun mendesak pencarian difokuskan ke situ.
Pada Jumat siang, tim salvage (pengangkat badan kapal) sudah berada di lokasi dan mulai melakukan survei bawah permukaan air menggunakan ROV guna mengetahui dan mengobservasi posisi dan kedudukan badan kapal. Selanjutnya akan ditentukan langkah-langkah teknis untuk mengangkat kapal sepanjang 119 meter itu ke permukaan air.
Namun, Basarnas belum bisa memastikan kapan pengangkatan bakal dilakukan dan berapa lama prosesnya. Menurut rencana, pada Sabtu pagi, akan dilakukan rapat lanjutan untuk memastikan hal itu. ”Kami berharap lebih cepat. Kami juga meminta tim salvage supaya kegiatan ini bisa dilakukan lebih cepat,” kata Yudhi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/19/407ed37bffddf7c91061302d0cadd90f-20260919wer2.jpg)
Saat ini, kondisi badan KMP Virgo Transport 8 belum bergeser dari hari sebelumnya. Kapal terbalik dan berada di perairan dengan kedalaman 24-29 meter. Untuk menandai keberadannya, TNI AL telah memasang pelampung penanda (buoy marking) guna mengamankan lintasan pelayaran.
Selain menemukan tiga korban, upaya pencarian dan pertolongan juga menemukan sejumlah barang, baik yang diduga milik penumpang maupun terkait dengan KMP Virgo Transport 8. Barang-barang itu diserahkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk keperluan penyelidikan.
Sementara itu, saat ditemui di kawasan pelabuhan Trisakti, Jumat sore, Simson F Rigi selaku juru bicara pemilik kapal mengatakan, pemulangan korban selamat mulai dilakukan. ”Siap (semua ditanggung perusahaan). Pemakaman juga sudah, mereka sudah dipulangkan ke tempat asal masing-masing,” ujarnya.
Terkait rencana pengangkatan badan kapal, Simson mengatakan, pihaknya harus berkoordinasi dengan Basarnas selaku pihak yang berwenang terkait masalah tersebut.
Saat disinggung soal informasi yang viral di media sosial mengenai tali asih dari pihak perusahaan sebesar Rp 500.000 untuk korban selamat dengan catatan mereka tidak boleh menuntut perusahaan terkait kecelakaan ini, Simson mengatakan kabar itu tidak benar.
”Itu hoaks Rp 500.000, tidak ada, itu tidak boleh. Kan, sudah kita siapkan tali asihnya, diberikan oleh Gubernur (Kalsel) dan tambahan dari kami juga,” ujarnya. Mengenai besaran nilai tali asih yang diberikan pihak kapal, menurut Simson, hal itu sedang disiapkan oleh perusahaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/19/b5858f644df5515c968f1ae1ba1dc0ef-20260919wer4.jpg)
Seperti diketahui, KMP Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9/2026) dini hari. Sejumlah penumpang selamat menuturkan, kapal miring lalu terbalik dalam waktu cepat. Sebelum kapal kolaps, mereka mengaku tidak mendengar adanya tanda-tanda peringatan.
Salah satu penumpang selamat asal Bandung, Faisal (26), menuturkan, awalnya kapal berlayar normal. Namun, menurut dia, ada penumpang lain yang sempat mendengar bunyi ’dug’, semacam penanda adanya benturan saat kapal hendak bertolak dari Tanjung Perak, Surabaya. ”Entah bunyi apa itu, saya sendiri tidak mendengar,” kata Faisal.
Jadi beberapa hari lalu, hari kedua, ketiga, kami agak berat untuk masuk. Hari ini kami bisa turun, juga rekan-rekan penyelam dari Angkatan Laut yang ”on board” di KRI GNR.
Menurut Faisal, kondisi baru terasa aneh saat kapal berada di Perairan Masalembu. Kapal bergoyang, entah karena cuaca atau kondisi kapal itu sendiri. Kondisi itu membuat Faisal dan penumpang lainnya pusing dan mual. Puncaknya, menjelang tengah malam, barang-barang di sekitar penumpang, seperti kursi-kursi, menjadi roboh.
Penumpang pun mulai menyadari ada yang tidak beres dengan kapal berumur sekitar 40 tahun itu. Kondisi kapal ternyata miring sehingga membuat penumpang panik dan segera mengambil pelampung. Sebagian dari mereka juga mulai berhamburan ke laut untuk meraih sekoci untuk menyelamatkan diri dan sebagian lainnya diduga masih terjebak hingga akhirnya badan kapal terbalik beserta seluruh isinya.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase