Penerapan ESG Terus Bertumbuh di Indonesia

Penerapan prinsip ESG bisa dimulai dari tata kelola internal perusahaan hingga pendampingan UMKM. BRI dan Astra International telah melakukannya.

17 Feb 2025 21:37 WIB · Ekonomi

Oleh Abdullah Fikri Ashri, Dionisius Reynaldo Triwibowo

JAKARTA, KOMPAS — Negara-negara di dunia semakin berambisi memacu investasi menuju ekonomi berkelanjutan. Pemerintah Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan beradaptasi semakin responsif menarik investasi berkelanjutan dan menjawab hambatan ekonomi hijau.

Deputi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Pambudi mengemukakan, investasi berkelanjutan merupakan sebuah kebutuhan besar, bukan lagi instrumen geopolitik. Bukan hanya menghindari risiko lingkungan, investasi berkelanjutan juga membuka semua peluang ekonomi baru.

Edi memberikan pidato kunci dalam acara ”Kompas 100 Outlook: Investasi Berkelanjutan di dalam Ekosistem Bisnis Global” yang digelar harian Kompas berkolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (17/2/2025). Acara juga dihadiri Pemimpin Redaksi Kompas (Kompas.id) Sutta Dharmasaputra dan Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik. Diskusi menghadirkan pembicara Direktur Utama BRI Sunarso, Direktur Astra International dan Presdir Astra Otoparts Hamdhani Dzulkarnaen Salim, Presiden Direktur Institute for Sustainability and Agility (ISA) Maria Rosaline Nindita, dan General Manager Litbang Kompas Ignatius Kristianto Hadisaputro.

Global Sustainable Investment Alliance 2023 mencatat aset investasi berkelanjutan global telah mencapai 35,3 triliun dollar AS, setara Rp 567 kuadriliun, atau sekitar 35 persen dari total aset keuangan global. Kompetisi dalam investasi berkelanjutan sudah memasuki kawasan ASEAN.

Kemenko hampir setiap hari menerima investor dari luar negeri yang bicara energi bersih. BloombergNEF di tahun 2023 menyebutkan, transisi energi bersih akan membutuhkan investasi senilai 3,1 triliun dollar AS per tahun hingga 2050.

”Kami melihat negara di sekitar kita semakin ambisius memperbanyak bauran energi bersih sehingga kita harus bersiap untuk beradaptasi dengan situasi yang dinamis,” kata Edi.

Quote

Perubahan iklim dan pemanasan global ini merupakan sesuatu yang lebih menakutkan dibandingkan ketakutan soal saham.

Direktur Utama BRI Sunarso (kiri) berbincang dengan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik di sela-sela acara Kompas 100 Outlook "Investasi Berkelanjutan di Dalam Ekosistme Bisnis Global" di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2025). 

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
17-02-2025

Menyeimbangkan

Salah satu perusahaan yang menerapkan prinsip ESG adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Sejak 2013, BRI pertama kali meluncurkan laporan berkelanjutan terkait respons perusahaan terhadap lingkungan. Isu ini termasuk dalam wujud ESG. ”Prinsip ESG ini perlu untuk menyeimbangkan profit, lingkungan, dan people,” kata Direktur BRI Sunarso.

Menurut Sunarso, penerapan ESG di BRI dimulai dari tata kelola internal. BRI membentuk Komite ESG yang dipimpin direktur utama. Direksi hingga komisaris perusahaan pun dilibatkan. Terdapat pula divisi khusus di perusahaan yang mengurus isu ESG.

Kehadiran komite dan divisi ini untuk membuat perencanaan, strategi bisnis, pemantauan, hingga pelaporan terkait implementasi konsep ESG di BRI. ”Kami mulai dari governance (tata kelola). ESG ini bisa jalan kalau dimulai dari governance. Makanya, kami buat komite,” ungkapnya.

Menurut Sunarso, ESG seharusnya sudah terintegrasi dalam aktivitas perusahaan jika ingin tetap bertumbuh di tengah kondisi global. Ia mencontohkan, perubahan iklim yang berujung pada kenaikan suhu global dalam beberapa dekade ini menuntut aksi nyata perusahaan menjaga alam.

”Perubahan iklim dan pemanasan global ini merupakan sesuatu yang lebih menakutkan dibandingkan ketakutan soal saham,” ungkap Sunarso. Itu sebabnya, pihaknya berkomitmen mengimplementasikan konsep ESG. Tidak hanya di lingkup internal, tapi juga eksternal.

Dalam penyaluran pembiayaan, misalnya, BRI mencatat tren pertumbuhan pembiayaan hijau dari Rp 65,9 triliun pada 2020 menjadi Rp 86,5 triliun pada tahun 2024. Pembiayaan hijau adalah layanan keuangan yang mendukung kegiatan berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Begitu pula dengan pembiayaan terkait sosial, tumbuh dari Rp 484,4 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp 689,7 triliun tahun lalu. Pembiayaan ini, antara lain, mencakup pendampingan UMKM. Bahkan, UMKM yang ingin mendapatkan kredit diberikan bibit pohon untuk ditanam.

Dengan fokus pada UMKM, masyarakat dilibatkan. ”Apa artinya pertumbuhan ekonomi kalau tidak melibatkan banyak orang? Pertumbuhan tinggi tidak ada apa-apanya tanpa melibatkan masyarakat. Cara terbaik untuk sejahterakan rakyat, berikan pekerjaan yang inklusif,” ujarnya.

Pihaknya juga banyak melakukan perbaikan infrastruktur dengan memasang semua sumber energi yang terbarukan di fasilitas dan pabrik mereka. Hal ini sesuai prinsip ESG. ”Jadi, ESG bukan lagi pelengkap, melainkan ke depan menjadi sebuah keharusan atau kebutuhan,” katanya.

Sedangkan untuk UMKM, lanjut Hamdhani, Astra memiliki Yayasan Dharma Bakti Astrayang selama ini membina pelaku UMKM. Selain membina, mereka juga punya perusahaan pembiayaan yang dibuat khusus untuk perusahaan atau pelaku usaha UMKM.

Para nara sumber (kiri-kanan) Direktur Bisnis Harian Kompas Lukminto Wibowo, General Manager Litbang Harian Kompas Ignatius Kristanto Hadisaputro, President Director of Institute for Sustainability and Agility Maria Rosaline Nindita, Pemimpin Redaksi Harian Kompas (Kompas.id) Sutta Dharmasaputra, Deputi Bidang Kerjasama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Perekonomian Edi Pambudi, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BRI Sunarso, serta Direktur Astra Hamdhani Dzulkarnaen Salim berfoto bersama sebelum memulai diskusi dalam Kompas 100 Outlook dengan tema "Investasi Berkelanjutan di Dalam Ekosistme Bisnis Global" di Main Hall, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2025).

Pertumbuhan signifikan

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menuturkan, di pasar modal Indonesia, investasi berkelanjutan menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hal itu didorong permintaan tinggi terhadap produk-produk investasi yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Permintaan produk investasi ESG yang tinggi tecermin dari pertumbuhan produk-produk investasi secara signifikan, yakni dari peningkatan nilai aset kelolaan dari produk investasi pasif bertema ESG. Produk reksa dana dan exchange-traded fund (ETF), dengan acuan indeks bertema ESG di BEI, mengalami pertumbuhan hingga 211 kali lipat. Adapun produk investasi meningkat 25 kali lipat dalam kurun waktu 2015-2024.

”Itu juga menunjukkan ESG tidak hanya dipandang baik untuk dimiliki (necessary to have), tetapi menjadi aspek penting dalam pengambilan keputusan investasi,” ujar Jeffrey.

Di sisi lain, penerbitan efek bersifat utang yang berwawasan lingkungan dan efek yang berkelanjutan juga bertumbuh pesat. Misalnya, obligasi hijau saat pertama kali diterbitkan pada 2018, bernilai Rp 249 miliar. Kini, obligasi hijau telah mencapai Rp 24 triliun.

Diskusi Kompas 100 Outlook "Investasi Berkelanjutan di Dalam Ekosistme Bisnis Global" dengan nara sumber Hamzirwan Hamid (moderator), Direktur Utama BRI Sunarso, Direktur Astra Hamdhani Dzulkarnaen Salim, dan President Director of Institute for Sustainability and Agility Maria Rosaline Nindita, dan Manajer Litbang Kompas Ignatius Kristanto (kiri ke kanan) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2025).

KOMPAS/HERU SRI KUMORO
17-02-2025

Hadapi tantangan

Penerapan ESG juga dilakukan Astra International. Hamdhani menyebutkan, terdapat tujuh pilar bisnis Astra, dari heavy equipment and mining, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, hingga properti, yang mengimplementasikan konsep ESG.

Astra memiliki 300 perusahaan dan mempekerjakan sedikitnya 200.000 karyawan. Di Astra Otoparts saja ada lebih dari 30.000 karyawan. ”Kami punya KPI (key performance indicators) yang mencakup prinsip ESG,” ujarnya.

Astra banyak melakukan perbaikan infrastruktur dengan memasang semua sumber energi yang terbarukan di fasilitas dan pabrik mereka. ”Jadi, ESG bukan lagi pelengkap tetapi ke depan menjadi keharusan atau kebutuhan,” katanya.

Sedangkan untuk UMKM, lanjut Hamdhani, Astra memiliki Yayasan Dharma Bakti Astra yang selama ini membina pelaku UMKM. Selain membina, mereka juga punya perusahaan pembiayaan yang dibuat khusus untuk perusahaan atau pelaku usaha UMKM.

”Jadi dibiayai lalu didampingi hingga di-manage keuangannya oleh yayasan. Ini sudah kami mulai sejak puluhan tahun lalu,” ungkap Hamdhani.

Meski demikian, Presiden Direktur ISA Maria Rosaline Nindita Radyati mengungkapkan, banyak industri dan perusahaan yang hanya fokus pada dampak lingkungan. Padahal, ada aspek sosial dan tata kelola yang begitu penting. Ketiga aspek itu saling berkaitan dan mendukung satu sama lain.

”Perusahaan bisa memulainya dengan para pekerjanya, misalnya mengelola sampah dan lain sebagainya,” katanya. Ia juga mendorong adanya edukasi terkait ESG hingga masuk ke dalam kurikulum untuk meningkatkan pemahaman publik tentang ESG.

Pemimpin Redaksi Kompas Sutta Dharmasaputra menuturkan, diluncurkan pada 10 Agustus 2007, Indeks Kompas 100, yang juga hasil kerja sama dengan BEI, ditujukan untuk penyampaian informasi tentang pasar modal. ”Kami berupaya meningkatkan engagement dengan emiten Kompas 100, seperti diskusi rutin dengan para CEO. Itu untuk lebih meningkatkan pembahasan isu-isu strategis tentang pasar modal, tren investasi ke depan, dan pertumbuhan ekonomi setiap semester,” katanya

Kompas juga meluncurkan Kompas ESG, yang antara lain berisi sejumlah informasi tentang aksi korporasi, termasuk dari emiten di Indeks Kompas 100.


Kerabat Kerja

Penulis:

Abdullah Fikri Ashri, Dionisius Reynaldo Triwibowo
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Foto:

Heru Sri Kumoro, Priyombodo .