Arsip Foto ”Kompas”: Penerbangan Haji di Indonesia

Mulai tahun 1979, angkutan haji hanya menggunakan transportasi udara setelah pemerintah meniadakan angkutan haji melalui laut.

07 Mei 2025 10:10 WIB · Foto

Oleh Raditya Helabumi Jayakarna

Meski pesawat terbang sudah digunakan untuk angkutan haji di Indonesia pada tahun 1952, hingga dekade 1970-an kapal laut masih digunakan sebagai angkutan haji. Perjalanan penyelenggaraan ibadah haji secara resmi oleh Pemerintah Indonesia dimulai setelah Kongres Muslim Indonesia tahun 1949 di Yogyakarta yang membahas usaha perbaikan penyelenggaraan ibadah haji.

Sebagai tindak lanjut Kongres tersebut, pada tahun 1950 dibentuk Panitia Perbaikan Haji Indonesia (PPHI) sebagai badan yang sah diakui pemerintah, yang kemudian dikenal dengan nama Yayasan Perjalanan Haji Indonesia (YPHI). Dikutip dari Arsip Nasional Republik Indonesia dan laman Kementerian Agama, pada tanggal 10 Juli 1950 untuk pertama kalinya pemerintah Republik Indonesia memberangkatkan jemaah haji menggunakan kapal laut. Kapal haji pertama bernama Tarakan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dengan membawa sekitar 10.000 anggota jemaah haji Indonesia.

Penerbangan ke-IX jemaah haji tahun 1979/1980 melalui Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara, dengan menggunakan pesawat DC 10 Garuda, Senin (8/10/1979). Jumlah jemaah haji dari Indonesia tahun 1979/1980 sebanyak 41.681 orang. Dari jumlah tersebut sebanyak 4.462 jemaah diberangkatkan dari Polonia, Medan.

Dalam arsip berita Kompas, artikel terkait haji terbit pertama kali pada Jumat 9 Juli 1965 atau sekitar dua pekan setelah surat kabar ini terbit (Kompas terbit pertama kali pada 28 Juni 1965). Artikel tersebut menuliskan rombongan jemaah haji terakhir yang tiba kembali ke Tanah Air. Rombongan yang menumpang kapal Margarita itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis 8 Juli 1965. Menteri Urusan Haji Farid Maruf yang menyambut para jemaah menyatakan meski diakui ada sejumlah kekurangan, penyelenggaraan haji oleh pemerintah telah mengalami banyak kemajuan.

Kapal Margarita mengangkut 1.136 anggota jemaah haji yang berasal dari Jakarta Raya, Jawa Barat, Kalimantan, dan Jambi. Penyelenggaraan angkutan haji pada tahun 1965 itu menggunakan 7 kapal laut dan 2 pesawat udara. (Kompas, 9 Juli 1965)

Berita Kompas terkait pesawat DC-10

Memasuki tahun 1970-an penggunaan pesawat udara untuk angkutan haji semakin intens mengimbangi penggunaan kapal laut. Transportasi udara yang menawarkan waktu lebih singkat jika dibandingkan menggunakan transportasi laut semakin diminati. Sementara perjalanan haji menggunakan kapal laut membutuhkan waktu yang lama hingga sekitar satu bulan, perjalanan dengan pesawat udara hanya membutuhkan waktu sekitar sembilan hingga sepuluh jam saja.

Seperti yang terlihat pada musim haji 1972/1973. Saat itu pemberangkatan 6.317 calon jemaah haji menggunakan pesawat udara melalui Bandara Kemayoran, Jakarta, telah dimulai secara bertahap sejak 19 Desember 1972. Pemberangkatan diatur dalam 31 kelompok hingga 7 Januari 1973. Pemberangkatan haji udara ini dilakukan oleh Garuda yang bekerja sama dengan maskapai KLM dari Belanda menggunakan pesawat jenis Super DC-8, dengan kapasitas 218 tempat duduk.

Selain KLM, saat itu juga ada satu trip penerbangan yang bekerja sama dengan maskapai CSA (perusahaan penerbangan Ceko, dulu Cekoslowakia) menggunakan pesawat Illyusin dengan kapasitas 164 penumpang. Meski penerbangan bekerja sama dengan maskapai KLM, sebagian besar awak pesawat yang bertugas adalah awak Garuda.

Sebanyak 540 jemaah haji DKI kloter pertama tiba kembali tiba di Tanah Air, setelah tertunda hampir dua jam di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Mereka disambut Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara langsunng kedalam pesawat Garuda Boeing 747 City of Jakarta, 26 Oktober 1980.
Sebanyak 540 jemaah haji DKI kloter pertama tiba kembali di tanah air melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (26/10/1980). Mereka disambut Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara langsunng ke dalam pesawat Garuda Boeing 747 City of Jakarta yang mengangkut mereka.
Sebanyak 425 jemaah Haji tiba kembali di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dari tanah suci. Mereka merupakan Kloter ke III yang terdiri dari anggota ABRI dan masyarakat umum yang diangkut oleh pesawat jumbo jet Boeing 747 Garuda City of Surabaya, 14-10-1981
Rombongan jemaah haji yang baru menunaikan ibadah haji di Mekkah tiba di Terminal Haji Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (10/8/1987).
comparison left
comparison right
before-after-arrow

Tragedi Colombo

Di tengah meningkatnya penyelenggaraan layanan angkutan udara sebagai angkutan haji, dua kecelakaan pesawat angkutan haji terjadi dalam dekade 1970. Peristiwa yang dikenal sebagai tragedi Colombo itu terjadi pada 1974 dan 1978.

Berita Kompas terkait kecelakaan pesawat haji di Colombo tahun 1974

Pada Rabu, 4 Desember 1974, menjelang tengah malam, pesawat jet DC-8 maskapai Martin Air (Belanda) yang disewa untuk penerbangan haji dari Indonesia mengalami kecelakaan dalam penerbangan menuju Jeddah, Arab Saudi.

Pesawat yang membawa 182 calon jemaah haji dari Surabaya dan 9 awak itu meledak dan terbakar hebat setelah menabrak tebing yang dikenal sebagai ”Tujuh Dara” di sebelah timur Gunung Adam’s Peak. Lokasi kecelakaan berjarak sekitar 100 kilometer dari Bandar Udara Bandaranaike, Colombo, Sri Lanka. Semua penumpang dan awak pesawat tewas dalam kecelakaan tersebut (Kompas, 6 Desember 1974).

Musibah penerbangan haji yang kedua di Colombo terjadi pada Rabu 16 November 1978. Pesawat DC-8 jenis longbody milik maskapai Icelandic Loftleider yang membawa 249 anggota jemaah haji asal Indonesia untuk kembali ke Tanah Air mengalami kecelakaan ketika hendak mendarat. Kecelakaan terjadi ketika pesawat tersebut yang terbang dalam kondisi cuaca buruk sedang dipandu oleh petugas menara untuk mendarat di Bandara Katunayake.

Namun, dua puluh detik sebelum mencapai daratan, pesawat itu jatuh di area kebun kelapa. Tubuh pesawat rusak berkeping, tetapi bagian ekor pesawat masih tampak utuh. Pesawat membawa 249 anggota jemaah haji dan 13 awak. Sebanyak 62 orang dilaporkan selamat dalam kecelakaan itu. Sebagian besar mereka yang selamat duduk di kursi penumpang yang berada di belakang atau bagian ekor pesawat.

Berita Kompas terkait kecelakaan pesawat haji di Colombo tahun 1978

 

Salah seorang penumpang yang selamat, Bustani, mengatakan, sebelum pesawat jatuh, cuaca di sekitar Colombo saat itu hujan lebat disertai angin kencang. ”Pesawat terasa bergoyang-goyang, lalu terasa bergetar hebat”, ujar karyawan Pengadilan Negeri Banjarmasin itu kepada Kompas. Setelah jatuh, pesawat pecah dan bagian belakang badan pesawat tiba-tiba terbuka. Bustani yang tetap sadar kemudian melepas sabuk pengaman dan keluar dari pesawat bersama istrinya dan sejumlah penumpang lain (Kompas, 17 November 1978).

Sebuah pesawat DC-8 Icelandic Airway, yang dicarter untuk mengangkut jemaah haji Indonesia, jatuh dan hancur menjelang mendarat di lapangan terbang Colombo, Sri Lanka, tahun 1978. Pesawat ini dalam penerbangan Jeddah-Surabaya.
Petugas medis dan keamanan bersama-sama membantu para korban selamat kecelakaan pesawat haji di Colombo, turun dari pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk dibawa ke rumah sakit, 22-11-1978
Petugas medis dan keamanan bersama-sama membantu para korban selamat kecelakaan pesawat haji di Colombo, saat turun dari pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk dibawa ke rumah sakit, 22 November 1978.
Anggota keluarga menyambut korban kecelakaan pesawat haji Colombo yang selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 22 November 1978.
Para korban kecelakaan jatuhnya pesawat jemaah haji di Colombo, Sri Lanka, diturunkan dari pesawat dengan "high loader", di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan dijemput ambulans dari RS Islam, 22 November 1978.
Jemaah haji yang selamat dari musibah kecelakaan pesawat terbang di Colombo tiba di Halim Perdanakusuma, Jakarta.

 

Angkutan laut ditiadakan

Pada musim haji 1978/1979, pemerintah meniadakan angkutan haji melalui transportasi laut karena kesulitan keuangan yang dihadapi PT Arafat sebagai satu-satunya perusahaan angkutan laut yang ditunjuk pemerintah untuk melaksanakan angkutan haji melalui laut.

Pemerintah juga menetapkan ongkos naik haji (ONH) musim haji 1978/1979 menggunakan angkutan udara sebesar Rp 766.000. Biaya tersebut lebih murah Rp 50.000 dibandingkan musim haji sebelumnya. Dalam keterangan resmi menteri agama saat itu, Alamsyah Ratu Perwiranegara, ditegaskan, angkutan haji hanya akan dilaksanakan melalui angkutan udara. Karena jika tetap dilaksanakan menggunakan angkutan laut oleh PT Arafat, ONH justru akan lebih mahal menjadi Rp 905.000.

Selain itu, pemerintah juga harus mengambil alih utang PT Arafat sebesar Rp 12 miliar serta menyediakan pinjaman dana tanpa bunga dan cicilan utang yang harus segera dilunasi karena terikat langsung kepada dua kapal yang akan dipakai. PT Arafat kemudian dinyatakan pailit. Praktis sejak tahun 1979, transportasi haji hanya menggunakan pesawat udara.

Presiden Soeharto dan ibu Tien Soeharto beserta keluarga meninggalkan Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk menunaikan ibadah haji di Tanah suci, Minggu (16/6/1991)
Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto berangkat menuju Tanah Suci Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji dengan menggunakan pesawat Boeing 747, Garuda Indonesia, dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta pukul 10.00 WIB Minggu (16/6/1991). Rombongan kloter terakhir (97) berjumlah 357 orang calon jemaah haji dilepas oleh Menteri Agama Soepardjo Rustam. Tampak Wakil Presiden Sudharmono SH mengantar Presiden dan Ibu Tien Soeharto sampai ke dalam pesawat.
Kloter jemaah calon haji yang diberangkatkan dari embarkasi Halim Perdanakusuma, Jakarta, dengan Boeing 747 GA 7101, dilepas oleh Menteri Agama Tarmizi Taher disertai Menteri Kesehatan Sujudi, Dubes Arab Saudi, Gubernur DKI Jakarta, dan pejabat lainnya, Senin (3/4/1995).
Hari Rabu (17/6) kemarin adalah hari pertama pemulangan jemaah haji dari Tanah Suci melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, berurutan mulai dari kelompok terbang pertama. Penanganan petugas tidak hanya selama di Tanah Suci atau di perjalanan, dan bukan hanya bagi yang sehat. Mereka yang pulang dalam keadaan sakit pun tetap ditangani oleh petugas yang siap selama 24 jam di Bandara Halim Perdanakusuma. Seorang jemaah haji yang sakit diturunkan dari pesawat sambil tetap memegang kitab Al Quran hadiah Raja Arab Saudi.
*** Local Caption *** Kloter I Jemaah Haji tiba di tanah air. *** Local Caption *** Kloter I Jemaah Haji tiba di tanah air.

Jumlah calon jemaah haji Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada musim haji 1990, Garuda Indonesia menyediakan 205 kloter (kelompok terbang) dengan kapasitas 84.179 kursi untuk mengangkut 81.728 calon jemaah haji yang akan mulai diterbangkan 28 Mei hingga 26 Juni.

Kloter pertama dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, akan berangkat pukul 20.40 WIB dengan pesawat DC-10. Garuda akan mengerahkan dua Boeing 747 dan dua DC-10, ditambah dengan sebuah DC-10 yang dicarter dari World Airways dan sebuah Tristar L-1011 milik Royal Jordan. Garuda juga menyiapkan satu pesawat DC-10 sebagai cadangan. Berdasarkan data Posko Haji, total jemaah sebanyak 82.891 orang dengan perincian dari Medan 7.464 orang, Halim 45.496 jemaah, Surabaya 20.346 orang, dan dari Ujung Pandang (sekarang Makassar) 9.585 orang.

Jemaah haji kelompok terbang pertama diberangkatkan dari Terminal Haji Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 8 Desember 2005. Kuota jemaah haji Indonesia pada musim haji ini berjumlah 205.000 orang.
Sekitar 200 anggota jemaah haji ONH Plus yang tertunda keberangkatannya akhirnya diberangkatkan melalui Bandara Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (27/1/2003). Mereka diberangkatkan dengan menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Indonesian Airlines.
Sebanyak 323 anggota jemaah haji kelompok terbang (kloter) pertama asal Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), berangkat ke Tanah Suci, Kamis (8/12/2005). Calon jemaah haji asal NAD yang akan ke Tanah Suci pada tahun ini mencapai 4.758 jiwa.
Sejumlah pekerja membersihkan landas pacu Bandara Juanda Surabaya, Jawa Timur, Jumat (23/10/2009). Pembersihan dilakukan berkala untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mengantisipasi meningkatnya frekuensi penerbangan di bandara ini karena berbarengan dengan musim haji.
Pekerja memasang logo Garuda Indonesia pada bagian ekor pesawat Airbus A330 di Bandara Adi Soemarmo, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (23/10/2009). Pada musim haji 2009, untuk pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji dari Bandara Adi Soemarmo, Garuda Indonesia menggunakan lima pesawat, Airbus A330 dan Boeing 777, yang disewa dari luar negeri.
Petugas memeriksa bagasi milik calon jemaah haji asal Kabupaten Lamongan setelah dipindai dengan sinar X saat tiba di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa timur, Kamis (22/10). Pengawasan ketat pada bagasi dilakukan dengan pemindai sinar X untuk menghindari masuknya barang terlarang atau yang membahayakan penerbangan.
Petugas membantu calon jemaah haji kloter 1 Embarkasi Surabaya yang memakai kursi roda dengan menaiki lift khusus untuk masuk ke pesawat Saudi Arabia Airlines di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (28/7/2017). Dalam kelompok terbang tersebut terdapat 445 anggota calon jemaah haji.

 

Pada musim haji 2025 ini, pemerintah telah menunjuk tiga maskapai untuk melayani penerbangan haji. Maskapai itu adalah Garuda Indonesia, Lion Air Group, dan Saudi Airlines. Penerbangan haji melalui 13 bandara atau embarkasi ini akan menggunakan pesawat jenis Boeing 777 dan Airbus A330. Bagi Lion Air, tahun ini untuk pertama kalinya maskapai berlambang singa itu melayani penerbangan haji melalui embarkasi Padang dan Banjarmasin.

Awak kabin berada di dalam pesawat Airbus A330 maskapai Lion Air di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (17/4/2025). Pesawat berbadan lebar tersebut akan digunakan Lion Air dalam penerbangan haji. Untuk pertama kalinya Lion Air akan melayani penerbangan haji melalui dua embarkasi yaitu Padang dan Banjarmasin. Penerbangan perdana dari embarkasi Padang dijadwalkan pada 3 Mei 2025 dengan membawa 420 jemaah haji.
Pengantar menunggu pesawat yang mengangkut jemaah haji Kloter 83 terbang menuju Tanah suci Mekkah di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (18/10/2012). Kloter tersebut merupakan kloter terakhir jemaah haji.
Jamaah haji melakukan sujud syukur setelah turun dari pesawat seusai menempuh penerbangan dari Tanah Suci di Bandara Adisoemarmo, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (18/8/2019). Rombongan dalam kelompok terbang pertama Debarkasi Surakarta itu berasal dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Raditya Helabumi Jayakarna
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul