Ketika Paus Fransiskus menjabat pada 2013, petinggi gereja lokal sudah terlibat skandal pelecehan seksual, khususnya terhadap anak-anak, selama puluhan tahun.
26 Apr 2025 13:04 WIB · Internasional
Menjadi Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma bukan berarti selalu benar dalam segala hal. Pada momen tertentu, dia harus mampu mengakui kesalahan. Itulah yang Paus Fransiskus lakukan ketika menyikapi masalah yang terjadi pada era kepemimpinannya, termasuk terkait kasus pelecehan seksual.
Jurnalis Associated Press, Nicole Winfield, mendapat julukan ”Juara Kelas” dari Paus Fransiskus. Winfield mendapat julukan itu tatkala kepemimpinan Paus Fransiskus berada di titik terendah, beberapa tahun lalu.
Tahun 2018 adalah tahun penuh tantangan bagi Paus Fransiskus. Dunia menyoroti penanganan Gereja Katolik terkait kasus pelecehan seksual oleh Pastor Fernando Karadima di Chile era 1980-an.
Sikap Paus dipertanyakan. Paus membela Uskup Juan Barros yang terlibat dalam menutupi kasus itu dan mengabaikan trauma korban. Oleh sebab itu, para wartawan membombardir Paus dengan pertanyaan seusai perjalanan apostolik ke Amerika Latin, termasuk Chile, pada Januari 2018.
Di pesawat, Winfield ikut bertanya. Dia menekankan bagaimana Paus tidak peka atas penderitaan para korban. Paus bersikukuh tidak ada korban yang menuduh Uskup Barros melindungi Pastor Karadima.
”Saya belum mendengar kabar dari korban Barros,” kata Paus Fransiskus, dilansir dari AP, Jumat (25/4/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/01/654c3402-f407-4c89-b6c9-e14bcd6644f6_jpg.jpg)
Winfield balik menyahut, ada korban yang mengatakan hal tersebut. Ketika Paus Fransiskus ingin menyela, Winfield memotongnya dengan berteriak. ”Tidak! Ada korban Karadima yang mengatakan bahwa Barros ada di sana!”
”Tetapi, mereka tidak muncul. Mereka tidak memberikan bukti untuk sebuah keputusan. Anda, dengan niat baik, memberi tahu saya bahwa ada korban, tetapi saya belum melihat mereka karena mereka tidak muncul,” jawab Paus Fransiskus.
Winfield sadar perdebatan sengit dengan Paus telah melanggar standar protokol Vatikan yang penuh sopan santun. Namun, Paus Fransiskus tidak marah. Dia justru memerintahkan penyelidikan, memerintahkan setiap uskup di Chile mengundurkan diri, dan meminta maaf kepada korban.
”Respons Paus menggarisbawahi apa yang dilihat oleh teman dan musuh sebagai salah satu atribut Fransiskus yang paling luar biasa: kemauan untuk mengakui kesalahan dan mengubah arah,” tulis Winfield.
Ketika Paus Fransiskus menjabat 2013, petinggi gereja lokal banyak terlibat skandal pelecehan seksual, khususnya terhadap anak-anak, selama puluhan tahun. Selain melukai umat, kasus-kasus ini merusak kredibilitas Gereja Katolik. Skandal tercatat terjadi di banyak negara, seperti Amerika Serikat, Irlandia, Chile, dan Australia.
Paus Fransiskus berupaya mengatasi persoalan tersebut. Namun, banyak pihak melihat aksi Paus tidak cukup. Dia pun beberapa kali terkesan mengabaikan pendapat umat. Kasus di Chile adalah titik balik bagi Paus.
Pada 2019, Paus Fransiskus mengeluarkan aturan baru penanganan kasus pelecehan seksual, termasuk mewajibkan pejabat Vatikan melaporkan pelecehan dan meminta pertanggungjawaban uskup jika menutupi kasus. Paus juga menghapus kewajiban kerahasiaan dalam investigasi pelecehan.
”Beliau telah melakukan reformasi penting yang masih jauh dari kata selesai, terutama terkait kebutuhan gereja bersikap konsisten dalam melibatkan korban, meminta pertanggungjawaban pelaku, dan menerapkan norma serta hukum yang berlaku saat menangani pelecehan,” kata Hans Zollner, pastor dan psikolog Jerman kepada CNN.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/21/f83fc621-0366-4e93-b4c0-6089e3cb1938_jpg.jpg)
Langkah Paus Fransiskus tidak berhenti di situ. Dia semakin tegas menindak pejabat gereja bermasalah.
Untuk kali pertama dalam sejarah, Paus Fransiskus mencopot Kardinal AS Theodore McCarrick pada 2019. France24 melaporkan, McCarrick dinyatakan bersalah oleh pengadilan Vatikan atas pelecehan seksual terhadap seorang remaja pada tahun 1970-an.
Pada 2022, Paus bertolak ke Kanada untuk ”ziarah pertobatan”. Paus bertemu masyarakat adat Métis, First Nations, dan Inuit untuk meminta maaf secara langsung atas dugaan pelecehan atas anak-anak warga pribumi Kanada, termasuk dugaan genosida.
Permintaan maaf itu keluar setelah adanya penemuan kuburan 215 jasad anak-anak di Kamloops, Kanada, pada 2021. Gereja Katolik Roma mengoperasikan Kamloops Indian Residential School selama 1890-1969. Pemerintah federal lalu mengambil alih sekolah itu sampai ditutup pada 1978.
”Betapa saya sangat menyesal dan meminta pengampunan atas kejahatan yang dilakukan oleh tidak sedikit umat Katolik yang berkontribusi pada kebijakan asimilasi budaya dan pemberian hak pilih di sekolah-sekolah itu,” kata Paus (Kompas.id, 30 Juli 2022).
Pada 2023, Paus Fransiskus kepada The Associated Press mengakui, konferensi pers di pesawat lima tahun silam adalah titik balik bagi dirinya. Dia tersadar atas kedalaman skandal pelecehan tersebut.
”Saya tidak percaya. Anda adalah orang yang berada di pesawat yang mengatakan kepada saya, ’Tidak, bukan seperti itu, Bapa’,” kata Paus kepada Winfield.
Paus merasa seperti ada bom yang meledak di kepalanya. Matanya menjadi jernih melihat banyaknya aksi korup yang dilakukan banyak uskup dalam kasus semacam itu.
Gara-gara perdebatan di pesawat itu, Paus Fransiskus juga mulai memanggil Winfield dengan julukan khusus. ”Ahh, la prima della classe. La prima della classe,” ujarnya saat menjabat tangan Winfield dalam pesawat menuju Irlandia, Agustus 2018.
Winfield bertanya-tanya apa maksudnya. Dalam bahasa Italia, frasa itu berarti ”Juara Kelas”. Namun, ada pula konotasi negatif yang berarti sok tahu, sok baik, atau kesayangan guru. Winfield memilih menganggap julukan itu sebagai pengakuan terpaksa bahwa dia telah menegur dan mengoreksi Paus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/16/b3e2f7ef-c482-4158-a6fd-9fbf5a4b450e.jpg)
Julukan itu turut menunjukkan perubahan hubungan Paus Fransiskus dengan pers. Sewaktu masih bertugas di Argentina, Paus tidak nyaman karena berada dalam sorotan media ketika menjadi Kepala Jesuit dan Uskup Agung Buenos Aires.
Seiring waktu, Paus Fransiskus mulai santai. Di eranya, Paus memberikan lebih banyak konferensi pers dan wawancara daripada kedua pendahulunya. Paus Fransiskus menggunakan media untuk berkomunikasi dengan umat secara personal.
Bahkan, Paus Fransiskus sampai menunda perjalanan apostolik ke Asia menjadi September 2024 agar Winfield bisa ikut. Perjalanan ini menjadi kunjungan terakhir Paus sampai akhirnya wafat pada 21 April 2025.
”Momen itu seakan menjadi bukti bahwa, terlepas dari usianya, berbagai penyakitnya, dan tujuh jam jet lag, Paus Fransiskus masih bisa menjadi Paus, masih suka menjadi Paus, dan memiliki kemampuan untuk menjadi Paus seperti yang pernah ia lakukan di awal masa kepausannya,” tulis Winfield, sang Juara Kelas. (AP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari