Bagaimana para pemain elite sepak bola mempersiapkan diri menjelang laga? Keingintahuan itu sedikit terobati saat mengintip timnas Perancis berlatih.
17 Jun 2026 17:55 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko Prihananto
Jalannya pertandingan sudah biasa kita saksikan. Lewat siaran televisi atau menonton langsung pertandingan di stadion, kiprah para pemain kelas dunia bisa kita tonton langsung.
Akan tetapi, proses kerja keras di balik layar pemain elite agar bisa tampil dalam performa puncak sepanjang musim jarang bisa kita saksikan. Maka, ketika timnas Perancis memberikan kesempatan kepada media peliput Piala Dunia 2026 meyaksikan latihan mereka di markas tim, Senin (15/6/2026), saya pun tak mau ketinggalan untuk berangkat meskipun jaraknya lumayan jauh di luar kota dan tak ada bus media.
Sesampai di lokasi latihan yang terletak di Melanie Lane in Whippany, New Jersey, daerahnya cukup sepi, berbeda dengan kawasan New York City atau New Jersey City. Lokasi itu merupakan bekas fasilitas milik klub Liga Sepak Bola Amerika Serikat (MLS), New York Red Bulls.
Menurut petugas, tim New York Red Bull baru berpindah markas latihan ke tempat yang lebih modern di RWJBarnabas Health Red Bulls Performance Center di Morris Township, New Jersey, AS.
Lokasi lama sekarang sehari-hari dipakai oleh Gotham FC, klub sepak bola putri yang bermain di liga sepak bola putri Amerika Serikat. Meskipun demikian, berbagai atribut Red Bull masih terlihat di lokasi tersebut.
Terdapat setidaknya tiga lapangan ukuran penuh di fasilitas tersebut. Ada yang memakai rumput sintetis, sebagian lagi dengan rumput alami. Lapangan yang dipakai oleh skuad Perancis untuk latihan memiliki dua lapangan dengan rumput alami yang terlihat sangat mulus.
Petugas sangat ketat menjaga rumput lapangan tersebut. Mereka berteriak-teriak setiap kali ada jurnalis yang menginjak rumput lapangan. ”Hei, keluar, jangan lewat di dalam lapangan,” teriak mereka setiap kali ada jurnalis yang tidak sadar melewati garis batas lapangan.
Jadwal latihan hari itu adalah pukul 16.00 waktu setempat. Terlihat puluhan wartawan yang hadir untuk menyaksikan latihan para pemain kelas dunia tersebut. Sayangnya, jurnalis hanya diberikan kesempatan untuk meliput latihan tersebut selama 15 menit pertama saja. Aturan ini berlaku bagi semua tim peserta Piala Dunia yang hanya membuka 15 menit sesi latihan mereka kepada jurnalis peliput.
Saat kami datang, sejumlah staf dan tim pendukung Perancis sudah memasang perlengkapan latihan seperti cone dan bola. Baru pada sekitar pukul 16.03 para pemain Perancis dipimpin Kylian Mbappe memasuki lapangan latihan. Ia terlambat tiga menit dari waktu yang dijadwalkan.
Petugas berteriak-teriak memberi tahu berapa lama lagi waktu yang kami punya untuk menyaksikan latihan tersebut.
Mereka langsung mendatangi bola yang sudah tersedia dan memainkan bola tersebut dengan jugling atau menggiringnya. Selama beberapa menit berikutnya, mereka tetap memainkan bola, sambil sesekali berbincang atau bercanda dengan rekan-rekan setimnya.
Mbappe, Bradley Barcola, Michael Olise, dan Ousmane Dembele terlihat menikmati latihan menjelang laga lawan Senegal. Aktivitas memainkan bola itu diselingi dengan beberapa kali lari sprint bersama. Pelatih Didier Deschamps mengawasi latihan tersebut didampingi sejumlah asistennya.
Setelah sekitar lima menit, para pemain berdiri membentuk lingkaran untuk melakukan peregangan yang dipimpin salah satu staf pelatih. Insiden terjadi saat sprinkler di lapangan menyala menyemprotkan air ke arah kumpulan jurnalis yang berbaris di pinggir lapangan.
Mereka pun kocar-kacir lari menyelamatkan diri, juga menghindarkan kamera dan peralawan elektronik mereka dari semprotan air dingin tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/33455969a07cad5042fc85d9ac937ee1-IMG_20260615_161301227.jpg)
Selepas peregangan, para pemain Perancis berpindah lapangan untuk menjalani program latihan yang lain. Petugas berteriak-teriak memberi tahu berapa lama lagi waktu yang kami punya untuk menyaksikan latihan tersebut.
Tidak banyak yang bisa didapatkan dari menyaksikan latihan tersebut, kecuali saat pemanasan saja yang dilakukan dengan cukup santai tanpa aktivitas fisik yang berlebihan. Tak ada pula kisi-kisi tentang bagaimana Deschamps akan memainkan taktik seperti apa saat menghadapi Senegal keesokan harinya.
Entah strategi apa yang disiapkan Deschamps pada latihan tersebut. Pada Selasa (16/6/2026), keesokan harinya, Perancis mampu memetik hasil maksimal pada pertandingan perdana mereka di Grup I Piala Dunia 2026 melawan Senegal.
Perancis mengalahkan tim asal Afrika tersebut dengan skor, 3-1. Gol ”Les Bleus” dipersembahkan Mbappe yang mencetak dua gol dan satu gol lagi oleh Barcola.
Akan tetapi, meskipun 15 menit waktu tersebut belum cukup membuang rasa penasaran bagaimana pemain atau tim elite berlatih, jurnalis peliput setidaknya jadi punya sedikit gambaran di balik layar soal kerja keras yang dilakukan para pemain Perancis menjelang laga.
Latihan adalah bagian penting dari karier pemain. Mengelola dan menjaga kondisi tubuh di balik ketat dan kerasnya kompetisi menjadi bagian dari latihan itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/9f4bf6512aa78f9752ab5f89a031aa6a-20260612_Stadion_Kandang_TIM.png)
Mengutip laman klub La Liga, Barcelona, saat ini, pemain tim profesional jarang memiliki waktu istirahat. Pertandingan tidak lagi dilakukan sekali seminggu karena banyaknya kompetisi yang mereka ikuti, baik domestik maupun internasional.
Belum lagi para pemain yang harus menjalankan tugas membela negara, seperti saat Piala Dunia 2026 saat ini. Selain itu, ada urusan komersial yang membutuhkan perhatian soal citra dan penampilan pemain, hal yang juga ikut menambah tekanan.
Para pemain, seperti di Liga Inggris, berlari antara 10 dan 12 kilometer setiap pertandingan dengan 25 persen di antaranya adalah lari intensitas tinggi atau sprint.
Persiapan secara tradisional pun tak bisa lagi dilakukan. Dengan kondisi tersebut, latihan bukan lagi hanya sekadar untuk tetap bugar sepanjang tahun. Tetapi, fokusnya adalah lebih untuk meningkatkan performa tanpa menambah beban dan kelelahan yang justru meningkatkan risiko cedera.
Dalam konteks ini, banyak tim telah mengubah cara mengelola fisik pemain sepanjang musim. Intinya adalah mengatur beban latihan dan rangsangan fisik secara terencana agar sesuai dengan kebutuhan tim. Pada saat yang sama, pendekatan ini juga bertujuan mengendalikan kelelahan pemain dan menekan risiko cedera.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/6230953bf4c3ad3403978d1c305c14e5-20260610_H01_ADI_Piala_Dunia_mumed.png)
Perencanaan latihan ini dikenal dengan istilah periodisasi. Dalam sepak bola modern, periodisasi telah menjadi perangkat penting, bahkan seperti pemain ke-12 yang bisa ikut menentukan kemenangan. Pergeseran dari periodisasi atletik klasik menuju model pengelolaan beban latihan seperti sekarang merupakan salah satu kemajuan terbesar dalam sejarah ilmu olahraga.
Selain itu, kepadatan jadwal pertandingan juga mendorong popularitas strategi microdosing. Alih-alih melakukan sesi latihan kekuatan tradisional yang panjang di pusat kebugaran, microdosing memecah latihan menjadi beberapa sesi singkat berdurasi 10 hingga 20 menit yang diintegrasikan ke dalam pemanasan atau pendinginan.
Strategi ini terbukti efektif dalam menjaga level kekuatan pemain sepanjang musim tanpa mengakumulasi kelelahan berlebihan yang dapat mengganggu performa saat bertanding.
Terlepas dari model yang dipilih, keberhasilan implementasi sangat bergantung pada pemantauan beban latihan (load monitoring) menggunakan teknologi seperti GPS. Alat untuk memonitor acute-to-chronic workload ratio digunakan untuk meminimalkan lonjakan beban latihan drastis demi menekan risiko cedera.
Apakah tim Perancis juga menerapkan hal tersebut?
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto, dari New Jersey, Amerika SerikatEditor:
Yulvianus Harjono