Dua pelatih tim raksasa Asia di Piala Asia Futsal 2026 pernah berkarier di Indonesia. Liga Pro Futsal Indonesia menarik minat bintang futsal dunia.
01 Feb 2026 17:16 WIB · Olahraga
KOMPAS/MUHAMMAD IKHSAN MAHAR
Pernahkah Anda membayangkan Indonesia memiliki kompetisi olahraga profesional yang menempa generasi pelatih-pelatih hebat di Asia? Tentu, itu bukan di sepak bola, melainkan di arena futsal.
Piala Asia Futsal 2026 menjadi panggung bagi pelatih anyar di dua tim raksasa Asia. Mereka adalah Jepang dan Thailand yang tengah memugar ulang kekuatan mereka di kawasan.
Jepang, misalnya, menyentuh titik nadir akibat menderita kegagalan menembus babak gugur Piala Asia untuk pertama kali pada edisi 2024 lalu. Sebagai juara Asia empat kali—yang hanya kalah dari 13 trofi milik Iran—capaian itu sangat memalukan.
Tim ”Samurai Lima” bahkan selalu menembus minimal babak semifinal dalam 15 edisi dari 17 partisipasi sebelumnya di pentas futsal terbesar Asia. Hal itu membuat perubahan dilakukan Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) untuk tim futsal mereka.
Kensuke Takahashi ditunjuk sebagai pelatih timnas futsal sejak Juli 2024. Bersama Takahashi, Jepang kembali lolos ke fase perempat final Piala Asia Futsal 2026.
Bersaing di Grup C, Jepang menaklukkan Australia dan Tajikistan untuk menyegel tiket babak gugur dalam dua pertandingan awal. Khusus Tajikistan, Jepang menyimpan memori buruk pada Thailand 2024 karena kalah bersaing dengan tim pecahan Uni Soviet itu di babak penyisihan.
Dalam sudut pandang dunia futsal Indonesia, Takahashi bukan sosok asing. Ia datang ke Indonesia pada 2018 ketika baru berusia 36 tahun untuk mengasuh timnas futsal Indonesia.
Dalam periode 2018 hingga 2021, Takahashi mengemban amanat sebagai juru taktik tim senior putra dan putri serta tim U-20 putra ”Garuda”. Pelatih asal Asahikawa, Jepang, itu memupuk kekuatan baru futsal Indonesia dengan membawa Indonesia menembus final Piala AFF Futsal 2019. Indonesia perlu menunggu selama 11 tahun untuk tampil di partai puncak kejuaraan ASEAN.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/69433bcec9555e4645163e251c2b1f66-IMG_2746.jpeg)
Meskipun tidak memberikan gelar juara, Takahashi membentuk fondasi bagi timnas futsal Indonesia. Pemain-pemain andalan timnas futsal Indonesia saat ini, di antaranya Mochammad Iqbal, Ardiansyah Nur, dan Syauqi Saud, pernah merasakan tangan dingin Takahashi di timnas.
Kemahiran Takahashi di Indonesia membantunya mendapat kepercayaan dari JFA untuk melatih tim U-20 futsal Jepang periode 2021-2024 sekaligus menjadi asisten pelatih tim senior Jepang.
”Saya senang bisa kembali ke Indonesia dan bertemu lagi dengan banyak orang yang saya kenal. Misi saya saat ini adalah mencapai target terbaik bersama Jepang,” tutur Takahashi setelah timnya mengalahkan Australia, Rabu (28/1/2026), di Indonesia Arena, Jakarta.
Rakphol Sainetngam memutuskan pulang kampung ke timnas Thailand setelah lima tahun berkarier di luar negeri, termasuk Indonesia. Ia menangani timnas Thailand mulai 1 Januari 2026 sehingga Piala Asia Futsal 2026 menjadi turnamen perdananya bersama skuad ”Gajah Perang”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/749ab8c823d82122c7fa5db003dc71db-IMG_2726.jpeg)
Sebelumnya, Sainetngam pernah memimpin Thailand di Piala Dunia Futsal 2021. Ia membawa Thailand menembus babak 16 besar.
Di sela periode pertama menangani Thailand, Sainetngam sejatinya menapaki karier apiknya di Liga Pro Futsal Indonesia. Juru latih berbadan gempal itu menangani Black Steel Manokwari pada periode 2020-2023.
Pada musim perdananya melatih tim kebanggaan masyarakat Papua itu, Sainetngam langsung mempersembahkan gelar Liga Pro Futsal musim 2020-2021. Tak sekadar di level nasional, Sainetngam juga mengantarkan Black Steel menjuarai Kejuaraan Klub Futsal ASEAN 2023.
Pada laga final, Black Steel menaklukkan tim asal Thailand, Hongyen Thakam, di Nakhon Ratchasima, Thailand. Itu menjadi gelar level klub tertinggi bagi Sainetngam.
Misi Sainetngam bersama Thailand di periode kedua ini tidak mudah. Ia harus mengembalikan hegemoni Thailand dalam persaingan futsal kawasan ASEAN, lalu mempertahankan capaian menembus final Piala Asia Futsal 2026.
Pengalaman Sainetngam dibutuhkan ketika Thailand takluk beruntun dari Indonesia dalam dua tahun terakhir di Piala AFF Futsal 2024 dan SEA Games 2025. Namun, Sainetngam enggan berfokus pada dua kegagalan itu.
”Saya tidak memikirkan itu. Dengan generasi baru timnas Thailand, saya ingin tim bermain apik di Piala Asia Futsal kali ini. Minimal kami ingin menembus semifinal,” tutur Sainetngam setelah membawa Thailand memuncaki Grup B seusai menaklukkan Vietnam 1-0 di Indonesia Arena, Sabtu (31/1/2026).
Terkait potensi berjumpa timnas Indonesia di ajang internasional, baik Piala Asia Futsal 2026 maupun Piala AFF Futsal 2026 pada April mendatang, Sainetngam menyambut positif hal tersebut.
”Saya mengenal baik beberapa pemain Indonesia yang pernah saya latih. Mereka seperti anak-anak saya. Kami berhubungan baik, tetapi dalam pertandingan kami bersaing,” ujar Sainetngam.
Selain dua pelatih itu, pemain futsal terbaik ASEAN saat ini, Muhamad Osamanmusa, membuka selebar-lebarnya pintu untuk melanjutkan kariernya suatu hari di Liga Pro Futsal Indonesia. Osamanmusa merupakan satu-satunya pemain ASEAN saat ini yang berkarier di Eropa.
Pivot andalan Thailand itu membela klub Spanyol yang rutin tampil di Liga Champions Futsal Eropa, Jimbee Cartagena.
”Saya masih memiliki kontrak dengan klub saat ini. Namun, saya akui kompetisi Indonesia merupakan salah satu yang berkualitas di Asia,” ucap Osamanmusa yang berusia 28 tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/01/d1c1a4c51db2e01ff681a3a91ba13dfa-IMG_2747.jpeg)
Tercatat sudah ada delapan pemain timnas futsal Thailand yang pernah berkarier di Indonesia. Thailand adalah pengekspor pemain futsal terbanyak kedua setelah Iran (12 pemain) sejak Liga Pro Futsal Indonesia digagas pada 2006.
Kondisi dan kualitas futsal Indonesia saat ini sudah diakui di level kontinental. Sebuah capaian yang masih didambakan sepak bola.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul