Pengeluaran dosen perguruan tinggi negeri terus naik, sementara penghasilannya stagnan. Akibatnya, banyak yang tak bisa menabung dan keuangan makin tertekan.
21 Mei 2025 07:00 WIB · Investigasi
Di tengah penghasilan yang stagnan, dosen di Indonesia tak kuasa menahan tingginya pengeluaran bulanan. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, penghasilan yang tidak seberapa itu juga digunakan untuk mencicil utang. Akibatnya, mereka pun sulit menabung.
Fakta ini merujuk hasil survei kualitatif Tim Jurnalisme Data Harian Kompas pada 36 dosen perguruan tinggi negeri (PTN) pada 4-23 April 2025. Rata-rata pertumbuhan penghasilan dosen PTN di bawah kenaikan pengeluaran.
Sebanyak 72,2 persen responden menyatakan, pengeluaran pada 2024 naik dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan yang lainnya menilai stagnan. Rata-rata kenaikan peningkatan pengeluaran sekitar 15,3 persen.
Menurut besarannya, pengeluaran separuh dari responden dosen PTN berada di rentang Rp 3,64 juta-Rp 9,9 juta per orang per bulan. Sebanyak 27,78 persen dosen PTN berada di kelompok pengeluaran Rp 2,04 juta-Rp 3,64 juta per orang per bulan, sedangkan 13,8 persen di rentang Rp 1,56 juta-Rp 2,04 juta per orang per bulan.
Secara individu, sebanyak 50 persen dosen PTN menerima kenaikan penghasilan di bawah peningkatan pengeluran pada 2024. Bahkan, sebanyak 44 persen dosen PTN yang sudah menikah menerima penghasilan yang lebih rendah dibandingkan pengeluaran keluarga.
Dosen tak mungkin mengorbankan kebutuhan keluarga. Arya (44), dosen PTN di Kepulauan Riau, memerinci, gaji pokok yang dia terima sekitar Rp 4,5 juta per bulan. Namun, setiap bulan, dia mengeluarkan Rp 2 juta untuk uang sekolah ketiga anaknya.
”Bagi saya, pendidikan berkualitas adalah kebutuhan. Rumah (yang kami huni) sudah bolong-bolong, tetapi renovasi itu belum menjadi prioritas,” ujarnya.
Dia mesti memutar otak agar sisanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sisa uang itu juga mesti berkelahi dengan harga pangan yang dapat melonjak karena dia tinggal di provinsi kepulauan. Lonjakan itu berasal dari ongkos logistik antarpulau.
Sementara itu, dari survei yang sama, penghasilan dosen, mayoritas (69 persen) berada di rentang Rp 3,64 juta-Rp 9,9 juta. Kemudian di rentang Rp 9,9 juta-17,1 juta ada 22 persen. Sisanya 6 persen berkisar Rp 2,04 juta-Rp 3,64 juta dan 3 persen kurang dari Rp 2,04 juta.
Dibandingkan tahun sebelumnya, rata-rata kenaikan penghasilan dosen PTN pada 2024 sebesar 12,3 persen. Ada pula 30,6 persen responden menyatakan penghasilan mereka stagnan dan 5,6 persen menyebutkan penghasilannya menurun. Penghasilan yang dimaksud merupakan penghasilan tetap dan pekerjaan sampingan dosen.
Di tengah impitan penghasilan dan pengeluaran itu, hampir 60 persen dosen PTN mesti membayar cicilan tiap bulan. Besaran cicilan mayoritas di rentang 10-30 persen dari pengeluaran bulanan. Sebanyak 50 persen dari dosen PTN membayar cicilan itu untuk tempat tinggal pribadi.
Ahmad (31), dosen PTN di Jawa Tengah, menggunakan separuh penghasilannya atau sekitar Rp 2,12 juta untuk membayar cicilan kredit bank. Kredit tersebut digunakannya untuk membeli tanah dan membangun rumah yang ditempatinya sekarang.
Adapun sisa penghasilannya sekitar Rp 2,1 juta digunakannya untuk menutupi pengeluaran lainnya, seperti membayar sekolah anak dan adik Ahmad, biaya transportasi, membeli sembako, dan belanja harian. Akibatnya, penghasilannya sebesar Rp 4,2 juta habis, bahkan cenderung minus tiap bulan.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, Ahmad mencari pekerjaan sampingan sebagai penulis di media online, pembicara seminar dan juri. Tambahan penghasilan keluarga lainnya, didapatkan dari honor istrinya sebagai guru ekstrakurikuler di sebuah SD swasta sebesar Rp 500.000. Namun, itu pun belum bisa menutup biaya pengeluaran bulanan yang Ahmad butuhkan.
Meski demikian, Ahmad yakin akan selalu ada tambahan dana untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. ”Entah gimana, selalu ada dana yang tersedia secara tak terduga. Saya punya keyakinan saja. Pokoknya ada dan kebetulan memang selalu ada,” katanya, pertengahan April lalu.
Sementara itu, 16,7 persen dosen PTN menyatakan tidak dapat menabung dari penghasilan yang diperoleh setiap bulan. Sebanyak 27,8 persen dosen PTN masih bisa menabung kurang dari 10 persen penghasilan. Terdapat 36,1 persen yang menyebutkan dapat menabung sebesar 10-20 persen dari penghasilan bulanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/21/aa75fa0d-cff0-474f-b8c7-0daee8082129_jpg.jpg)
Sayangnya, tabungan itu dapat terkuras. Arya menceritakan, dia baru saja menghabiskan tabungan sebesar Rp 15 juta untuk uang masuk sekolah anaknya pada tahun ajaran baru.
Akademisi Linguistik Terapan Universitas Negeri Jakarta Saifur Rohman menilai tuntutan bekerja dosen sangat banyak, sedangkan penghasilannya belum memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, dosen harus mengambil pekerjaan sampingan. Ia menyarankan supaya dosen mengambil pekerjaan sampingan yang bisa mendukung personal branding seorang dosen.
”Kerja sampingan yang berbau intelektual,” ujarnya.
Meski demikian, tidak mudah juga bagi dosen untuk mencari pekerjaan sampingan yang bisa mendukung personal branding, sekaligus menghasilkan tambahan penghasilan rutin tiap bulan. Seperti Muda (30), dosen ASN di Papua Selatan yang jarang mendapatkan pekerjaan sampingan. Ini karena ia harus bergantian dengan teman-teman dosen yang juga membutuhkan uang tambahan.
Beruntung, awal tahun ini ia mendapatkan sampingan sebagai juri desain festival yang diadakan Pemprov Papua Selatan. Honor itulah yang dipakainya untuk biaya mudik ke Makassar, Sulawesi Selatan, bersama keluarganya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/08/b67150d8-9860-4403-be4c-157a05f7d34b_jpg.jpg)
Dosen yang tidak mendapatkan pekerjaan formal terpaksa bekerja informal seperti yang dilakukan Didi (30), dosen PTN di Jawa Barat. Ia menyambi bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) yang dilakukannya sebelum dan sesudah mengajar.
Didi lebih memilih bekerja sebagai pengemudi ojol karena proyek di luar kampus, menurut dia, tidak pasti dari sisi penghasilan. Adapun saat dia menjadi pengemudi ojol, meskipun hasilnya tidak seberapa, diterimanya rutin setiap hari. Setiap hari ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 100.000-Rp 200.000.
Pekerjaan sampingan di sektor informal, dalam survei kualitatif Kompas mengenai kesejahteraan dosen, ada 5,41 persen dosen yang menjalankannya. Pekerjaan sampingan lainnya adalah sebagai konsultan yang mayoritas (32,4 persen) oleh responden dosen. Kemudian sisanya sebagai pengajar 18,9 persen, peneliti 16,2 persen, penulis 2,7 persen.
Kami ingin mengetahui pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.
Penulis:
Margaretha Puteri Rosalina, M Paschalia Judith J, Albertus KrisnaEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri RosalinaPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul