Penelitian menunjukkan, keterisian transportasi umum di kawasan TOD dipengaruhi penggunaan lahan di sekitar.
30 Jun 2025 20:11 WIB · Metropolitan
Pembaruan sejumlah fasilitas transportasi publik di Jakarta kini berorientasi pengembangan berorientasi transit atau transit oriented development atau TOD. Konsep ini berpotensi meningkatkan minat publik menggunakan transportasi publik hingga membuka lapangan kerja baru.
TOD merupakan konsep perencanaan urban. Titik beratnya pada pembangunan peningkatan akses transportasi.
Konsep itu juga bertujuan menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi hingga berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru.
Awalnya, konsep ini populer di Amerika Serikat. Lalu, TOD mulai diperkenalkan secara global, tidak terkecuali di Jakarta yang kian padat.
Salah satu kawasan yang diproyeksikan untuk TOD adalah Stasiun Tanah Abang di Jakarta Pusat. Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta Ferdian Suryo Adhi Pramono menjelaskan, pembangunan gedung baru Stasiun Tanah Abang menelan biaya Rp 338 miliar.
Biaya tersebut untuk berbagai hal. Mulai dari konstruksi gedung fisik, pengadaan wesel hingga sistem operasional.
Revitalisasi tidak hanya untuk gedung baru. Beberapa tahun ke depan, revitalisasi akan dilanjutkan ke tahap kedua atau ultimate. Tahap itu bakal menerapkan konsep TOD.
Akan tetapi, pengerjaannya masih menunggu keputusan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Alasannya, perlu pengembangan terkait konsep TOD di sekitar stasiun.
Salah satu pengembangannya adalah membangun jembatan yang mengintegrasikan berbagai tempat dengan area concourse. Area itu menjadi tempat terbuka pertemuan para penumpang menuju stasiun.
”Dalam waktu 1-2 tahun ke depan, kami berencana membangun concourse menuju peron 3 dan 4, lalu memperluas layanan di area tersebut,” ujar Ferdian di Jakarta, Kamis (26/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/30/686e4d48096d09469d1ae32fe2a049dc-WhatsApp_Image_2025_06_30_at_13.05.16.jpeg)
Selain Tanah Abang, ada juga TOD yang diresmikan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Nama populernya Blok M Hub.
Gubernur Pramono Anung menjelaskan, kawasan ini menjadi salah satu pusat koneksi antara transportasi umum dan ruang publik di sekitarnya. Aksesibilitas dari pejalan kaki juga diperhatikan agar Jakarta menjadi lebih modern dan inklusif.
Revitalisasi Blok M ini juga menjadi penguatan kawasan tersebut sebagai salah satu pusat Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Kantor pusatnya ada di wilayah itu. Pengembangan TOD ini juga akan dilanjutkan ke kawasan Bundaran Hotel Indonesia.
Dalam pengembangannya, Pemprov Jakarta menggunakan dana kompensasi Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dari pengembang gedung. Dana KLB ini pula yang dipakai mengembangan kawasan publik lainnya, terutama taman-taman kota.
”Selain Blok M, ada Bundaran Hotel Indonesia yang juga akan dibangun TOD-nya. Anggarannya tidak mungkin hanya dari anggaran daerah, tetapi juga dari dana KLB,” ujar Pramono.
Peneliti Desain Urban dari Monash University, Alyas Widita, menjelaskan, konsep TOD di Jakarta penting segera diberlakukan. Bila Indonesia ingin memanfaatkan fenomena urbanisasi untuk meningkatkan perekonomian, penting memaksimalkan peran TOD di dalamnya.
Agar maksimal, pemerintah perlu memahami bagaimana TOD memengaruhi perubahan perilaku masyarakat untuk menggunakan transportasi umum. Namun, pemahaman Indonesia terkait hal ini masih terbatas mengingat TOD menjadi hal baru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/25/760777d1afb88c0fa39cf7d94b315ef5-alyas.jpg)
”Untuk memaksimalkan TOD, perlu kita mengetahui bagaimana konsep ini membawa perubahan,” kata Alyas.
Dalam penelitiannya yang dipublikasikan pada 2024, tipe penggunaan lahan di sekitar kawasan TOD menjadi kunci menumbuhkan jumlah penumpang transportasi umum.
Penelitian yang dilakukan Alyas menelisik penggunaan lahan Kereta Rel Listrik (KRL) di Jakarta Raya, yang meliputi daerah lain, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Penelitian mencoba menunjukkan cara meningkatkan penumpang di tingkat stasiun.
Tim peneliti menggunakan kerangka 3D atau kepadatan (density), keberagaman (diversity), dan desain (design). Hasil penelitian memperkirakan, penambahan 1.000 kesempatan kerja di sekitar area TOD dapat meningkatkan 300 penumpang kereta pada hari kerja.
Dari penelitian ditemukan, tingkat kepadatan ruang komersial dan bisnis di sekitar area dan penggunaan lahan menjadi faktor penting menaikkan jumlah penumpang.
Hanya saja, area sekitar TOD di Jakarta kini lebih banyak dipenuhi permukiman atau pusat perbelanjaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/f19e5f3c1d38762c111c5226fb0be4ff-20250629TOK32.jpg)
Penelitian menunjukkan, hampir 46,4 persen area di sekitar stasiun di Jakarta dikelilingi permukiman atau kampung. Ke depan, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah untuk menata ruang di Jakarta.
Ia menyarankan dalam penelitiannya, penggunaan lahan yang lebih berimbang, yakni untuk komersial, bisnis, pendidikan, hingga perkampungan, akan meningkatan tingkat penumpang hingga tiga kali lipat. Jumlah ini lebih besar jika penggunaan lahan di kawasan TOD hanya homogen atau sedikit jenis saja.
”Penggunaan lahan di sekitar jangan hanya residence-based atau permukiman, tetapi juga tempat bekerja. Memodifikasi penggunaan lahan dan mendesain kawasan yang bisa menumbuhkan kesempatan kerja harus jadi pertimbangan bagi pengembang kawasan TOD,” ujarnya.
Pengembangan TOD diharapkan tidak hanya fokus pada aksesibilitas. Pemerintah perlu berpikir memaksimalkannya demi masa depan transportasi dan peluang pekerjaan bagi semua orang.
Penulis:
Raynard Kristian Bonanio PardedeEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase