Pengendalian Banjir di Jakarta Tetap Jadi Prioritas, Tak Terdampak Pemangkasan Anggaran

Pemprov Jakarta mulai menyiagakan pompa dan sistem drainase untuk mengantisipasi banjir. Di lain sisi, infrastruktur pengendalian banjir dipastikan tetap dikebut.

30 Okt 2025 13:45 WIB · Metropolitan

KOMPAS/PRIYOMBODO

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dany

JAKARTA, KOMPAS — Upaya pengendalian banjir di Jakarta dipastikan tetap menjadi prioritas di tengah pemangkasan dana bagi hasil dari pemerintah pusat. Sejumlah infrastruktur pengendali banjir, seperti kolam retensi dan waduk, dipastikan tetap dibangun.

Sembari mengebut pembangunan infrastruktur pengendali banjir, Pemerintah Provinsi Jakarta mulai mengantisipasi potensi banjir ketika musim hujan datang lebih cepat pada tahun ini. Pompa-pompa banjir dan sistem drainase dioptimalkan agar banjir cepat surut.

Sebagai gambaran, Kali Krukut dan Kali Mampang meluap saat hujan deras pada Rabu (29/10/2025) sore. Luapan air berujung banjir di 35 RT dan satu ruas jalan dengan ketinggian 10-70 sentimeter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jakarta melaporkan banjir surut pukul 22.00 WIB.

”Genangan (banjir) di Jakarta pasti ada. Enggak mungkin hujan terus enggak ada genangan sama sekali,” ujar Gubernur Jakarta Pramono Anung pada Kamis (30/10/2025) seusai meninjau pembangunan Jakarta Sewerage Development Project di Jakarta Utara.

Menurut Pramono, Pemerintah Provinsi Jakarta akan merespons banjir dengan baik dan cepat. Sebagaimana yang ia janjikan berulang kali, semua pompa disiagakan sebelum banjir datang.

Untuk mengantisipasi banjir, Pemprov Jakarta antara lain menyiagakan pompa, mengeruk badan air, dan sistem drainase serta waduk. Langkah ini dimulai sedari awal Oktober di tengah musim hujan yang datang lebih cepat tahun ini.

Anak-anak bermain di genangan banjir di Jalan Pondok Karya, Pela Mampang, Jakarta, Selasa (16/9/2025). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jakarta mencatat per pukul 15.00 WIB, sebanyak 12 RT di Jakarta Selatan terendam banjir akibat curah hujan tinggi. Banjir itu juga diakibatkan meluapnya Kali Mampang. Ketinggian air berkisar 30 sentimeter hingga 70 sentimeter.

Berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air Jakarta per 17 Oktober 2025, terdapat 560 unit pompa stasioner di 191 lokasi dan 627 unit pompa mobile di lima wilayah administratif. Sementara pengerukan waduk, situ, embung, serta sungai dan saluran penghubung hingga pertengahan Oktober mencapai 704.523 meter kubik dari 1.788 titik.

Secara terpisah, Komisi D DPRD DKI Jakarta memastikan program pengendalian banjir tak terdampak pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat kepada Jakarta. Anggaran yang ada dioptimalkan agar program tetap berjalan.

DPRD Jakarta memastikan pembangunan infrastruktur pengendali banjir tetap berjalan, yakni polder atau kolam retensi di 13 lokasi, kemudian waduk/situ/embung di 3 lokasi, dan prasarana/sarana sungai di 9 lokasi masuk dalam quick wins dan program prioritas berdasarkan paparan Strategi Reposturing RAPBD 2026.

Pemprov Jakarta juga berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar sebagian pembiayaan dialihkan Proyek Strategis Nasional (PSN). Pembiayaan ini meliputi pengadaan tanah MRT Jakarta, pembangunan rusunawa, dan infrastruktur pengendali banjir.

Foto udara Ruang Limpah Sungai Lebak Bulus di Jakarta Selatan, Jumat (10/5/2024). Ruang limpah Lebak Bulus berkontribusi terhadap pengendalian banjir di di sekitar daerah aliran sungai (DAS) sungai Grogol, khususnya daerah Ciganjur, Cilandak, Kemang, Petogogan, Kebayoran, dan Palmerah. Waduk ini memiliki kapasitas tampung 44.000 meter kubik air sungai. Ruang limpah sungai (RLS) merupakan bagian dari proyek 942, yaitu pembangunan sembilan polder, empat waduk, dan revitaliasi dua sungai dalam pengendalian banjir di Jakarta. Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta menyelesaikan proyek pengendalian banjir, yaitu pembangunan ruang limpah sungai atau waduk. Selain berfungsi sebagai pengendalian banjir, ruang limpah sungai berfungsi sebagai ruang terbuka hijau dan biru sekaligus ruang publik. RLS berfungsi sebagai kolam retensi ketika sungai mengalami kelebihan daya tampung saat curah hujan tinggi. Sungai tidak mengalirkan air secara maksimal, maka RLS berfungsi sebagai kolam limpasan. RLS mampu mengurangi tinggi permukaan air, sungai tidak akan melimpah pada bagian kiri dan kanan. RLS berpotensi mengurangi sekitar 30 persen terjadinya genangan atau banjir di kawasan sepanjang aliran sungai. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 10-5-2024

Ketua Komisi D DPRD Jakarta Yuke Yurike mengatakan, anggaran di tingkat dinas dan suku dinas mencukupi untuk program utama pengendalian banjir. Ini termasuk tindak lanjut atas berbagai aduan warga, musrenbang, dan aspirasi legislatif.

Selain itu, ada pemeliharaan alat berat untuk pengerukan dan perbaikan saluran air juga harus dijaga dan optimalisasi seluruh proyek tahun jamak (multiyears).

Pemprov Jakarta, misalnya, akan membebaskan 738 bidang tanah untuk kelanjutan normalisasi Kali Ciliwung. Proyeknya dilaksanakan secara bertahap sampai tahun 2027.

Selain normalisasi Kali Ciliwung, berlangsung optimalisasi waduk/situ/embung dan penerapan sistem polder. Terdapat 47 waduk/Situ/embung sebagai tempat penampungan sementara untuk mengurangi limpasan air.

Berikutnya ada 52 polder dari target 70 polder dalam masterplan pengendalian banjir. Polder-polder ini merupakan sistem untuk membantu suatu area mengalirkan air dengan cara dipompa.

Terakhir dengan adopsi sistem SCADA (supervisory control and data acquisition). Teknologi ini untuk memantau dan mengendalikan sistem pompa secara otomatis dari jarak jauh, serta mengumpulkan data secara waktu nyata (real time) yang berguna dalam pengembangan pemodelan banjir, membantu analisis, dan early warning system (EWS).

Petugas Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Pusat mengeruk lumpur menggunakan beko di anak Kali Krukut, kawasan Kebon Melati, Jakarta, Kamis (24/7/2025). Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Pusat menggelar gerebek lumpur di kawasan Kebon Melati untuk mencegah pendangkalan. Pengerukan ini sebagai upaya pencegahan banjir di kawasan tersebut. Pengerukan yang mulai dilakukan sejak 17 Juni 2025 ini menerjunkan 4 alat berat dengan jenis spider backhoe untuk mengeruk lumpur di aliran anak Kali Krukut. Panjang pengerukan kali sekitar satu kilometer, dimulai dari Jalan Lontar Raya hingga Pintu Air Krukut. Pengerukan ini sedikit terkendala dengan banyaknya rumah warga di bantaran kali



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

24-07-2025

Ketahanan kota

Upaya-upaya pengendalian banjir penting agar Jakarta makin layak huni. Apalagi, menurut lembaga riset dan konsultan ekonomi internasional, Kearny, metropolitan ini masih harus meningkatkan penggunaan energi terbarukan, resiliensi kota melalui pengelolaan banjir dan ruang hijau, serta menyiapkan talenta dalam bidang akal imitasi atau kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk masuk top kota global.

Jakarta naik ke peringkat ke-71 kota global berdasarkan Global Cities Index 2025 oleh Kearney. Sebelumnya kota ini menempati urutan ke-74 ke ke-71 dari 158 kota.

Global Cities Index mengukur lima dimensi standar, yakni aktivitas bisnis, sumber daya manusia, pertukaran informasi, pengalaman budaya, dan keterlibatan politik.

Kenaikan tersebut mencerminkan kemajuan daya saing melalui kerja teknokratik dan kolaborasi masyarakat pada satu sisi. Namun, di sisi lain masih ada banyak pekerjaan rumah.

Jakarta disebut unggul dalam dimensi business activity (naik 3 posisi) melalui konektivitas transportasi publik (91-92 persen) dan perdagangan regional yang didukung proyek MRT Jakarta dan LRT Jakarta.

Sementara dimensi human capital naik 2 posisi. Ini membaik seiring aksesibilitas tenaga kerja dan pelatihan vokasi. Namun, Jakarta masih harus mengejar dimensi information exchange (adopsi digital), cultural experience (wisata berkelanjutan), dan political engagement (partisipasi global).

Kearney menekankan tiga enabler kunci, yaitu energi terbarukan, resiliensi kota (pengelolaan banjir, ruang hijau), dan talenta siap AI. Pemprov Jakarta mengupayakan ketiga hal di atas melalui program solar panel, normalisasi sungai, dan pelatihan digital.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dany
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan