Penghindaran Berita dan Paparan Berita Tak Sengaja

Aspek yang tak dapat ditinggalkan adalah membuat media tetap relevan bagi pembaca masa kini harus didukung dengan riset atau survei yang relevan.

12 Mei 2025 11:59 WIB · Opini

Oleh Ignatius Haryanto

Dalam perkembangan studi yang terkait dengan audiens media saat ini, ada dua fenomena yang perlu dicermati di industri media belakangan ini, yaitu fenomena penghindaran berita (news avoidance) dan fenomena paparan berita secara tak sengaja  (incidental news exposure).

Memahami dua fenomena ini mungkin bisa membantu kita memahami fenomena yang berkembang dalam industri media saat ini dan syukur-syukur bisa mencari celah untuk mendapatkan kembali pembaca-pembaca baru ke depannya.

Penghindaran berita

Penghindaran berita adalah fenomena yang terus meningkat belakangan ini, di mana perusahaan kehilangan banyak audiensnya.

Secara umum, hal ini menjadi ancaman bagi demokrasi karena warga masyarakat yang kurang memiliki informasi memadai tidak memiliki modal informasi yang cukup ketika mereka dihadapkan pada fenomena politik, seperti pemilihan umum. Di sisi lain, dengan model bisnis yang menekankan pada pendapatan iklan yang terus menurun, hal ini juga membahayakan demokrasi, karena media lalu akan kehilangan jurnalis profesional yang juga menjalankan peran mereka dalam proses demokrasi (Skovgaard & Andersen, 2019).    

Survei tahunan yang dilakukan oleh Reuters Institute dalam Digital News Report terakhir, tahun 2024, menyebutkan fenomena ini secara global menunjukkan peningkatan.

Ada empat dari sepuluh orang secara global (39 persen) yang mengatakan bahwa mereka sering menghindari berita. Kenaikan tiga persen tahun lalu disumbang angka dari Brasil, Spanyol, Jerman, dan Finlandia. Responden yang ditanya menyebutkan bahwa jumlah berita yang sangat banyak terkait dengan konflik di Ukrania dan Timur Tengah menyumbang angka penghindaran berita yang meningkat.

Sementara itu, dari sumber lain disebutkan, ada banyak negara yang mengalami kenaikan jumlah penghindaran berita di negaranya. Seperti di Korea Selatan, jumlahnya mencapai 73 persen dari responden yang diteliti. Di Belanda hanya ada 11 persen responden yang dianggap menghindari berita dan di Swedia 15 persen.

Di dua negara Eropa Barat ini, relatif lebih sedikit terjadi fenomena penghindaran berita ketimbang di Korea Selatan (Skovgaard & Andersen, 2019).

Dalam penelitian terkait penghindaran berita, Skovgaard dan Andersen mengusulkan untuk dilakukan pembedaan antara mereka yang sengaja menghindari berita (intentional news avoidance) atau tidak sengaja menghindari berita (unintentional news avoidance).

Penyebab penghindaran berita secara sengaja adalah karena pemberitaan yang ada dianggap terlalu negatif, lalu rendahnya kepercayaan pada berita di media, serta karena berita yang dianggap terlalu banyak (overload). Adapun fenomena menghindari berita secara tidak sengaja disebabkan oleh semakin banyaknya suplai media dan terjadinya personalisasi berita lewat algoritma.

Untuk solusi yang diusulkan oleh Skovgaard dan Andersen terhadap fenomena penghindaran berita secara sengaja adalah adanya jurnalisme yang konstruktif, peliputan yang berbasis fakta, serta adanya transparansi dalam proses pembuatan berita. Dan, terakhir adalah kurasi terhadap berita yang ada atau mengonsumsi jurnalisme telaten (sebagai terjemahan dari slow journalism).

Adapun untuk solusi bagi fenomena berita yang dihindari secara tidak sengaja adalah pencampuran antara berita dan hiburan, atau penggunaan algoritma yang berbasis pada kepentingan publik.

Dari penelitian lain dengan topik yang sama soal penghindaran berita, kita bisa melihat apa saja topik yang dihindari masyarakat ketika terjadi fenomena penghindaran berita ini.

Penelitian Schafer, Betakova, dan Lecheler (2024), yang berfokus meneliti masyarakat Austria, menemukan banyak topik yang membuat masyarakat lalu menghindari berita: topik soal Covid-19, politik dalam negeri, politik luar negeri, masalah kekerasan, masalah migrasi, perubahan iklim, topik perang/teror, dan berita negatif.

Paparan berita secara tidak sengaja

Fenomena lain yang juga perlu dipahami saat ini adalah fenomena paparan berita secara tidak sengaja (insidental news exposure), atau sejumlah peneliti lain menyebut fenomena ini sebagai ”news find me”.

Kedua istilah merujuk pada fenomena yang sama, yaitu seseorang atau sekelompok masyarakat yang terpapar pada berita secara tidak sengaja, atau diandaikan bahwa berita-lah yang datang pada dirinya, bukan sebaliknya.

Fenomena ini menggambarkan bahwa tak ada usaha secara aktif dilakukan seseorang atau sekelompok masyarakat itu untuk mencari berita, dan paparan pada dirinya terjadi lewat unggahan-unggahan dari media sosial. Bukan dengan mendatangi secara langsung pada situs-situs pemberitaan. Apa yang viral di media sosial, itulah yang kemudian mampir pada dirinya.

Ada banyak riset yang sudah dilakukan terkait dengan fenomena ini, beberapa di antaranya, misalnya, adalah Zhang dan Jiang (2024) dan Zuniga, Strauss & Huber (2020).

Paparan berita secara tidak sengaja membuat audiens media kemudian bersifat pasif, menerima begitu saja berita yang masuk pada dirinya, tergantung algoritma media sosial yang bekerja pada akunnya.

Di sini audiens tidak aktif mencari informasi dengan berkunjung pada situs-situs berita, tetapi pasrah dengan apa yang hadir pada linimasanya. Belum tentu juga informasi yang ada itu pun cocok atau relevan untuk dirinya, tetapi dalam logika algoritma, itulah berita yang populer saat itu, dan mungkin saja keesokan hari topik lain yang disodorkan pada dirinya.

Kepasifan audiens dalam kacamata Demokrasi Liberatif ala Jurgen Habermas dilihat sebagai kemunduran, karena Habermas mengandaikan warga masyarakat yang aktif mencari informasi untuk membuat dirinya memiliki pengetahuan yang cukup dan dapat diandalkan, sebelum membuat pilihan-pilihan politis atas berbagai hal.

Warga yang tidak peduli akan membuat kualitas demokrasi jadi menurun karena proses pengambilan keputusan tidak didasari atas informasi yang lengkap, mendalam, kritis, dan dapat dipercaya.

Menemukan pembaca baru

Industri media perlu memahami dua fenomena di atas dan mencoba menggali lebih dalam, bagaimana persisnya dua fenomena ini berjalan di Indonesia, dan pertanyaan selanjutnya, apa yang bisa dilakukan untuk menyiasati dua fenomena tadi?

Pasrah pada algoritma media sosial? Memperbanyak akun media sosial? Atau menyiasati dengan suguhan berita yang lebih bersahabat dengan kalangan pembaca masa kini? Ataukah ada jalan lainnya?

Strategi-strategi tentu saja bisa dibuat oleh masing-masing media yang ada sesuai dengan karakteristik audiens masing-masing. Aspek yang memang tak dapat ditinggalkan saat ini adalah bahwa membuat media tetap relevan bagi pembaca masa kini harus didukung juga dengan berbagai riset atau survei yang relevan. Memahami dua fenomena tadi adalah bagian dari upaya tersebut.

Ignatius Haryanto Pengajar Jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Tangerang


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Haryanto
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto