Jeda pertempuran 10 jam di Gaza dimanfaatkan untuk distribusi bantuan kemanusiaan.
28 Jul 2025 09:37 WIB · Internasional
Dua pesawat milik angkatan udara Jordania dan satu pesawat Hercules Uni Emirat Arab berputar-putar di atas reruntuhan kota Gaza. Ribuan warga Palestina di bawahnya memperhatikan sambil melambaikan tangan. Tak lama pesawat mulai menjatuhkan bantuan kemanusiaan dengan parasut yang disambut sorak-sorai warga. Mereka berlarian menuju lokasi jatuhnya bantuan, berusaha menjadi yang pertama.
Walaupun sempat ditentang dengan alasan keamanan, pemberian bantuan yang dijatuhkan lewat udara akhirnya dilaksanakan sebagai upaya untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit dijangkau dari darat. Jordania dan UEA menyalurkan bantuan lewat udara, melengkapi organisasi bantuan lain yang memberi bantuan lewat darat.
Militer Israel memberlakukan ”jeda taktis” dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 20.00 di Kota Gaza, Deir al-Balah, dan Muwasi, yang semuanya berpenduduk besar. Ini bertujuan untuk memberi kesempatan bantuan kemanusiaan masuk ke tiga wilayah tersebut. Jeda pertempuran terbatas selama 10 jam sehari dimanfaatkan oleh organisasi kemanusiaan dan negara-negara lain untuk membantu mengatasi bencana kelaparan di Gaza.
Foto-foto anak-anak Gaza yang kurus kering telah memicu kritik terhadap Israel, termasuk dari sekutunya yang menyerukan diakhirinya perang. Sebelumnya, Israel membatasi bantuan kepada penduduk Gaza yang berjumlah lebih dari 2 juta jiwa karena menuduh Hamas menyedotnya untuk memperkuat kekuasaannya. Perang yang telah berlangsung selama 21 bulan membuat sebagian besar penduduk Palestina kini bergantung pada bantuan asing.
Di malam hari, lepas dari jeda pertempuran terbatas selama 10 jam, serangan terus berlanjut. Sedikitnya 41 warga Palestina dari Sabtu malam hingga Minggu, termasuk 26 orang yang sedang mencari bantuan, tewas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/28/af86c289-421e-4f49-9e26-566e0e6d3732_jpg.jpg)
Setelah mengakhiri gencatan senjata terakhir pada Maret, Israel menghentikan masuknya makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan pasokan lainnya ke Gaza selama 2,5 bulan. Penghentian pasokan bantuan ini untuk menekan Hamas agar membebaskan para sandera. Hamas diperkirakan masih menyandera 50 orang di Gaza di mana lebih dari separuhnya diyakini telah tewas.
Di bawah tekanan internasional, Israel sedikit melonggarkan blokade pada Mei. Sejak itu, rata-rata 69 truk per hari jauh di bawah 500-600 truk yang menurut PBB dibutuhkan. PBB mengatakan tidak dapat mendistribusikan banyak bantuan karena massa dan geng yang kelaparan mengambil sebagian besar bantuan dari truk.
Dalam upaya mengalihkan pengiriman bantuan dari kendali PBB, Israel telah mendukung Yayasan Kemanusiaan Gaza yang terdaftar di Amerika Serikat yang membuka empat pusat distribusi. Namun, lebih dari 1.000 warga Palestina tewas dalam upaya pencarian makanan di sekitar lokasi tersebut.
Rumah Sakit Awda di Nuseirat menyatakan, pasukan Israel menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk empat anak-anak dan seorang wanita, dan melukai 101 orang saat mereka menuju lokasi distribusi bantuan GHF di Gaza tengah. Militer Israel mengatakan telah melepaskan tembakan peringatan untuk mencegah para penjarah mendekati lokasi pusat distribusi bantuan sebelum jam buka.
Tiga belas orang lainnya tewas saat mencari bantuan di tempat lain, termasuk Kota Gaza barat laut, tempat lebih dari 50 orang terluka, dan di dekat pelintasan Zikim tempat lebih dari 90 orang terluka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/25/1b32817b-1e53-4522-98c6-401215b85db6_jpg.jpg)
Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu menyebut gambar anak-anak kurus kering dan kekurangan gizi di Gaza ”mengerikan”.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto