Akhir perang Iran yang berkecamuk sejak 28 Februari 2026 menemukan titik terang. AS dan Iran menyepakati 14 poin perdamaian untuk menghentikan perang.
19 Jun 2026 08:00 WIB · Internasional
AFP PHOTO / @EmmanuelMacron
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
1. Bagaimana kronologi kesepakatan perdamaian AS-Iran?
2. Apa saja poin-poin kesepakatan untuk menghentikan perang?
3. Mengapa pejabat AS marah dengan kesepakatan ini?
4. Bagaimana respons pasar keuangan global terhadap kesepakatan perdamaian AS-Iran?
5. Apa harapan Indonesia terhadap kesepakatan perdamaian itu?
Upaya mendamaikan Amerika Serikat dan Iran dilakukan secara maraton. Sebelum kedua negara menandatangani kesepakatan sementara untuk menghentikan perang, Rabu (17/6/2026), perundingan telah digelar beberapa kali dengan melibatkan sejumlah pihak.
Bahkan, sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, yang menjadi pemicu perang, Oman telah mengupayakan perundingan pada 6 Februari 2026. Delegasi kedua negara tidak bertemu secara langsung, tetapi melalui perantara Oman. Perundingan dilanjutkan di Geneva, Swiss, pada 17 Februari 2026. Isu utama yang dibahas meliputi program nuklir dan pembatasan rudal balistik Iran.
Akan tetapi, tak ada kesepakatan berarti yang tercapai. Perang pun pecah. Pakistan kemudian mengambil peran krusial dalam menjembatani negosiasi. Perundingan digelar di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada 11 April 2026. Namun, kesepakatan tak kunjung tercapai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/29/aa04fecffdfd2373c20434636d25c37e-wires_photo_47.jpg)
Pakistan tak menyerah. Komunikasi dengan pejabat AS dan Iran terus dilakukan. Pada 13 Juni 2026, Pakistan mengumumkan AS dan Iran telah menyepakati kerangka kerja untuk kesepakatan perdamaian. Empat hari berselang, Pakistan kembali mengumumkan kedua negara telah menandatangani kesepakatan sementara untuk menghentikan perang.
Terdapat 14 poin kesepakatan perdamaian AS-Iran dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani secara elektronik dan jarak jauh oleh presiden kedua negara. Ini membuka jalan bagi periode negosiasi yang lebih luas selama 60 hari.
Poin-poin kesepakatan meliputi berbagai isu, mulai dari penghentian perang, pembukaan blokade Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, rekonstruksi Iran, hingga program nuklir Iran. Pada poin pertama disebutkan, AS dan Iran menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon. Kedua pihak berjanji untuk tidak memulai perang atau operasi militer apa pun dan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain.
Kesepakatan pencabutan blokade Selat Hormuz disebutkan dalam poin keempat dan kelima. AS akan mencabut blokade angkatan lautnya dan segala gangguan atau hambatan terhadap Iran. Sementara Iran akan melakukan pengaturan dengan upaya terbaik untuk memastikan jalur aman bagi kapal-kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari dari Teluk Persia ke Laut Oman dan sebaliknya.
Poin keenam menyebutkan komitmen AS dengan mitra regional setidaknya 300 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 5.000 triliun untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. AS juga berjanji untuk mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran.
Penegasan Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir tertera dalam poin kedelapan. AS dan Iran sepakat untuk menyelesaikan pembuangan material yang diperkaya sesuai dengan mekanisme yang akan disepakati bersama di bawah pengawasan IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional).
Iran dianggap memperoleh banyak keuntungan dari kesepakatan perdamaian ini. Keuntungan utama Iran ialah dapat kembali menjual minyak di pasar dunia secara legal. AS akan menerbitkan pengecualian sanksi untuk ekspor minyak mentah Iran, produk minyak, turunannya, dan layanan terkait.
Sejumlah politisi di AS marah dengan kesepakatan AS-Iran. Mereka menyebut, pemerintahan Trump menghabiskan miliaran dolar AS tanpa mendapatkan apa-apa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/c3d0d68f2afd239a79f258f53a51fb40-wires_photo_1_.jpg)
Dalam laporan pada Mei 2026, Departemen Pertahanan AS membenarkan biaya perang setidaknya 29 miliar dolar AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak merinci biaya itu. AS harus menembakkan ribuan rudal dan bom untuk menyerang Iran.
Sejumlah pihak menilai tak satu pun target atau batasan AS tercapai setelah kesepakatan diteken. AS mempunyai banyak tujuan selama menyerang Iran, seperti mengganti pemerintahan di Iran, menghancurkan kemampuan nuklir dan rudal Iran, dan menolak mencabut sanksi ekonomi kalau Iran tak melucuti nuklir dan rudalnya.
Iran juga harus membayar mahal perang yang berkecamuk sejak 3,5 bulan lalu. Banyak infrastruktur militer dan sipil Iran hancur akibat serangan AS-Israel. Iran juga kehilangan banyak warga dan pemimpin. Korban serangan AS termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan para jenderal Iran.
Pasar keuangan dan ekonomi global merespons positif kesepakatan perdamaian AS-Iran. Harga minyak dunia yang sempat naik hampir 50 persen dibandingkan sebelum perang langsung turun. Sementara harga emas menguat.
Harga minyak Brent pun turun 4 persen atau sekitar 3,45 dolar AS menjadi 83,88 dolar AS per barel, Senin (15/6/2026). Adapun harga minyak West Texas Intermediate turun lebih dari 4,6 persen atau sekitar 3,95 dolar AS menjadi 80,93 dolar AS per barel.
Harga emas naik lebih dari 2 persen pada hari yang sama. Harga emas spot naik 2,5 persen menjadi 4.322,87 dolar AS per troy ounce. Level itu menjadi yang tertinggi sejak 9 Juni 2026. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus naik 2,5 persen menjadi 4.344,80 dolar AS per troy ounce.
Logam mulia lain juga menguat. Harga perak spot naik 3,6 persen menjadi 70,39 dolar AS per troy ounce, platinum naik 3,3 persen menjadi 1.773,70 dolar AS, dan paladium menguat 3,3 persen menjadi 1.324,75 dolar AS.
Penutupan Selat Hormuz secara berkepanjangan akibat perang Iran telah berdampak buruk terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Distribusi energi global tersendat akibat blokade di selat itu. Harga minyak dunia pun melambung.
Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta mengatakan, poin utama dari kesepakatan damai AS-Iran terkait pembukaan Selat Hormuz. ”Kami berharap poin itu pertama yang bisa direalisasikan supaya arus lalu lintas perdagangan dan logistik kembali normal terlebih dulu. Karena kalau berlangsung lebih lama, dampak bagi Indonesia secara fiskal akan sangat berat,” kata Anis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
Anis mengatakan, Pemerintah Indonesia mendukung semua proses perdamaian yang berlangsung di Timur Tengah. Indonesia mengapresiasi kedua pihak yang bertikai akhirnya mencapai satu kesepakatan damai sebagai dasar untuk memulai perundingan lebih lanjut.
Akan tetapi, menurut Anis, ada satu faktor yang mengancam kesepakatan damai AS-Iran. Israel tidak berhenti melancarkan serangan ke Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, di Lebanon. Padahal, Hizbullah masuk dalam syarat kesepakatan damai yang diusulkan Teheran.
”Saya kira penting bagi AS sekarang untuk benar-benar mengatasi potensi gangguan Israel. Jika tidak, ada persoalan dari sisi Iran yang tidak lagi memercayai semua proses negosiasi yang ada,” ujar Anis.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase