Penguatan STEM Sejak SD Harus Seimbang dengan Ilmu Sosial

Sebelum mengajarkan teknis terkait akal imitasi dan ”coding” kepada anak SD, penanaman nilai moral dan etika tentang perkembang teknologi tersebut perlu didahulukan.

22 Nov 2024 12:42 WIB · Nasional

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah diharapkan menaruh fokus yang seimbang dalam porsi pengajaran ilmu sosial dan sains pada pendidikan dasar dan menengah. Kolaborasi antardisiplin ilmu dapat menghasilkan generasi muda yang tidak hanya maju di bidang sains, tetapi juga melek isu sosial.

Peneliti isu masyarakat digital sekaligus Deputi Sekretaris Center for Digital Society (CfDS) Fisipol Universitas Gadjah Mada Iradat Wirid mengatakan, individu yang memiliki kemampuan sains, technology, engineering, and mathematic (STEM) dan bisa tumbuh dengan kultur ilmu sosial yang baik akan menjadi generasi emas bermartabat sebagai pendorong kemajuan bangsa.

”Pemahaman ilmu sosialnya tetap harus diperkuat di dalam level yang sama supaya tidak kehilangan arah dan tidak apatis,” kata Iradat, Jumat (22/11/2024).

Iradat menyampaikan hal tersebut merespons rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang ingin menerapkan mata pelajaran akal imitasi (AI) dan pengkodean (coding) sejak SD. Gagasan ini baik untuk membuka ruang eksplorasi anak, tetapi perlu diperhitungkan dengan baik agar tidak menambah beban anak.

Menurut dia, bekal yang pertama kali harus diberikan kepada siswa adalah logika berpikir agar tercipta pemecahan masalah yang baik. Ahli pemrograman harus dapat menyelesaikan masalah secara berurutan dalam sistem coding serta pengajaran moral mengenai kesabaran dan ketelitian tinggi sehingga tidak perlu mengulang pekerjaan dari awal.

”Materi ajar harus sesuai dengan kapasitas anak. Siswa harus diberi pemahaman hakikat dari proses agar tidak terjebak dengan keinstanan AI,” ucapnya.

Namun, sebelum mengajarkan teknis terkait teknologi tersebut, penanaman nilai moral dan etika perlu didahulukan. Anak harus bijak menggunakan AI dan menghargai orang lain dalam ranah hak dan privasi. Ini bagian dari literasi digital yang harus diberikan kepada anak.

Pembelajaran coding secara teknis dapat dikemas dengan konsep belajar sambil bermain. Jika kapasitas anak tergolong mampu, dapat dilakukan praktik pembuatan gim sederhana untuk jenjang SMP atau SMA.

”Diajarkan saja dengan metode-metode yang menyenangkan, sesuai dengan kapasitas usianya. Jangan membebani dengan tuntutan harus jadi coder di usia segitu,” tutur Iradat.

Siswa SMP Prima Cendekia Islami, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat mempresentasikan hasil pembelajaran coding mereka kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat kunjungan kerja ke sekolah mereka Rabu, 20 November 2024.

Selain itu, gagasan ini sebaiknya dipersiapkan dengan matang dan tidak terburu-buru agar bisa merata ke semua sekolah di Indonesia. jika program ini hanyalah pilot project, ia menilai agar sampel percobaannya tidak hanya membidik sekolah di kota-kota besar dan sekolah yang sudah maju saja.

”Kalau nanti hanya memilih di sekolah yang bagus, itu berarti cherry picking,” ucapnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjelaskan, pemerintah berencana mulai memperkenalkan kelas AI dan coding sebagai mata pelajaran pilihan di tingkat SD dan SMP di tahun ajaran yang akan datang. Kebijakan masih dikaji dengan menimbang kesiapan masing-masing sekolah juga gurunya serta sarana dan prasarananya.

Mata pelajaran coding akan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran prakarya atau keterampilan. Dengan demikian, proyek-proyek prakarya siswa dapat berfokus pada pengembangan aplikasi atau program sederhana.

Quote

AI dan coding tentu tidak mulai dari kelas I, mungkin bisa dari kelas IV, kelas V atau kelas VI SD.

”Tentu tidak mulai dari kelas I, mungkin bisa dari kelas IV, kelas V atau kelas VI,” kata Mu’ti saat kunjungan kerja ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (20/11/2024).

Abdul Mu’ti menyebut, mata pelajaran coding bukanlah mata pelajaran yang baru. Sebab, banyak sekolah yang sudah menerapkannya. Dari total 388 satuan pendidikan di tingkat SMP di Kabupaten Bandung, 35 SMP negeri dan swasta telah melaksanakan mata pelajaran coding sebagai mata pelajaran pilihan, salah satunya adalah SMP Prima Cendekia Islami, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Guru-guru anak usia dini mengikuti pelatihan coding atau pemrograman yang diadakan Rumah Edukasi di Universitas Tarumanagara, Jakarta, 23 Februari 2019.

Kepala Sekolah SMP Prima Cendekia Islami Beny Saputro mengungkapkan, mata pelajaran coding bagian dari kebutuhan perkembangan teknologi yang bisa dikuasai anak zaman sekarang. Mata pelajaran coding sudah dilaksanakan sejak berdirinya SMP Prima Cendekia Islami pada tahun 2021 dengan lebih mengutamakan praktik dibandingkan teori.

”Jadi pembelajarannya secara dominan berupa praktik baik membuat laman, permainan, film, dan juga membuat makalah. Itu semua dilakukan oleh siswa-siswa di sekolah kami,” kata Beny.

Guru informatika SMP Prima Cendekia Islami, Sofhia Nabilah, menambahkan, proses mengajarkan dan menjelaskan AI dan coding ke anak-anak remaja secara detail perlu kesabaran agar anak-anaknya bisa mengerti dengan mudah.

”Berkat dukungan orangtua siswa serta fasilitas pembelajaran sudah memadai, anak-anak sangat semangat untuk belajar coding,” ujar Sofhia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra