Penyintas erupsi Semeru masih menempati lokasi pengungsian saat malam tiba. Mereka juga mendapatkan layanan "trauma healing” dan kesehatan.
21 Nov 2025 09:41 WIB · Lingkungan
Kompas/Bahana Patria Gupta
LUMAJANG, KOMPAS — Warga terdampak erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih bertahan di pengungsian. Mereka menempati sejumlah lokasi pengungsian kala malam tiba, sedangkan saat pagi hingga sore hari, sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing. Mereka mengais barang-barang yang tersisa bagi yang rumahnya rusak dan mengolah lahan.
Titin (30), salah satu pengungsi yang menempati SDN 04 Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, merupakan salah satu yang masih bertahan di pengungsian bersama suami dan anaknya. Bahkan, Jumat (21/11/2025) pagi, suaminya mesti mengambil kasur dari rumahnya di Dusun Gumukmas, Desa Supiturang.
Kasur itu akan dipakai sebagai alas tidur dua anaknya, yang salah satunya masih berumur 2 tahun. ”Kasihan anak saya yang masih kecil. Jadi ambil kasur untuk melapisi karpet yang dua malam dipakai alas istirahat. Kalau keperluan lain sudah tercukupi, makan dan lainnya,” ujarnya.
Rumah Titin baru saja selesai direnovasi dan kondisinya tidak mengalami kerusakan. Namun, lokasinya berada di ujung, di pinggir Sungai Curah Kobokan. Dia khawatir, dalam situasi seperti saat ini, bahaya mengancam sewaktu-waktu, khususnya banjir lahar hujan.
Di lokasi pengungsian, sejumlah sukarelawan juga memberikan pelayanan kesehatan, baik fisik maupun psikis. Trauma healing dilakukan oleh pihak kepolisian hingga sukarelawan. Tim Emergensi Disaster Univesitas Brawijaya memberikan layanan pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan. Mereka juga memberikan pelayanan trauma healing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/5a5007195bc0aebeb1bd928b672f77a9-20251121BAH4.jpg)
”Secara psikis, mereka cukup stabil. Mungkin ada yang sedih karena kehilangan tenpat tinggal, tetapi tidak ada yang sampai depresi. Kalau anak, saya lihat enggak ada yang menyendiri. Pas diajak main antusiasnya cukup tinggi,” ujar Breanna Andrea dari Fakultas Kedokteran Univesitas Brawijaya.
Nurliza P dari Ilmu Keperawatan Univesitas Brawijaya menambahkan, pihaknya lebih mendengarkan cerita anak-anak penyintas dan mengajak bermain dan bernyanyi bersama. Menurut dia, anak-anak yang awalnya tidak ada kegiatan kemudian merasa senang. ”Kalau dari sisi kesehatan fisik, lebih ke batuk pilek dan demam. ISPA lumayan banyak, termasuk nyeri badan,” katanya.
Berdasarkan data di Pos Lapangan Tanggap Darurat Bencana Erupsi Semeru di kantor Kecamatan Pronojiwo, pada 19 November tercatat ada 963 pengungsi yang terdiri 807 orang di wilayah Pronojiwo dan 156 orang di Candipuro. Namun, pada 20 November, berdasarkan data sementara, Jumat pagi, ada 645 orang (di wilayah Pronojiwo), dengan rincian 192 orang di SMP 02 Pronojiwo, 214 orang di SDN 02 Supiturang, dan 239 orang menyebar di rumah penduduk.
Wilayah Kecamatan Pronojiwo mengalami dampak terparah dalam erupsi kali ini. Jumlah total kerusakan bangunan mencapai 200-an unit, tetapi yang rusak parah atau lenyap akibat diterjang awan panas guguran sebanyak 21 unit. Kerusakan terparah di Dusun Sumbersari (wilayah Kamar A dan Umbulan) Desa Supiturang.
Sementara itu, dikutip dari lama magma.esdm.go.id, aktivitas Semeru sepanjang Kamis (20/11/2025) terjadi 134 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10-22 milimeter selama 61-141 detik, 1 kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 22 mm dengan lama gempa 300 detik, dan 61 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-25 mm dengan lama 29-133 detik.
Selain itu, juga terjadi 11 kali gempa embusan dengan amplitudo 3-8 mm, 2 kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 10-25 mm, S-P 2-3 detik dan lama gempa 17-24 detik, 3 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8-30 mm, S-P 38-51 detik dengan lama gempa 51-77 detik. Serta 1 kali getaran banjir dengan amplitudo 25 mm selama 6.829 detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/b2ac2179b3ae189e49b6c0ddbd7b30b7-20251121BAH9.jpg)
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih merekomendasikan agar warga tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara, di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari sempadan sungai, di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
Warga juga tidak imbau tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar). Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Sementara itu, seluruh pendaki yang sempat berada di kawasan Ranu Kumbolo saat erupsi Semeru, Kamis, berasil turun dengan selamat. Total ada 187 pendaki dan tiba secara bertahap di pos perizinan pendakian di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro.
Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit mengatakan, pemantauan dilakukan oleh tim Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bersama unsur SAR gabungan setelah aktivitas vulkanik Semeru meningkat. Pihak Balai Besar TNBTS telah menutup pendakian sejak Rabu (19/11/2025) malam atau beberapa jam setelah Semeru erupsi.
”Setelah didata ulang oleh petugas TNBTS, seluruh pendaki telah turun dari Ranu Kumbolo dalam kondisi sehat dan aman. Mereka tiba secara bertahap sejak pukul 12.14,” ujar Nanang.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan